Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Berapa Dana Pendidikan Anak yang Ideal? Ini Cara Menghitungnya!
ilustrasi orang tua dan anak (pexels.com/Gustavo Fring)
  • Dana pendidikan mencakup sekolah, buku, seragam, transportasi, tempat tinggal, dan perlengkapan belajar; target tiap keluarga berbeda berdasarkan usia anak, pilihan sekolah, jenjang, serta kemampuan keuangan.
  • Orang tua perlu menentukan jenjang dan rincian biaya tujuan, lalu menghitung kenaikan biaya masa depan; contoh biaya kuliah Rp100 juta bisa menjadi sekitar Rp163 juta dalam 10 tahun.
  • Target dana dibagi sesuai waktu tersedia, sambil menjaga kebutuhan harian, dana darurat, asuransi, dan utang; beasiswa atau bantuan dapat melengkapi persiapan sesuai kemampuan keluarga.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Biaya pendidikan anak bukan hanya uang sekolah atau kuliah, tetapi juga mencakup buku, seragam, transportasi, tempat tinggal, dan perlengkapan belajar. Biaya tersebut perlu disiapkan sejak dini karena nilainya bisa meningkat ketika anak masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Persiapan lebih awal memberi kita waktu untuk mengumpulkan dana secara bertahap.

Jumlah dana yang dibutuhkan setiap keluarga tentu akan berbeda. Usia anak, pilihan sekolah, jenjang pendidikan, dan kemampuan keuangan orang tua akan memengaruhi targetnya. Karena itu, kita perlu menghitung kebutuhan sejak sekarang agar dana pendidikan tidak terasa berat ketika waktunya tiba.

1. Tentukan jenjang pendidikan yang ingin dibiayai

ilustrasi siswa di sekolah (pexels.com/Yan Krukau)

Langkah pertama adalah menentukan sampai jenjang mana kita ingin menanggung biaya pendidikan anak. Kita bisa menghitung kebutuhan untuk sekolah dasar, sekolah menengah, hingga perguruan tinggi sesuai kemampuan dan rencana keluarga. Jangan langsung menggunakan angka yang sama untuk semua anak karena pilihan sekolah, kota tempat tinggal, dan jenis perguruan tinggi dapat menghasilkan biaya yang sangat berbeda.

Setelah menentukan jenjangnya, cari gambaran biaya saat ini dari sekolah atau kampus yang menjadi tujuan. Pisahkan biaya seperti uang pangkal, uang sekolah, buku, seragam, transportasi, tempat tinggal, dan kebutuhan harian jika anak harus kuliah di luar kota. Cara ini membuat target lebih realistis karena kita tidak hanya menghitung biaya pendidikan yang terlihat di tagihan utama.

2. Perhitungkan kenaikan biaya pendidikan

ilustrasi inflasi (freepik.com/freepik)

Biaya yang kita lihat sekarang belum tentu menjadi biaya yang harus dibayar ketika anak mulai sekolah atau kuliah. Kenaikan harga barang dan jasa membuat kebutuhan dana pada masa depan berpotensi lebih besar daripada biaya saat ini. Sebagai gambaran, inflasi Indonesia mencapai 3,34 persen secara tahunan pada Juni 2026, sehingga nilai uang memang perlu diperhitungkan ketika membuat rencana jangka panjang.

Kita bisa memperkirakan biaya pendidikan di masa depan dengan memperhitungkan kenaikan biaya setiap tahun. Misalnya, biaya kuliah saat ini Rp100 juta dan anak baru masuk kuliah 10 tahun lagi, targetnya tidak cukup jika kita hanya menyiapkan Rp100 juta. Dengan asumsi kenaikan biaya 5 persen per tahun, kebutuhan tersebut menjadi sekitar Rp163 juta sehingga kita memiliki gambaran target yang lebih masuk akal.

3. Sesuaikan target dengan waktu yang tersedia

ilustrasi uang dan waktu (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)

Jarak waktu sangat menentukan strategi menabung. Anak yang baru berusia dua tahun masih memiliki waktu lebih panjang untuk mengumpulkan dana dibandingkan anak yang akan masuk kuliah dalam tiga tahun. Semakin panjang waktunya, semakin besar kesempatan kita membangun dana secara bertahap tanpa harus mengejar jumlah besar dalam waktu singkat.

Setelah mengetahui target akhirnya, kita bisa membaginya menjadi target bulanan atau tahunan. Misalnya, kebutuhan pendidikan diperkirakan Rp160 juta dan masih ada 10 tahun, kita dapat mulai dengan target sekitar Rp1,33 juta per bulan jika tidak memperhitungkan hasil investasi. Angka tersebut kemudian dapat disesuaikan dengan instrumen yang digunakan, tetapi kita tetap perlu memperhitungkan risiko agar dana tidak ditempatkan pada aset yang terlalu berisiko ketika waktu penggunaannya sudah dekat.

4. Jangan lupakan kondisi keuangan keluarga

ilustrasi menghitung uang (pexels.com/Kaboompics)

Dana pendidikan sebaiknya tidak disiapkan dengan mengorbankan kebutuhan keuangan yang lebih mendesak. Sebelum mengejar target besar, kita perlu memastikan kebutuhan sehari-hari, dana darurat, perlindungan asuransi, dan kewajiban utang sudah terkontrol. Dengan begitu, rencana pendidikan anak tidak membuat kondisi keuangan keluarga menjadi berantakan ketika muncul pengeluaran tak terduga.

Kita juga tidak harus membayar seluruh biaya pendidikan seorang diri jika ada sumber dana lain yang realistis. Beasiswa, bantuan pendidikan, hingga tunjangan bisa menjadi pelengkap. Namun, target dana harus tetap mengikuti kemampuan keluarga dan ditinjau kembali ketika pendapatan, jumlah tanggungan, atau rencana pendidikan anak berubah.

Dana pendidikan anak akan terasa lebih ringan jika kita mulai menyiapkannya jauh sebelum dibutuhkan. Kita tidak harus langsung memiliki jumlah besar karena target tersebut bisa dicapai secara bertahap sesuai kemampuan keuangan keluarga. Semakin cepat kita menentukan target dan mulai menyisihkan dana, semakin panjang waktu yang kita miliki untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article