Setelah persiapan berbulan-bulan, garis finis race sering dibayangkan sebagai akhir yang bahagia dengan medali di tangan, foto dan video race, serta ucapan selamat dari banyak orang.
Setelah itu semua usai, kemudian rasa muncullah semacam rasa hampa, seakan kehilangan arah. Bangun pagi rasanya tak ada tujuan. Tubuh lelah, tetapi pikiran gelisah. Ada yang merasa sedih tanpa alasan yang jelas, ada yang merasa kehilangan rutinitas, ada pula yang langsung ingin mendaftar race baru hanya supaya punya sesuatu untuk dikejar lagi. Kondisi ini sering disebut post-race blues.
Post-race blues bukan diagnosis klinis resmi, tetapi menggambarkan rasa hampa, murung, kehilangan arah, atau turunnya motivasi setelah menyelesaikan lomba endurance seperti lari jarak jauh, triatlon, HYROX, atau event fisik berat lainnya.
Studi kualitatif tahun 2024 pada 16 atlet rekreasional yang menyelesaikan endurance race lebih dari 180 menit menemukan empat tema besar setelah race, yakni high on life, kehilangan energi/ambivalensi/melankoli, emosi yang dipengaruhi aktivitas, serta perubahan emosi seiring waktu dan kebutuhan tujuan baru.
