Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ilustrasi cadangan devisa. (IDN Times/Arief Rahmat)
  • LPEM UI mencatat arus portofolio asing bersih masuk 810 juta dolar AS pada kuartal III-2026, ditopang investasi obligasi 1,22 miliar dolar AS meski saham masih keluar 420 juta dolar AS.

  • Yield spread obligasi pemerintah Indonesia dan US Treasury 10 tahun menyempit menjadi 186 basis poin pada September 2026, terendah sejak Oktober 2008, di tengah pergeseran portofolio investor.

  • Kepemilikan asing di SRBI relatif stabil di Rp293,15 triliun, sementara rupiah melemah 0,08 persen secara kuartalan dan terdepresiasi 6,48 persen sejak awal 2026.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) mencatat aliran modal asing ke pasar keuangan Indonesia mulai menunjukkan perbaikan pada kuartal III-2026.

Setelah mengalami tekanan akibat aksi jual investor asing di pasar saham pada kuartal sebelumnya, Indonesia kembali mencatatkan arus masuk portofolio bersih sebesar 810 juta dolar AS.

1. Arus modal asing masuk ke Indonesia ditopang oleh investasi di pasar obligasi

Ilustrasi Modal. (IDN Times/Aditya Pratama)

Ekonom LPEM FEB UI Teuku Riefky menjelaskan, arus modal asing masuk ke Indonesia ditopang oleh investasi di pasar obligasi yang mencapai 1,22 miliar dolar AS. Sementara itu, pasar saham masih mencatatkan arus keluar bersih sebesar 420 juta dolar AS.

Menurutnya, tekanan jual investor asing di pasar saham mulai mereda dibandingkan kuartal sebelumnya. Di sisi lain, obligasi pemerintah Indonesia masih menjadi tujuan investasi asing, meskipun selisih imbal hasilnya dengan surat utang pemerintah Amerika Serikat (AS) atau US Treasury semakin menyempit.

"Tekanan jual investor asing di pasar saham telah berkurang dibandingkan kuartal sebelumnya. Di sisi lain, obligasi pemerintah Indonesia tetap menjadi tujuan investasi asing, meskipun selisih imbal hasilnya dengan surat utang pemerintah Amerika Serikat (AS) atau US Treasury semakin menyempit," tulisnya dalam laporan Indonesia Economic Outlook 2027 di Jakarta, dikutip Kamis (5/11/2026).

Lebih lanjut, Riefky mencatat, selisih imbal hasil (yield spread) obligasi pemerintah Indonesia bertenor 10 tahun dengan US Treasury bertenor sama terus menyempit. Spread tersebut turun dari 278 basis poin pada akhir Juni 2026 menjadi 228 basis poin pada akhir Agustus 2026, sebelum kembali menyusut menjadi 186 basis poin pada akhir September 2026. Level tersebut sekaligus menjadi yang terendah dalam catatan historis sejak Oktober 2008.

2. Terjadi penurunan minat investor terhadap aset US Treasury

Ilustrasi Obligasi/Surat Berharga. (IDN Times/Aditya Pratama)

Menurut LPEM UI, derasnya aliran dana asing ke pasar obligasi di tengah penyempitan selisih imbal hasil mengindikasikan berkurangnya minat investor terhadap aset Treasury AS.

"Masuknya dana asing ke pasar obligasi yang terus berlanjut meskipun selisih imbal hasil semakin menyempit menunjukkan adanya penurunan dalam minat investor terhadap aset Treasury AS akibat kekhawatiran mengenai keberlanjutan utang AS, sehingga memicu pergeseran portofolio ke arah aset pasar negara berkembang, termasuk surat utang pemerintah Indonesia," tegasnya.

Meski demikian, penyempitan selisih imbal hasil hingga ke level terendah tersebut juga menyimpan risiko bagi keberlanjutan arus modal asing. Terlebih, jika imbal hasil Treasury AS kembali meningkat atau sentimen risiko global memburuk, minat investor terhadap aset keuangan domestik berpotensi tertekan.

3. Kepemilikan asing di SRBI jadi Rp293,15 triliun di September 2026

Ilustrasi Obligasi/Surat Berharga (IDN Times/Aditya Pratama)

Sementara itu, kepemilikan asing pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) relatif tidak berubah. Nilainya tercatat sebesar Rp293,16 triliun pada Juni 2026, kemudian sedikit turun menjadi Rp293,15 triliun pada September 2026. Kondisi ini menunjukkan minat investor asing terhadap aset keuangan berdenominasi rupiah masih terjaga.

"Secara keseluruhan, perkembangan ini menunjukkan minat investor asing yang terus berlanjut terhadap aset keuangan berdenominasi Rupiah. Namun, sentimen investor asing tetap hati-hati seiring meningkatnya tekanan eksternal menjelang akhir triwulan, dipicu oleh kenaikan suku bunga AS dan imbal hasil Treasury serta ketegangan geopolitik yang kembali memanas dan mendorong kenaikan harga minyak," ucapnya.

3. Rupiah masih tertekan hingga akhir September

Ilustrasi kurs dolar AS menguat terhadap rupiah. (IDN Times/Arief Rahmat)

Dari sisi kebijakan moneter, Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen hingga akhir September 2026. Keputusan ini diambil setelah BI menaikkan suku bunga acuan secara kumulatif sebesar 100 basis poin sepanjang semester I-2026.

Sepanjang kuartal III-2026, BI juga memperkuat sejumlah kebijakan untuk menarik modal asing sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Salah satunya melalui perluasan insentif lindung nilai (hedging) untuk transaksi pendanaan asing.

Berbagai kebijakan tersebut, ditambah imbal hasil aset keuangan domestik yang relatif kompetitif, turut menopang minat investor asing terhadap surat berharga Indonesia. Meski demikian, rupiah masih belum lepas dari tekanan eksternal, terutama akibat kenaikan imbal hasil global dan penguatan dolar AS. Pada September 2026.

"Rupiah tercatat melemah 0,08 persen secara kuartalan dibandingkan posisi akhir Juni 2026. Secara kumulatif sejak awal tahun, rupiah telah terdepresiasi sebesar 6,48 persen," tuturnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article