Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

[PUISI] Pahit yang Menetap

Ilustrasi sekelompok anak kecil berjalan
Ilustrasi sekelompok anak kecil berjalan kaki (unsplash.com/Dulana Kodithuwakku)

Kemiskinan adalah rasa paling pahit
Yang menetap lebih lama dari luka
Ia tak membunuh
Hanya mengikis pelan

Kami menelan hari demi hari
Tanpa air harapan
Tenggorokan terbiasa perih
Seperti takdir yang dilatih

Bahagia sesekali mampir
Seperti tamu salah alamat
Ia tersenyum sopan
Lalu pergi sebelum duduk

Pujian menutup cerita dengan tepuk tangan
Katanya hidup tetap indah
Kami mengangguk pelan
Sambil mengecap pahit yang sama

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nabila Inaya
EditorNabila Inaya
Follow Us

Latest in Fiction

See More

[PUISI] Pahit yang Menetap

25 Jan 2026, 05:15 WIBFiction
ilustrasi langit

[PUISI] Ragu

25 Jan 2026, 05:04 WIBFiction
Pemandangan sore yang tenang dan sendu

[PUISI] Sore Pilu

24 Jan 2026, 05:15 WIBFiction
ilustrasi seseorang berdiri di tengah cahaya terang

[PUISI] Senyap Kemenangan

24 Jan 2026, 05:04 WIBFiction
ilustrasi perkuburan

[PUISI] Menuju Ketiadaan

23 Jan 2026, 05:04 WIBFiction
Ilustrasi angin

[PUISI] Embusan

22 Jan 2026, 21:17 WIBFiction
ilustrasi wanita yang berdiri di dekat kereta

[PUISI] Sapa Tanpa Gaung

21 Jan 2026, 05:15 WIBFiction
Potret kursi roda

[CERPEN] Kursi Roda Ali

20 Jan 2026, 21:56 WIBFiction
ilustrasi seorang pria di tengah keramaian

[PUISI] Berlalu-Lalang

20 Jan 2026, 21:48 WIBFiction