AS-Iran Menuju Kesepakatan Damai, Harga Bitcoin Pulih

- Kesepakatan awal damai antara AS dan Iran menenangkan pasar global, mendorong investor kembali ke aset berisiko tinggi seperti kripto, membuat harga Bitcoin naik 2 persen ke level 65.900 dolar AS.
- Ethereum, Solana, XRP, dan HYPE ikut menguat seiring turunnya harga minyak Brent serta penguatan pasar saham Asia dan kontrak berjangka indeks saham AS setelah meredanya ketegangan geopolitik.
- Aloysia Dian menekankan pentingnya mencermati faktor lain seperti arus dana ETF Bitcoin Spot, regulasi, kebijakan moneter global, dan likuiditas agar tren positif kripto tetap berkelanjutan.
- Kesepakatan awal damai antara AS dan Iran menenangkan pasar global, mendorong investor kembali ke aset berisiko tinggi seperti kripto, membuat harga Bitcoin naik 2 persen ke level 65.900 dolar AS.
- Ethereum, Solana, XRP, dan HYPE ikut menguat seiring turunnya harga minyak Brent serta penguatan pasar saham Asia dan kontrak berjangka indeks saham AS setelah risiko geopolitik mereda.
- Aloysia Dian menegaskan tren positif kripto masih bergantung pada arus dana ETF Bitcoin Spot, kebijakan moneter global, serta minat investor institusional di tengah volatilitas pasar yang tetap tinggi.
Jakarta, IDN Times – Sentimen pasar global kembali membaik setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran mencapai kesepakatan awal untuk mengakhiri konflik serta membuka kembali Selat Hormuz.
Meredanya ketidakpastian geopolitik tersebut mendorong investor kembali masuk ke aset dengan volatilitas tinggi, termasuk aset kripto, sehingga harga Bitcoin sempat menembus level 65.900 per dolar Amerika Serikat (AS), naik 2 persen dalam 24 jam.
Penguatan tersebut juga menempatkan Bitcoin hampir 8 persen di atas level terendah pekan lalu yang sempat berada di bawah 60.900 dolar AS.
1. Investor punya ruang naikkan eksposur

Chief Marketing Officer Indodax, Aloysia Dian, mengungkapkan bahwa meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah memberikan ruang bagi investor untuk kembali meningkatkan eksposur terhadap aset yang memiliki karakteristik volatilitas tinggi setelah beberapa pekan pasar dibayangi sentimen kehati-hatian.
“Pasar kripto saat ini merespons membaiknya sentimen global setelah ketidakpastian geopolitik mulai mereda. Ketika risiko global menurun, investor cenderung kembali meningkatkan eksposur terhadap aset dengan volatilitas tinggi, termasuk Bitcoin dan aset kripto lainnya. Hal tersebut yang saat ini turut mendorong pemulihan harga di pasar,” ujar Aloysia dikutip Rabu, (17/6/2026).
2. Harga Ethereum hingga Solana ikut naik

Tidak hanya Bitcoin, mayoritas aset kripto utama juga mencatatkan penguatan. Ethereum naik sekitar 5,1 persen ke level 1.758 dolar AS, Solana menguat 6,6 persen menjadi 72,6 dolar AS, sementara XRP bertambah 7,1 persen ke 1,2 dolar AS.
Di antara aset kripto berkapitalisasi besar, Hyperliquid (HYPE) menjadi salah satu aset dengan kenaikan tertinggi setelah menguat sekitar 11,6 persen ke level 67,8 dolar AS.
Penguatan pasar kripto terjadi seiring membaiknya sentimen risiko global. Setelah kesepakatan AS-Iran diumumkan, harga minyak mentah Brent terkoreksi lebih dari 4 persen menuju kisaran 83 dolar AS per barel karena pasar mulai mengurangi premi risiko geopolitik yang sebelumnya membebani prospek ekonomi global.
Pada saat yang sama, pasar saham Asia menguat, kontrak berjangka indeks saham AS bergerak positif, dan tekanan terhadap dolar AS mulai mereda.
3. Pergerakan kripto tetap harus dicermati

Di tengah sentimen pasar yang mulai membaik, Aloysia mengingatkan bahwa keberlanjutan tren positif ini masih bergantung pada faktor yang akan menentukan apakah penguatan Bitcoin dapat berlanjut dalam waktu dekat.
“Meredanya ketegangan geopolitik tentu menjadi perkembangan yang positif bagi pasar. Namun, investor masih perlu mencermati berbagai faktor lain, termasuk arus dana institusional melalui ETF Bitcoin spot, perkembangan regulasi, kebijakan moneter global, minat investor, serta kondisi likuiditas global,” ujar dia.
Aloysia mengatakan, penting bagi investor untuk tetap memperhatikan perkembangan pasar secara menyeluruh dan tidak hanya berfokus pada satu sentimen tertentu.
Salah satu indikator yang akan menjadi perhatian pasar adalah pergerakan atau arus dana pada ETF Bitcoin Spot di Amerika Serikat. Dalam sepekan terakhir, instrumen tersebut mencatatkan outflow 1,72 miliar dolar AS yang menunjukkan bahwa sebagian investor institusional masih bersikap hati-hati terhadap aset dengan karakteristik volatil.
Selain sentimen geopolitik, pasar juga masih mencermati sejumlah faktor fundamental yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan Bitcoin dalam beberapa waktu ke depan. Salah satunya adalah minat investor institusional yang tercermin dari arus dana pada ETF Bitcoin Spot di Amerika Serikat.
Secara keseluruhan, Indodax mengingatkan masyarakat untuk menerapkan prinsip investasi yang bijak, melakukan riset secara mandiri (DYOR), melakukan Dollar Cost Averaging (DCA) melalui fitur investasi rutin di Indodax guna membantu mengelola risiko di tengah volatilitas pasar.

















