Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
4 Faktor Utama yang Menahan Pergerakan Harga Bitcoin Saat Ini
ilustrasi chart bitcoin (unsplash.com/Kanchanara)
  • Bitcoin bergerak di kisaran US$65.000–66.000 karena ketidakpastian penurunan suku bunga AS membuat investor berhati-hati dan likuiditas global belum optimal mengalir ke kripto.
  • Arus dana spot Bitcoin ETF yang sempat mengalami penarikan besar pada Juni membaik pada Juli, tetapi belum stabil untuk membentuk dorongan beli institusional yang kuat.
  • Ketegangan geopolitik dan sikap pasar yang menunggu penembusan resistensi menekan aktivitas perdagangan; akumulasi investor jangka panjang menyeimbangkan jual-beli sehingga harga cenderung sideways.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Harga Bitcoin saat ini masih bergerak di kisaran 65.000 hingga 66.000 dolar AS atau sekitar Rp1,06 miliar hingga Rp1,08 miliar per BTC. Meski sempat menunjukkan pemulihan dalam beberapa minggu terakhir, kenaikannya masih sering tertahan sebelum mampu menembus level yang lebih tinggi. Kondisi ini membuat banyak investor memilih menunggu arah pasar yang lebih jelas.

Pergerakan Bitcoin saat ini dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari kondisi ekonomi global hingga minat investor institusional. Selama faktor-faktor tersebut belum memberikan kepastian, harga Bitcoin berpotensi terus bergerak naik turun dalam rentang yang sempit. Berikut empat faktor yang masih menahan pergerakan harga Bitcoin saat ini.

1. Ketidakpastian arah suku bunga Amerika Serikat

ilustrasi bendera Amerika Serikat (pexels.com/Kaboompics)

Kebijakan suku bunga Amerika Serikat masih menjadi perhatian utama pelaku pasar. Meskipun inflasi menunjukkan perbaikan dibanding beberapa tahun terakhir, pasar belum sepenuhnya yakin kapan bank sentral akan melanjutkan pelonggaran kebijakan moneter. Selama ekspektasi terhadap penurunan suku bunga terus berubah, investor cenderung lebih berhati-hati dalam menambah eksposur terhadap aset berisiko seperti Bitcoin.

Ketidakpastian tersebut membuat likuiditas global belum kembali mengalir secara optimal ke pasar kripto. Banyak investor institusional memilih menunggu kejelasan arah kebijakan sebelum meningkatkan alokasi investasi. Akibatnya, setiap kenaikan harga sering kali diikuti aksi ambil untung sehingga Bitcoin kesulitan membangun tren naik yang berkelanjutan.

2. Arus dana ETF Bitcoin belum kembali stabil

ilustrasi Bitcoin (magnific.com/freepik)

Persetujuan spot Bitcoin ETF sempat menjadi pendorong utama kenaikan harga pada siklus sebelumnya. Namun, dalam beberapa bulan terakhir arus dana ke produk ETF berubah lebih fluktuatif. Setelah mengalami gelombang penarikan dana yang besar pada Juni, aliran modal memang mulai membaik pada Juli, tetapi belum cukup konsisten untuk menciptakan dorongan beli yang kuat.

ETF kini menjadi salah satu indikator penting yang mencerminkan minat investor institusional terhadap Bitcoin. Ketika dana yang masuk masih berubah ubah dari hari ke hari, pasar cenderung kehilangan keyakinan untuk mendorong harga lebih tinggi. Selama arus masuk belum berlangsung stabil dalam waktu yang lebih panjang, pergerakan Bitcoin kemungkinan masih akan tertahan dalam rentang harga tertentu.

3. Kondisi geopolitik membuat investor lebih berhati-hati

ilustrasi bola dunia (unsplash.com/Kyle Glenn)

Selain faktor ekonomi, ketegangan geopolitik global juga ikut memengaruhi sentimen pasar. Konflik yang masih berlangsung di beberapa kawasan mendorong sebagian investor mengurangi risiko dan memilih aset yang dianggap lebih aman. Dalam situasi seperti ini, permintaan terhadap Bitcoin sering kali tidak tumbuh secepat yang diharapkan meskipun fundamental jangka panjangnya tetap dinilai positif.

Ketidakpastian geopolitik juga dapat memengaruhi nilai dolar Amerika Serikat, pasar obligasi, serta pergerakan aset keuangan lainnya. Karena Bitcoin kini semakin terhubung dengan pasar keuangan global, perubahan sentimen di luar industri kripto ikut memengaruhi pergerakan harganya. Inilah sebabnya kabar geopolitik sering menjadi salah satu pemicu volatilitas jangka pendek.

4. Pelaku pasar masih menunggu arah tren

ilustrasi market yang turun (freepik.com/standret)

Secara teknikal, Bitcoin masih berada pada fase menunggu setelah berhasil pulih dari tekanan pada bulan sebelumnya. Banyak pelaku pasar memilih tidak membuka posisi besar sebelum harga mampu menembus area resistensi dengan volume transaksi yang kuat. Sikap menunggu ini membuat aktivitas perdagangan cenderung lebih rendah dibanding saat pasar sedang membentuk tren yang jelas.

Di sisi lain, investor jangka panjang masih menunjukkan kecenderungan melakukan akumulasi secara bertahap, sehingga tekanan jual besar juga mulai berkurang. Kondisi tersebut menciptakan keseimbangan antara pembeli dan penjual yang membuat harga bergerak dalam kisaran sempit. Selama belum muncul katalis baru, seperti perubahan kebijakan moneter atau peningkatan arus dana institusional, Bitcoin berpotensi tetap bergerak sideways.

Pergerakan Bitcoin masih dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kebijakan suku bunga hingga minat investor institusional. Selama faktor-faktor tersebut belum berubah secara signifikan, harga Bitcoin kemungkinan masih sulit mencatat kenaikan yang lebih besar. Memahami kondisi ini dapat membantu kita melihat pasar dengan lebih bijak dan realistis.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article