Tangannya gemetar seperti lilin menolak padam
Menjaga sisa hangat dari kehidupan yang dirampas
Matanya adalah sumur sunyi,
Menyimpan gema tawa yang telah lama mati

Peluru-peluru melesat seperti burung besi tersesat,
Mengoyak udara dengan jeritan tajam
Ia meringkuk, di bawah temaram
Ia hanya rumput kering di padang kekuasaan

Dipijak sepatu-sepatu ambisi tanpa permisi
Layaknya butir debu di jalan kemenangan,
Terbang, jatuh, dan dilupakan.