Minyak Brent Tembus Rp1,93 Juta, Konflik Timur Tengah Memanas

- Harga Brent sempat menembus 108 dolar AS per barel sebelum ditutup 106,60 dolar AS, sementara WTI naik menjadi 94,61 dolar AS di tengah konflik Timur Tengah dan krisis pasokan.
- Serangan Houthi yang diklaim menyasar Riyadh dan fasilitas Aramco menambah tekanan pasokan; Arab Saudi meningkatkan penyaluran minyak melalui Pipa Timur-Barat menuju Yanbu.
- Iran dan AS membahas pembukaan bertahap Selat Hormuz, tetapi negosiasi belum menemui titik terang; larangan ekspor solar Rusia turut memperketat stok global.
Jakarta, IDN Times – Harga minyak dunia kembali melonjak akibat memanasnya konflik geopolitik Timur Tengah dan krisis pasokan global. Pada Kamis (24/9/2026), minyak mentah Brent naik sekitar 3 persen dan sempat menembus 108 dolar AS (setara Rp1,93 juta) per barel sebelum ditutup pada 106,60 dolar AS (setara Rp1,90 juta) per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) asal Amerika Serikat (AS) menguat menjadi 94,61 dolar AS (setara Rp1,69 juta) per barel.
Laju kenaikan sempat mereda setelah muncul laporan pembahasan antara AS dan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Namun, pasar tetap dibayangi ketidakpastian akibat situasi keamanan yang belum stabil. Tim Waterer, Chief Market Analyst KCM Trade di Sydney, menyebut risiko kenaikan harga masih membayangi pasar saat ini.
“Relatif terhadap tren pasca-perang, level ini tetap tinggi dan mencerminkan kenyataan bahwa rute dan fasilitas pasokan kritis masih rentan. Upaya diplomatik di sela-sela PBB memberikan beberapa penyeimbang, tetapi sampai ada bukti yang lebih jelas tentang de-eskalasi yang tahan lama, bias kenaikan tetap ada,” kata Waterer, dikutip Al Jazeera.
1. Serangan Houthi meningkatkan tekanan pasokan minyak

ilustrasi pasukan bersenjata (unsplash.com/Nathan Gubler) Ketegangan meningkat setelah kelompok Houthi mengklaim melancarkan serangan rudal dan drone ke target sensitif di Riyadh serta fasilitas Aramco di Yanbu. Melalui Yemen News Agency, mereka menyatakan operasi militer tersebut berhasil mengenai sasaran. Sebaliknya, koalisi pimpinan Arab Saudi mengaku berhasil mencegat enam rudal balistik yang menuju wilayah Taif dan Yanbu.
Otoritas Arab Saudi belum mengonfirmasi adanya kerusakan atau korban jiwa akibat insiden tersebut. Sementara itu, Aramco yang memenuhi 10 persen kebutuhan minyak dunia belum memberikan tanggapan. Sebagai langkah antisipasi, Arab Saudi meningkatkan penyaluran minyak melalui Pipa Timur-Barat menuju Yanbu, meski aktivitas pemuatan kapal tanker belum sepenuhnya pulih.
2. Diplomasi Iran-AS membahas pembukaan Selat Hormuz

ilustrasi perang AS-Israel melawan Iran (unsplash.com/Saifee Art) Di tengah peningkatan aksi militer, diplomasi tingkat tinggi dijajaki di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York. Presiden Iran Masoud Pezeshkian berharap AS kembali pada Memorandum of Understanding (MoU) pengakhiran perang sebelum pemilihan sela AS pada November. Negosiasi tersebut berfokus pada pembukaan Selat Hormuz secara bertahap oleh Teheran sebagai imbalan pencabutan blokade ekonomi Washington.
Namun, perundingan tersebut berjalan alot dan belum menemukan titik terang. Menurut laporan CNA yang mengutip Reuters, sumber diplomatik menyebut kedua pihak enggan mengalah dalam tawar-menawar ini. Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi distribusi energi dunia sekaligus kunci pemulihan ekonomi Iran.
3. Krisis minyak menekan penerbangan pasokan solar

ilustrasi pesawat terbang (pexels.com/Kürşat Kuzu) Konflik ini turut berdampak pada sektor penerbangan dan pasokan bahan bakar. Maskapai Iran kini dilarang melintasi wilayah udara Uni Emirat Arab (UEA) dan Oman akibat sanksi sekunder baru dari AS. Sebagai balasan, Iran mengancam akan melumpuhkan operasional bandara di negara-negara yang mematuhi sanksi Washington tersebut.
Di sisi lain, stok solar global kian kritis setelah Rusia melarang ekspor akibat serangan Ukraina pada kilang minyaknya. Kondisi ini memicu Uni Eropa (UE) dan AS membahas rencana pembatasan ekspor solar dari AS. Politico melaporkan Washington menyiapkan opsi larangan ekspor 90 hari, meski Menteri Energi AS Chris Wright membantahnya dan lebih mendorong pembatasan sukarela bagi pengusaha kilang.
June Goh, Senior Oil Market Analyst di Sparta Commodities Singapura, memperkirakan harga minyak akan tetap tinggi selama perang berlanjut.
“Dengan tidak adanya resolusi yang jelas terlihat, kesenjangan dalam inventaris minyak secara global semakin melebar,” kata Goh.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)





















