Apa Benar Belajar Bahasa Asing Dapat Mencegah Risiko Demensia?

- Belajar bahasa asing melibatkan berbagai fungsi otak yang memperkuat cadangan kognitif, membantu otak beradaptasi terhadap penuaan dan menunda munculnya gejala demensia.
- Penelitian menunjukkan individu bilingual mengalami gejala demensia sekitar 4–5 tahun lebih lambat dibandingkan mereka yang hanya berbicara satu bahasa, meski risikonya tetap sama.
- Belajar bahasa asing tidak mencegah atau menyembuhkan demensia, tetapi dapat memperlambat kemunculan gejalanya dengan menjaga ketajaman fungsi kognitif di usia lanjut.
Pada usia lanjut, seseorang rentan mengalami demensia. Dilansir laman Alzheimer's Indonesia menyampaikan, setiap tiga detik ada satu orang yang mengidap demensia. Demi pencegahannya, banyak ahli yang menyarankan untuk menjaga gaya hidup sehat dan melatih kemampuan berpikir.
Sebuah studi menyatakan melatih kemampuan berpikir seperti belajar bahasa asing dapat mencegah risiko demensia. Benarkah demikian? Oleh karena itu, diartikel ini akan membahas lebih lanjut mengenai topik ini. Simak penjelasannya di bawah ini!
1. Belajar bahasa asing dapat menguatkan cadangan kognitif

Belajar bahasa asing bukan sekadar menambah keterampilan komunikasi saja. Aktivitas ini juga melibatkan berbagai fungsi otak yang berperan dalam pembentukan cognitive reserve atau cadangan kognitif.
Menurut jurnal Enhancing Cognitive Reserve Through Foreign Language Learning (2025), cognitive reserve atau cadagan kognitif merupakan kemampuan otak untuk mengkompensasi kerusakan akibat penuaan atau penyakit neurodegeneratif. Dengan cadangan kognitif yang lebih baik, gejala demensia dapat muncul lebih lambat, meskipun proses penyakitnya tetap berlangsung.
Jurnal tersebut juga menyebutkan bahwa proses belajar bahasa asing melibatkan aktivitas kognitif intensif. Misalnya, melibatkan memori, perhatian, pemecahan masalah, dan interaksi sosial. Keterlibatan berbagai fungsi ini membuat pembelajaran bahasa asing berpotensi menjadi salah satu bentuk stimulasi kognitif yang dapat mendukung peningkatan cadangan kognitif.
2. Menurut studi, orang bilingual mengalami gejala demensia 4 sampai 5 tahun lebih lambat

Beberapa riset klinis dan meta-analisis menunjukkan bahwa kemampuan berbicara dua bahasa atau lebih dikaitkan dengan penundaan munculnya gejala demensia, termasuk Alzheimer, jika dibandingkan dengan individu yang hanya berbicara satu bahasa.
Bahkan, sebuah studi besar yang sering dikutip dalam literatur neurologi menemukan bahwa dari 648 pasien dengan demensia, pasien bilingual mengalami gejala demensia sekitar 4,5 tahun lebih lambat dibandingkan pasien monolingual. Penelitian ini juga memperhitungkan faktor lain seperti tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, dan status sosial, serta menunjukkan bahwa efek tersebut konsisten pada berbagai tipe demensia, termasuk Alzheimer, demensia frontotemporal, dan demensia vaskular.
Temuan lain dari Bilingualism Is Associated with a Delayed Onset of Dementia but Not with a Lower Risk of Developing it: a Systematic Review with Meta-Analyses (2020) menunjukkan orang bilingual mengalami gejala Alzheimer rata-rata 4 sampai 5 tahun lebih lambat dibandingkan monolingual. Meski demikian, risiko untuk mendapatkan diagnosis demensia secara keseluruhan tetap serupa pada kedua kelompok tersebut.
3. Belajar bahasa asing memperlambat gejala, bukan mencegah penyakit demensia

Jadi, apakah belajar bahasa asing benar-benar bisa menurunkan risiko demensia? Jawabannya, bisa tetapi dengan catatan penting. Pembelajaran bahasa asing diketahui dapat menunda munculnya gejala demensia saja, bukan menghilangkan penyakitnya.
Sebab, penyakit demensia bersifat degeneratif atau tidak dapat disembuhkan. Namun dapat diperlambat, salah satunya dengan melatih kemampuan berpikir seperti belajar bahasa asing ini.
Dari penjelasan di atas, belajar bahasa asing bukanlah obat untuk demensia. Tetapi dapat membantu menunda kemunculan gejalanya saja, sehingga fungsi kognitif dapat bertahan lebih lama.


![[QUIZ] Dari Playlist Lari Kamu, Kami Bisa Tebak Tipe Kepribadian Kamu](https://image.idntimes.com/post/20251227/pexels-olly-3764533_8ca73bd2-0b14-4462-81cf-35efcfbbbd23.jpg)


![[QUIZ] Gaya Larimu Bisa Ungkap Cara Kamu Menghadapi Hidup](https://image.idntimes.com/post/20241226/pexels-ketut-subiyanto-5037354-c6e430ffa2ab45408b74e54c6f8d59e3.jpg)












![[QUIZ] Genre Musik Favoritmu Bisa Bocorkan Responsmu saat Tertekan](https://image.idntimes.com/post/20220311/whatsapp-image-2022-03-11-at-112034-am-1-68380bd095c0dd0760a7d48c486cb7e1.jpeg)