Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

[PUISI] Dua Puluh Empat Jam Lalu

[PUISI] Dua Puluh Empat Jam Lalu
pixabay.com/skitterphoto
Share Article

Kepedihan ini menyeruak seiring dinginnya larut malam yang kian membeku

Keceriaanku bak mayat bintang yang mengambang dalam semesta hampa, dingin dan redup dan nestapa

Dua puluh empat jam yang lalu tepat ku dengar nyata suaramu,
Suara yang mendayu-dayu, bagai kotak musik tua yang rapuh

Langkah yang terpapah dan tubuh yang lelah, bagai cendana yang menua dan nyaris rebah

Dua puluh empat jam yang lalu, jari-jarimu masih sehangat perapian di tengah gelap pekat
Yang malam ini membeku di kala kutatap lekat

Kutundukkan dalam-dalam, tiap-tiap memori yang berputar bagai lagu-lagu dalam piringan hitam.
Sang pelipur lara, terdiam kaku dalam onggokan tanah merah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nirma Maulita
EditorNirma Maulita

Related Articles

See More

[PUISI] Lumbung Kosong

23 Jun 2026, 07:07 WIBFiction
[PUISI] Menebak Arah Dunia

[PUISI] Menebak Arah Dunia

23 Jun 2026, 05:25 WIBFiction
[PUISI] Batas Nalar

[PUISI] Batas Nalar

22 Jun 2026, 21:27 WIBFiction
[PUISI] Lembaran dan Balon

[PUISI] Lembaran dan Balon

22 Jun 2026, 05:25 WIBFiction
[PUISI] Andai Aku Cantik

[PUISI] Andai Aku Cantik

21 Jun 2026, 07:07 WIBFiction
[PUISI] Rahasia Surga

[PUISI] Rahasia Surga

20 Jun 2026, 20:38 WIBFiction
[PUISI] Pukul Tujuh Pagi

[PUISI] Pukul Tujuh Pagi

19 Jun 2026, 11:07 WIBFiction