Krom Bank Cetak Laba Bersih Rp157 Miliar di Kuartal III-2026

Krom Bank membukukan laba bersih Rp157,91 miliar hingga kuartal III-2026, naik 25 persen secara tahunan, didorong pertumbuhan kredit, pendapatan bunga bersih, dan dana pihak ketiga.
Penyaluran kredit mencapai Rp11,66 triliun, tumbuh 46 persen, sementara pendapatan bunga bersih melonjak 67 persen menjadi Rp2,13 triliun dan aset naik 65 persen menjadi Rp17,64 triliun.
DPK mencapai Rp13,43 triliun atau naik 93 persen, dengan CASA meningkat 120 persen; Krom Bank mencatat KPMM 36,52 persen dan LDR 86,82 persen.
Jakarta, IDN Times – PT Krom Bank Indonesia Tbk (BBSI) membukukan laba bersih sebesar Rp157,91 miliar sepanjang sembilan bulan pertama 2026 atau hingga kuartal III-2026.
Angka tersebut tumbuh 25 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp126,08 miliar.
Berdasarkan laporan keuangan yang belum diaudit (unaudited), pertumbuhan laba Krom Bank ditopang oleh peningkatan penyaluran kredit, pendapatan bunga bersih, serta penghimpunan dana pihak ketiga (DPK).
1. Kredit dan pendapatan bunga bersih meningkat

Ilustrasi Kredit. (IDN Times/Aditya Pratama) Krom Bank menyalurkan kredit sebesar Rp11,66 triliun hingga September 2026. Nilai tersebut tumbuh 46 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp7,96 triliun.
Sejalan dengan peningkatan kredit, pendapatan bunga bersih perseroan naik 67 persen secara tahunan (year-on-year/YoY), dari Rp1,27 triliun menjadi Rp2,13 triliun.
Dari sisi aset, Krom Bank mencatatkan pertumbuhan 65 persen, dari Rp10,67 triliun pada September 2025 menjadi Rp17,64 triliun pada September 2026. Sementara itu, laba sebelum pajak mencapai Rp202,44 miliar, naik 25 persen dari Rp161,64 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Presiden Direktur Krom Bank, Anton Hermawan, mengatakan, perseroan akan menjaga pertumbuhan bisnis dengan memperkuat tata kelola risiko, disiplin penyaluran kredit, dan pengelolaan kualitas aset.
“Bagi Krom Bank, pertumbuhan harus berjalan selaras dengan penguatan fundamental, penerapan manajemen risiko yang prudent, kualitas aset yang terjaga, serta kecukupan modal dan likuiditas,” ujar Anton dikutip Jumat, (6/11/2026).
2. Dana pihak ketiga tumbuh 93 persen, CASA naik 120 persen

Ilustrasi aplikasi mobile banking Krom Bank. (dok. Krom Bank) Dari sisi pendanaan, DPK Krom Bank mencapai Rp13,43 triliun per September 2026. Jumlah tersebut meningkat 93 persen dibandingkan posisi Rp6,97 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Sementara itu, dana murah atau current account savings account (CASA) tercatat sebesar Rp3,07 triliun. Nilainya melonjak 120 persen dibandingkan September 2025 yang sebesar Rp1,37 triliun.
Untuk mendorong penghimpunan dana, Krom Bank mengembangkan sejumlah produk simpanan, antara lain Krom Flex dengan bunga 6,5–7,5 persen per tahun dan Krom Max dengan bunga hingga 8 persen per tahun.
Perseroan juga menawarkan program promosi, seperti bonus Ajak Teman dengan bunga hingga 20 persen per tahun serta fitur Kantong Tabungan untuk menyimpan cashback transaksi. Selain itu, Krom Bank mulai meluncurkan kartu debit secara bertahap yang ditargetkan dapat diakses seluruh nasabah dalam waktu dekat.
Anton mengatakan, pengembangan produk dan fitur transaksi dilakukan untuk memperluas layanan sekaligus menjangkau kebutuhan nasabah.
“Kami terus berkomitmen memperkuat inovasi dan diversifikasi produk untuk menghadirkan solusi keuangan digital yang semakin kompetitif dan relevan dengan kebutuhan nasabah,” kata Anton.
3. Rasio kecukupan modal Krom Bank mencapai 36,52 persen

Ilustrasi Bank. (IDN Times/Aditya Pratama) Di tengah ekspansi kredit dan penghimpunan dana, Krom Bank mencatat rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) sebesar 36,52 persen. Rasio modal inti utama atau Common Equity Tier 1(CET1) dan modal inti (Tier 1) masing-masing berada di level 48,40 persen.
Dari sisi likuiditas, rasio kredit terhadap simpanan atau Loan to Deposit Ratio (LDR) tercatat sebesar 86,82 persen.
Anton mengatakan perseroan akan menjaga kecukupan modal dan likuiditas melalui penerapan prinsip kehati-hatian serta pengelolaan pendanaan.
“Kami akan terus memastikan kecukupan modal dan likuiditas tetap terjaga, didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dan pengelolaan pendanaan yang prudent,” tutur Anton.




















