Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Kuliner Amerika Latin Identik dengan Jagung dan Kacang?
ilustrasi jagung (vecteezy.com/Tyas Indayanti)
  • Jagung telah menjadi bahan pokok kuliner Amerika Latin sejak ribuan tahun lalu, membentuk dasar berbagai hidangan tradisional seperti tortilla, tamales, dan arepas dengan teknik olahan yang beragam.
  • Kacang melengkapi cita rasa banyak masakan di kawasan ini, hadir dalam berbagai jenis dan cara pengolahan seperti refried beans Meksiko hingga feijoada khas Brasil.
  • Sistem pertanian milpa yang menanam jagung, kacang, dan labu bersama membuat bahan-bahan tersebut selalu tersedia dan diwariskan dalam resep turun-temurun masyarakat Amerika Latin.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sulit membahas kuliner Amerika Latin tanpa menemukan jagung dan kacang di berbagai hidangannya. Dari makanan kaki lima hingga sajian rumahan, kedua bahan ini hampir selalu hadir dalam resep-resep yang diwariskan selama bergenerasi.

Di balik penggunaannya yang begitu luas, ternyata ada sejarah panjang dan kebiasaan memasak yang membuat jagung dan kacang tetap menjadi fondasi banyak masakan khas di kawasan tersebut. Lantas, kenapa kuliner Amerika Latin identik dengan jagung dan kacang, ya?

1. Jagung menjadi fondasi lahirnya banyak makanan tradisional

ilustrasi elote (commons.wikimedia.org/Luis Alvaz)

Jagung telah dibudidayakan di wilayah yang kini menjadi Meksiko sejak sekitar 9 ribu tahun lalu melalui proses domestikasi tanaman liar bernama teosinte. Seiring berkembangnya peradaban Maya, Aztec, dan berbagai masyarakat di Amerika Tengah, jagung berubah dari sekadar hasil panen menjadi makanan pokok yang dikonsumsi setiap hari.

Berbeda dengan kawasan Asia yang berkembang dengan budaya makan nasi dan Eropa yang mengandalkan gandum, masyarakat Amerika Latin membangun banyak resep tradisional dengan jagung sebagai bahan utamanya. Karena telah digunakan selama ribuan tahun, keberadaan jagung akhirnya melekat pada identitas kuliner kawasan tersebut.

Hingga sekarang, satu jenis bahan ini masih melahirkan beragam makanan khas yang memiliki karakter berbeda. Jagung dapat digiling menjadi adonan masa untuk tortilla, dibentuk menjadi arepas, dibungkus sebagai tamales, dipanggang utuh menjadi elote, atau dimasak menjadi bubur dan minuman tradisional seperti atole. Perbedaan teknik memasak membuat rasa dan teksturnya berubah meski berasal dari bahan yang sama. Inilah yang membuat jagung tidak pernah terasa membosankan dalam kuliner Amerika Latin.

2. Kacang menghadirkan rasa gurih yang melengkapi banyak hidangan

ilustrasi feijoada (commons.wikimedia.org/Bradleyzm)

Selain jagung, kacang menjadi bahan yang hampir selalu hadir dalam berbagai menu sehari-hari. Amerika Latin mengenal banyak jenis kacang, seperti black beans, kacang pinto, kacang merah, hingga kacang putih. Masing-masing dipilih sesuai karakter masakan di setiap daerah sehingga cita rasa yang dihasilkan pun tidak selalu sama. Ada yang dimasak hingga kuahnya pekat, ada pula yang dihaluskan menjadi pasta lembut untuk pelengkap berbagai hidangan.

Contohnya dapat ditemukan pada refried beans di Meksiko yang sering disajikan bersama tortilla, taco, burrito, maupun enchilada. Di Brasil, black beans menjadi bahan utama feijoada yang dimasak perlahan bersama aneka daging hingga menghasilkan kuah yang kaya rasa.

Sementara itu, di kawasan Karibia, kacang merah kerap dimasak bersama nasi sehingga menjadi hidangan sederhana yang mengenyangkan. Kehadiran kacang tidak hanya menambah tekstur, tetapi juga memberikan rasa gurih yang membuat setiap sajian terasa lebih lengkap.

3. Cara bertani masyarakat ikut memengaruhi menu di meja makan

ilustrasi milpa (commons.wikimedia.org/Feria de Productores)

Salah satu alasan jagung dan kacang selalu tersedia bagi masyarakat Amerika Latin berkaitan dengan sistem pertanian tradisional yang dikenal sebagai milpa. Dalam metode ini, jagung, kacang, dan labu ditanam secara bersamaan di lahan yang sama.

Jagung menjadi tempat rambatan tanaman kacang, sementara kacang membantu memperkaya unsur nitrogen di dalam tanah. Di sisi lain, daun labu yang lebar menjaga kelembapan tanah sekaligus membantu mengurangi pertumbuhan gulma.

Kebiasaan menanam ketiga tanaman tersebut membuat hasil panennya selalu melimpah dan mudah dimanfaatkan sebagai bahan makanan sehari-hari. Kondisi inilah yang kemudian mendorong lahirnya berbagai resep berbahan jagung dan kacang di banyak daerah. Masyarakat memasak menggunakan bahan yang tersedia di sekitar mereka, lalu mewariskan resep tersebut kepada generasi berikutnya. Tidak mengherankan jika pola makan yang terbentuk ratusan tahun lalu masih dapat ditemukan dalam kuliner Amerika Latin modern.

4. Teknik memasaknya menghasilkan tekstur dan rasa yang sangat beragam

ilustrasi tortilla (commons.wikimedia.org/David Boté Estrada)

Keistimewaan kuliner Amerika Latin tidak hanya terletak pada bahannya, tetapi juga pada teknik mengolahnya. Salah satu proses paling penting adalah nixtamalization, yaitu merebus dan merendam jagung menggunakan air yang dicampur dengan kapur makanan (calcium hydroxide). Proses ini membuat kulit ari jagung lebih mudah dilepaskan sekaligus menghasilkan adonan masa yang lentur dan mudah dibentuk. Berkat teknik tersebut, adonan jagung dapat diolah menjadi tortilla yang tipis, tamales yang lembut, hingga sopes dengan tekstur yang lebih tebal.

Kacang juga membutuhkan proses yang tidak singkat sebelum siap diolah. Sebagian besar jenis kacang direndam terlebih dahulu selama beberapa jam agar lebih cepat empuk ketika direbus. Setelah matang, kacang bisa langsung dimasukkan ke dalam semur, dihaluskan menjadi pasta, atau dimasak kembali bersama bumbu hingga teksturnya menjadi lebih creamy. Teknik memasak yang berkembang selama ratusan tahun inilah yang membuat dua bahan sederhana mampu menghasilkan variasi hidangan yang sangat beragam.

5. Karakter rasanya membuat jagung dan kacang mudah dipadukan dengan banyak bahan

ilustrasi taco dan enchilada (commons.wikimedia.org/Missvain)

Jagung memiliki cita rasa yang cenderung ringan sehingga tidak mendominasi hidangan ketika dipadukan dengan bahan lain. Karena itulah tortilla dapat diisi daging sapi, ayam, seafood, keju, maupun sayuran tanpa kehilangan keseimbangan rasa.

Arepas juga mudah dipadukan dengan alpukat, ayam suwir, telur, hingga keju karena adonan jagung berfungsi sebagai dasar yang netral. Hal tersebut membuat banyak hidangan khas Amerika Latin tetap terasa kaya meski menggunakan isian yang berbeda-beda.

Hal serupa juga dimiliki oleh kacang yang gurih dengan tekstur lembut setelah dimasak. Kacang dapat berpadu dengan nasi, daging asap, sosis, rempah-rempah, tomat, paprika, maupun aneka saus tanpa saling menutupi cita rasa masing-masing. Kemampuan beradaptasi inilah yang membuat jagung dan kacang terus digunakan dalam resep tradisional maupun kreasi kuliner modern. Meski tren makanan terus berubah, keduanya tetap relevan karena mudah dikombinasikan dengan berbagai bahan yang berkembang di setiap daerah.

Kuliner Amerika Latin menunjukkan bahwa kekayaan rasa  lahir dari bahan yang sederhana. Melalui pengolahan yang terus berkembang selama ribuan tahun, jagung dan kacang berhasil menjadi dasar bagi lahirnya beragam hidangan yang kini dikenal di seluruh dunia. Semoga informasi di atas bisa menambah informasi baru untuk kamu yang ingin lebih mengenal kuliner Amerika Latin.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article