ilustrasi berpikir (pexels.com/Budgeron Bach)
Survei Acorns juga menunjukkan bahwa kecemasan finansial dapat dialami siapa saja, termasuk mereka yang memiliki penghasilan maupun kekayaan cukup besar. Sebanyak 43 persen responden dengan kekayaan bersih antara 500 ribu dolar AS hingga 800 ribu dolar AS (sekitar Rp8,95 miliar hingga Rp14,33 miliar) masih mengaku mengalami kecemasan finansial. Bahkan, sekitar 24 persen responden dengan kekayaan bersih lebih dari US$800.000 (lebih dari Rp14,33 miliar) juga merasakan hal yang sama.
Melihat kondisi tersebut, Aja Evans menyarankan agar seseorang tidak mengambil keputusan keuangan ketika sedang stres atau berada dalam kondisi krisis. Menurutnya, keputusan yang dibuat saat emosi sedang gak stabil cenderung hanya berfokus pada solusi jangka pendek. Erika Rasure juga menyarankan agar kamu lebih dulu menenangkan diri, lalu memusatkan perhatian pada hal-hal yang masih bisa dikendalikan sebelum menentukan langkah finansial berikutnya.
Memiliki gaji tinggi memang dapat membantu memenuhi kebutuhan hidup, tapi bukan jaminan seseorang akan terbebas dari kecemasan finansial. Kondisi kekayaan bersih, besarnya utang, ketersediaan aset, serta rasa aman terhadap masa depan ternyata memiliki pengaruh yang jauh lebih besar.
Karena itu, selain berusaha meningkatkan penghasilan, kamu juga perlu membangun kondisi keuangan yang lebih sehat dengan mengelola utang, memperbanyak aset, dan menyiapkan dana darurat. Dengan begitu, rasa tenang yang kamu cari bukan hanya berasal dari besarnya gaji, tapi juga dari fondasi keuangan yang lebih kuat.