[PUISI] Pahit yang Menetap

Kemiskinan adalah rasa paling pahit
Yang menetap lebih lama dari luka
Ia tak membunuh
Hanya mengikis pelan
Kami menelan hari demi hari
Tanpa air harapan
Tenggorokan terbiasa perih
Seperti takdir yang dilatih
Bahagia sesekali mampir
Seperti tamu salah alamat
Ia tersenyum sopan
Lalu pergi sebelum duduk
Pujian menutup cerita dengan tepuk tangan
Katanya hidup tetap indah
Kami mengangguk pelan
Sambil mengecap pahit yang sama
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.


















