Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

6 Cara Menghindari Utang Konsumtif Menjelang Lebaran

6 Cara Menghindari Utang Konsumtif Menjelang Lebaran
ilustrasi perempuan sedang berbelanja (unsplash.com/Arturo Rey)
Intinya Sih
  • Bedakan kebutuhan dan keinginan agar pengeluaran Lebaran tetap terkontrol.

  • Tentukan anggaran jelas dan hindari godaan paylater atau diskon yang tidak perlu.

  • Gunakan THR secara bijak dan komunikasikan rencana keuangan dengan keluarga.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Lebaran biasanya datang dengan sukacita dan keinginan untuk merayakannya bersama orang-orang tercinta. Mulai dari mudik, masak opor ayam, beli seragam keluarga, kasih THR anak-anak, mengirim hamper, sampai kebutuhan dapur, semuanya terasa mendesak untuk dipenuhi. Jelas saja, pengeluaran jadi naik berkali-kali lipat menjelang Lebaran.

Sayangnya, momen ini juga sering jadi pintu masuk utang konsumtif. Tanpa sadar, banyak orang tergoda pakai paylater, kartu kredit, atau pinjol demi memenuhi gaya hidup Lebaran. Padahal, setelah euforianya selesai, tagihan tetap datang dan bikin pusing berbulan-bulan. Agar Lebaran tetap hangat tanpa drama finansial, yuk, simak cara menghindari utang konsumtif menjelang Lebaran berikut ini.

1. Bedakan antara kebutuhan dan keinginan

ilustrasi membuat daftar kebutuhan
ilustrasi membuat daftar kebutuhan (freepik.com/freepik)

Ini klise, tapi penting sekali. Coba duduk sebentar dan tulis apa saja yang benar-benar dibutuhkan, misalnya bahan makanan pokok, zakat, atau ongkos mudik. Setelah itu, baru lihat daftar keinginan, seperti baju baru, sepatu baru, atau dekorasi rumah. Kadang, kita merasa semua itu wajib, padahal tidak selalu begitu. Lebaran tetap bermakna meski tanpa outfit baru yang sedang tren. Ingat, esensi Lebaran ialah kembali ke fitrah, bukan lomba tampil paling wah.

2. Tentukan anggaran dan pegang teguh

ilustrasi membuat anggaran finansial
ilustrasi membuat anggaran finansial (pexels.com/olia danilevich)

Sebelum belanja apa pun, tentukan total anggaran Lebaran. Idealnya, anggaran ini sudah disisihkan jauh-jauh hari dari gaji atau THR. Kalau belum sempat menabung, setidaknya buat batas maksimal pengeluaran sesuai kemampuan.

Kamu bisa pakai metode sederhana seperti membagi pos untuk kebutuhan pokok, transportasi, hadiah/THR, dan dana darurat. Jangan lupa sisakan dana cadangan untuk hal tak terduga. Begitu angka ditentukan, usahakan disiplin. Jangan karena flash sale, kamu langsung kalap.

3. Jangan tergoda paylater dan diskon semu

ilustrasi diskon
ilustrasi diskon (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)

Fitur paylater memang terlihat membantu karena belanja sekarang, bayar nanti. Bagaimanapun, itu tetap harus dibayar, lengkap dengan bunga atau biaya tambahan. Kalau tidak hati-hati, cicilan kecil bisa menumpuk jadi besar. Diskon besar-besaran juga sering membuat kita merasa hemat, padahal sebenarnya membeli barang yang tidak perlu. Prinsipnya sederhana, kalau dari awal tidak butuh, mau diskon 70 persen tetap saja itu pengeluaran tambahan.

4. Manfaatkan THR dengan bijak

ilustrasi THR
ilustrasi THR (pexels.com/bangunstockproduction)

Momen Ramadan dan Lebaran memang identik dengan peningkatan konsumsi masyarakat. THR sering langsung habis dalam waktu singkat karena pengeluaran yang tidak terkontrol. Agar tidak begitu, coba bagi THR menjadi beberapa bagian, misalnya 50 persen untuk kebutuhan Lebaran, 30 persen untuk tabungan atau investasi, dan 20 persen untuk bersenang-senang. Tentu pembagiannya bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Intinya, jangan sampai THR hanya numpang lewat di rekening.

5. Komunikasikan dengan keluarga

ilustrasi berbicara dengan orangtua
ilustrasi berbicara dengan orangtua (pexels.com/Kindel Media)

Kadang, utang konsumtif muncul karena gengsi atau tekanan sosial, seperti tidak enak kalau tidak mudik, tidak enak kalau tidak bagi-bagi uang, atau tidak enak kalau tidak bikin acara kumpul-kumpul di rumah. Padahal, keluarga yang benar-benar peduli biasanya lebih memahami kondisi keuangan kita. Coba komunikasikan rencana keuangan Lebaran secara terbuka dengan pasangan atau keluarga inti. Sepakati bersama prioritas dan batasannya. Lebih baik sederhana, tapi tenang, kan? Bayangkan kalau mewah, tapi penuh beban pikiran.

6. Ingat dampak jangka panjang

ilustrasi belanja daring
ilustrasi belanja daring (freepik.com/freepik)

Utang konsumtif bukan cuma soal cicilan bulan depan. Kalau dibiarkan, ini bisa mengganggu arus kas, mengurangi kemampuan menabung, bahkan memicu stres. Lebaran seharusnya jadi momen refleksi dan kebahagiaan, bukan awal dari masalah finansial baru. Coba bayangkan perasaan setelah Lebaran. Mana yang lebih menenangkan antara foto outfit baru yang keren atau rekening yang tetap aman tanpa tagihan mengejutkan?

Menghindari utang konsumtif menjelang Lebaran memang butuh disiplin dan kesadaran diri. Namun, percayalah, rasa tenang setelahnya jauh lebih berharga daripada kepuasan sesaat. Lebaran bukan soal seberapa banyak yang kita beli, tapi seberapa tulus kita merayakan dan berbagi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎
Follow Us

Latest in Business

See More