Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Uang Primer Tumbuh 7 Persen pada Oktober 2026, Tembus Rp2.265,4 T

4 min read
Uang Primer Tumbuh 7 Persen pada Oktober 2026, Tembus Rp2.265,4 T
ilustrasi cadangan devisa (unsplash.com/ Viacheslav Bublyk)
  • Uang primer adjusted mencapai Rp2.265,4 triliun pada Oktober 2026, tumbuh 7 persen secara tahunan namun melambat dari 9,3 persen pada September.
  • Pertumbuhan M0 ditopang uang kartal yang naik 11,5 persen, sementara giro bank umum di BI terkontraksi 2,4 persen secara tahunan.
  • Kredit perbankan September tumbuh 13,26 persen menjadi Rp9.245 triliun, sedangkan DPK naik 8,22 persen; likuiditas, kualitas kredit, dan permodalan bank dinilai tetap memadai.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Bank Indonesia (BI) mencatat uang primer atau base money (M0) adjusted tumbuh 7 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada Oktober 2026. Dengan perkembangan tersebut, posisi uang primer tercatat sebesar Rp2.265,4 triliun.

Meski tumbuh positif, laju pertumbuhan uang primer tersebut melambat dibandingkan bulan sebelumnya. Pada September 2026, M0 adjusted masih tumbuh sebesar 9,3 persen yoy.

  1. 1. Terjadi peningkatan uang kartal yang diedarkan

    Ilustrasi tumpukan uang koin (freepik.com/freepik)
    Ilustrasi tumpukan uang koin (freepik.com/freepik)

    Berdasarkan komponennya, pertumbuhan uang primer pada Oktober 2026 ditopang oleh peningkatan uang kartal yang diedarkan. Komponen ini tumbuh sebesar 11,5 persen yoy. Sementara itu, giro bank umum di Bank Indonesia (BI) adjusted mengalami kontraksi sebesar 2,4 persen yoy.

    BI menjelaskan, perkembangan uang primer adjusted telah memperhitungkan dampak pemberian insentif likuiditas sebagai bagian dari pengendalian moneter.

    "Dengan demikian, perlambatan pertumbuhan M0 adjusted pada Oktober 2026 terjadi di tengah pertumbuhan uang kartal yang masih cukup kuat, sementara giro bank umum di BI mengalami penurunan secara tahunan," tulis BI dalam laporannya, Jumat (6/11/2026).

  2. 2. Kredit perbankan tembus Rp9.245 triliun

    Ilustrasi Bank (pixabay.com/PabitraKaity)
    Ilustrasi Bank (pixabay.com/PabitraKaity)

    Sebelumnya, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mencatat penyaluran kredit perbankan mencapai Rp9.245 triliun pada September 2026. Angka tersebut tumbuh 13,26 persen secara tahunan (year on year/yoy). Pertumbuhan kredit tersebut melambat dibandingkan Agustus 2026 yang tercatat sebesar 13,65 persen yoy.

    "Intermediasi perbankan dengan profil risiko yang tetap dengan pertumbuhan kredit pada September 2026 sebesar 13,26 persen year on year, di mana Agustus yang lalu tercatat sebesar 13,65 persen year on year menjadi sebesar Rp9.245 triliun," kata Dian.

    Berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 23,20 persen yoy. Selanjutnya, kredit modal kerja tumbuh 11,89 persen yoy dan kredit konsumsi tumbuh 4,86 persen yoy. Sementara berdasarkan kategori debitur, kredit korporasi mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 21,31 persen yoy. Adapun penyaluran kredit kepada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melanjutkan tren peningkatan dengan tumbuh 2,68 persen yoy.

  3. 3. DPK perbankan melambat, likuiditas dan permodalan bank masih tebal

    Ilustrasi bank (IDN Times/Arief Rahmat)
    Ilustrasi bank (IDN Times/Arief Rahmat)

    Dian menjelaskan pertumbuhan kredit perbankan masih ditopang oleh bank-bank badan usaha milik negara (BUMN). Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, kredit bank BUMN tumbuh 14,78 persen secara tahunan (year on year/yoy). Sementara itu, Bank Umum Swasta Nasional (BUSN) domestik mencatat pertumbuhan tertinggi pada kredit kepemilikan, yakni sebesar 16,89 persen yoy.

    Di sisi lain, dana pihak ketiga (DPK) perbankan tumbuh 8,22 persen yoy menjadi Rp10.492 triliun per September 2026. Pertumbuhan ini melambat dibandingkan Agustus 2026 yang mencapai 10,94 persen yoy.

    Berdasarkan jenis simpanan, giro mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 12,64 persen yoy. Disusul tabungan yang tumbuh 9,08 persen yoy dan deposito sebesar 3,78 persen yoy. Dari sisi likuiditas, OJK menilai kondisi perbankan masih berada pada level memadai. Hal ini tercermin dari rasio alat likuid terhadap non-core deposit (AL/NCD) yang mencapai 105,7% pada September 2026, naik dari 102,3% pada bulan sebelumnya.

    "Begitu pula rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) yang meningkat menjadi 24,1 persen dari 23 persen pada Agustus 2026. Kedua rasio tersebut masih berada di atas ambang batas yang ditetapkan, masing-masing sebesar 50 persen untuk AL/NCD dan 10 persen untuk AL/DPK," jelasnya.

    Adapun liquidity coverage ratio (LCR) tercatat sebesar 181,91 persen. Angka ini turun dibandingkan posisi Agustus 2026 yang mencapai 187,07 persen. Dari sisi kualitas kredit, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross tercatat sebesar 2,07 persen pada September 2026. Rasio ini membaik dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 2,11 persen.

    Sementara itu, NPL net turun menjadi 0,82 persen dari 0,84 persen pada Agustus 2026. Adapun rasio loan at risk (LAR) tercatat sebesar 8,50 persen. Dari sisi profitabilitas, return on assets (ROA) perbankan stabil di level 2,43 persen, sama dengan posisi Agustus 2026. Ketahanan permodalan perbankan juga masih terjaga. Hal ini tercermin dari rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) yang mencapai 24,30 persen.

Related Articles

See More