Mengenal Graffe, Donat Kentang Khas Italia yang Super Lembut

Belakangan ini, makin banyak orang penasaran dengan aneka roti dan pastry khas Eropa yang sering muncul di media sosial atau menu kafe. Di antara berbagai sajian tersebut, ada satu nama yang mungkin masih terdengar asing, yaitu graffe, donat kentang khas Italia dengan tampilan sederhana tetapi menggugah selera. Meski sekilas mirip donat pada umumnya, graffe ternyata punya tekstur yang lebih lembut dan cita rasa yang khas berkat penggunaan kentang dalam adonannya.
Kalau ini pertama kalinya kamu mendengar nama graffe, wajar kalau langsung penasaran, sebenarnya apa sih yang membedakannya dari donat yang biasa kita temui? Soalnya, camilan tradisional asal Italia ini memang belum sepopuler croissant atau bomboloni di Indonesia. Biar gak cuma penasaran, yuk kenalan lebih dekat dengan graffe, mulai dari sejarahnya, ciri khasnya, sampai alasan donat ini punya banyak penggemar di Italia.
1. Graffe dibuat dengan tambahan kentang dalam adonannya

Sekilas, graffe tampak mirip dengan donat biasa sehingga banyak yang beranggapan keduanya tidak memiliki perbedaan yang berarti. Namun, salah satu karakteristik utama graffe adalah penggunaan kentang yang direbus, dihaluskan, dan dicampurkan ke dalam adonan. Bahan ini menghasilkan tekstur yang lebih lembut, kenyal, serta tetap lembap meskipun telah sedikit mendingin.
Oleh karena itu, banyak orang yang baru pertama kali langsung merasakan perbedaan dibanding dengan donat biasa. Penggunaan kentang ini juga merupakan salah satu resep tradisional yang terus dilestarikan di berbagai toko roti tradisional di Italia. Jadi, ketika menemukan donat dengan tekstur yang sangat lembut dan ringan, ada kemungkinan itu adalah graffe.
2. Berasal dari napoli dan punya sejarah yang panjang

Banyak makanan khas Italia dikenal melalui pasta atau pizza, padahal negara ini juga menawarkan berbagai camilan tradisional yang menarik untuk dicoba. Graffe berasal dari daerah Napoli di Italia Selatan dan sudah dikenal sebagai kudapan favorit penduduk setempat selama ratusan tahun. Istilah "graffe" diyakini berasal dari kata Jerman krapfen, yang merujuk pada sejenis donat yang dibawa ke Italia akibat pengaruh budaya Eropa.
Seiring berjalannya waktu, resep ini berevolusi hingga memiliki karakter unik dengan tambahan kentang di dalam adonannya. Hingga saat ini, graffe masih dapat dengan mudah ditemukan di toko roti, pasar tradisional, hingga kedai kopi di Napoli. Keberadaan graffe menjadi bukti bahwa makanan yang sederhana dapat bertahan dari generasi ke generasi berkat rasa yang luar biasa.
3. Bentuknya sederhana, tetapi cita rasanya tetap istimewa

Di tengah maraknya donat dengan berbagai topping yang beraneka ragam, graffe justru hadir dengan penampilan yang lebih minimalis. Donat ini biasanya berbentuk lingkaran layaknya donat tradisional tanpa adanya lapisan glasir atau isi krim di dalamnya. Setelah digoreng, permukaannya hanya dihiasi dengan gula pasir sehingga menciptakan rasa manis yang pas.
Kesederhanaan inilah yang menjadikan rasa adonannya menonjol saat dinikmati. Banyak orang suka menikmati graffe dengan secangkir kopi atau teh karena kombinasi tersebut sangat cocok untuk camilan sore. Ini menunjukkan bahwa hidangan tidak selalu memerlukan banyak variasi tambahan agar bisa memanjakan lidah.
4. Paling nikmat disantap saat masih hangat

Pernah mencoba donat yang baru saja diangkat dari penggorengan dan langsung terasa lumer di mulut? Pengalaman itulah yang menjadi salah satu daya tarik utama dari graffe. Ketika masih hangat, bagian luar donat terasa sedikit renyah karena balutan gula, sedangkan bagian dalamnya tetap lembut dan empuk.
Aroma mentega, kentang, dan adonan yang baru matang juga semakin memperkaya pengalaman menyantapnya. Gak heran kalau banyak toko roti di Italia menyajikan graffe dalam keadaan hangat untuk mempertahankan kualitas rasanya. Kalau ada kesempatan, menikmati graffe segera setelah digoreng adalah cara terbaik untuk merasakan keistimewaannya.
5. Kini semakin dikenal di berbagai negara

Dulu, graffe mungkin hanya akrab di kalangan masyarakat Italia, tetapi kini popularitasnya mulai meluas ke berbagai negara. Media sosial, video memasak, dan tren kuliner membuat semakin banyak orang penasaran dengan donat kentang khas Napoli ini. Banyak baker rumahan hingga kafe mulai mencoba menghadirkan graffe dengan tetap mempertahankan resep tradisionalnya.
Meski mulai banyak bermunculan variasinya, graffe asli tetap mempertahankan adonan kentang yang lembut dengan taburan gula sebagai ciri khasnya. Menariknya, kesederhanaan itulah yang justru membuat graffe tetap disukai dan mampu bertahan di tengah tren kuliner yang terus berubah. Kalau suatu saat kamu ingin mencicipi camilan khas Italia yang rasanya berbeda dari donat pada umumnya, graffe bisa jadi pilihan yang patut masuk daftar incaranmu.
















![[QUIZ] Kalau Byeon Woo Seok Ajak Kamu Makan, maka Pilihlah Menu Ini!](https://image.idntimes.com/post/20250527/4-8-8-50-59c0d6525c0f437a9d4501cb0b640bf8-c77c8b20847f55f423906bed750c01a2.jpg)
![[QUIZ] Ibarat Menu Tumpeng 17 Agustus, Kamu Cocoknya Jadi Ini](https://image.idntimes.com/post/20240812/inna-safa-7tzszz-9lrw-unsplash-f4b5546b6c8b5ac8354c09ba85227994-c50835fa6a5f19b97fa6edcbd4ebe6aa.jpg)

![[QUIZ] Dari Makanan Khas Indonesia Favoritmu, Kami Tahu Negara yang Kamu Sukai](https://image.idntimes.com/post/20260415/pexels-farhad-8743818_268762d0-4f7a-4a77-b494-3ee8c5bea02f.jpg)

