Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Apakah Gaya Hidup Modern Mengubah Pola Tidur 'Alami' Manusia?
ilustrasi tidur (pexels.com/Ketut Subiyanto)
  • Penelitian sejarah oleh Roger Ekirch menunjukkan bahwa manusia dulu memiliki pola tidur bifasik, yaitu dua kali tidur dalam semalam sebelum munculnya cahaya buatan.
  • Beberapa studi modern mendukung teori tersebut dengan meneliti masyarakat tanpa listrik yang cenderung memiliki pola tidur serupa, meski hasilnya masih diperdebatkan.
  • Riset lain menemukan bahwa manusia modern lebih condong pada pola tidur monofasik, dipengaruhi faktor lingkungan, sosial, dan kebutuhan biologis daripada sekadar kebiasaan masa lalu.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Dalam ilmu pengetahuan, studi tentang pola tidur tergolong masih sangat baru. Studi yang meneliti tentang tidur dan polanya baru muncul pada abad ke-19. Nah, untuk mempelajari pola tidur sebelum itu, peneliti harus menggali sumber-sumber non-ilmiah seperti dari catatan sejarah, buku harian, dan novel.

Roger Ekirch, seorang profesor sejarah, meneliti hal itu dan mengklaim bahwa manusia dulunya mengandalkan pola tidur bifasik. Apa itu? Yap, kebiasaan tidur selama beberapa jam setelah matahari terbenam, bangun selama 1 jam atau lebih di tengah malam, lalu tidur hingga fajar. Namun, pola tidur ini hilang seiring dengan munculnya cahaya buatan yang ada di mana-mana.

Teori Roger Ekirch ini diuraikan dalam American Historical Review. Teori ini meneliti sejumlah sumber dari Inggris Abad Pertengahan dan Era Renaisans. Jadi, pola tidur yang terjadi di era modern ini bukanlah pola tidur alami manusia. Teori tersebut tentunya sangat berani. Jadi, apa benar gaya hidup modern mengubah pola tidur alami manusia?

1. Pola tidur bifasik terkait erat dengan tidak adanya cahaya buatan

ilustrasi memainkan smartphone sebelum tidur (pixabay.com/Luisella Planeta LOVE PEACE 💛💙)

Sebagian besar bukti teori Roger Ekirch bersifat sastra dan epistolary (berkas). Itu artinya, bukti tersebut tidak memenuhi standar ketat yang ditetapkan oleh sains modern. Namun, ia menyajikan banyak sumber yang menyebutkan adanya "tidur pertama" dan "tidur kedua." Selain itu, ada studi ilmiah yang mendukung kesimpulannya, nih.

Misalnya, sebuah studi yang ditulis Thomas A. Wehr, berjudul "In Short Photoperiods, Human Sleep is Biphasic" (1992), yang diterbitkan dalam Journal of Sleep Research, mengubah fotoperiod (jumlah waktu seseorang yang terpapar cahaya) tujuh subjek dari 16 jam menjadi hanya 10 jam selama 4 minggu. Selama percobaan, semua subjek mengandalkan pola tidur polifasik, dengan sebagian besarnya mengandalkan pola tidur bifasik.

Studi lain yang diteliti oleh David R. Samson, dkk., berjudul "Segmented Sleep in A Nonelectric, Small-Scale Agricultural Society in Madagascar" (2017), dalam American Journal of Human Biology, meneliti 21 orang dari pedesaan Madagaskar yang hidup tanpa listrik. Para peneliti tersebut menemukan bahwa pola tidur bawaan mereka juga bifasik. Ini menandakan bahwa mereka memiliki pola tidur alami tanpa adanya listrik.

Dalam konteks yang serupa, beberapa studi telah menemukan bahwa kelompok tanpa akses listrik cenderung lebih banyak tidur di malam hari. Sebagai contoh, sebuah studi yang ditulis Eduardo Fernández-Duque, dkk., yang berjudul "Access to Electric Light Is Associated with Shorter Sleep Duration in a Traditionally Hunter-Gatherer Community" (2015), dalam Journal of Biological Rhythms, meneliti pola tidur dua kelompok masyarakat adat yang memiliki hubungan dekat di Argentina. Satu kelompok memiliki akses listrik, dan kelompok lainnya tidak. Para peneliti menemukan bahwa kelompok tanpa listrik cenderung tidur lebih lama, karena mereka tidur lebih awal berkat kurangnya cahaya buatan.

2. Adanya pro-kontra terkait penelitian pola tidur bifasik

ilustrasi tidur (pexels.com/Ivan Oboleninov)

Terlepas dari gagasan bahwa pola tidur bifasik adalah pola tidur "alami" bagi manusia, tapi ada banyak bukti yang menentangnya, seperti halnya bukti yang mendukungnya. Nah, dalam studi tahun 1992 yang sudah kita bahas di poin sebelumnya, ternyata subjeknya dikurung di ruangan gelap selama 14 jam dan tidak diizinkan melakukan aktivitas apa pun. Kemudian studi di Madagaskar juga ditemukan bahwa individu-individu tersebut tidur lebih sedikit dan memiliki kualitas tidur yang lebih rendah ketimbang rekan-rekan mereka yang menggunakan listrik. Jadi, pola tidur bifasik mereka merupakan hasil dari lingkungan lokal atau kebiasaan.

3. Manusia punya pola tidurnya sendiri

ilustrasi tidur (pexels.com/Polina)

Kemudian, sebuah studi yang ditulis Gandhi Yetish, dkk., berjudul "Natural Sleep and Its Seasonal Variations in Three Pre-industrial Societies" (2015), dalam Current Biology, meneliti tiga kelompok pra-industri di Afrika dan Amerika Selatan. Penelitian ini menemukan bahwa semuanya memiliki tidur monofasik. Di sisi lain, ahli biologi evolusi menjelaskan bahwa tidur monofasik adalah pola tidur bagi semua primata tingkat tinggi. Sementara itu, pola tidur gajah bersifat bifasik.

Tidur manusia sendiri mungkin bukan bifasik maupun monofasik. Sebuah artikel tahun 2016 yang secara khusus meneliti evolusi tidur manusia menunjukkan bahwa ekologi kita adalah pendorong utama tidur. Pola tidur "alami" kita lebih dipengaruhi oleh kewaspadaan dan kebutuhan akan makanan, serta sosialisasi ketimbang hal-hal yang melekat pada biologi kita.

Kesimpulannya, analisis historis dari Roger Ekirch tentang pola tidur manusia, terutama mencakup Inggris dan Eropa Barat, yang sebagian besar berada di utara garis lintang 40 derajat, menjelaskan bahwa malam terpendek dalam setahun memiliki waktu 9 jam. Nah, sedangkan malam terpanjangnya memiliki 15 jam atau lebih. Jadi, munculnya pola tidur bifasik tidaklah mengejutkan pada periode tersebut, tapi belum tentu "alami."

Referensi

Ekirch, A. Roger. “Sleep We Have Lost: Pre-Industrial Slumber in the British Isles.” The American Historical Review. Diakses Februari 2026.

“Seasonal Variation in Human Sleep.” Journal of Sleep Research. Diakses Februari 2026.

“Sleep Duration and Human Biology.” American Journal of Human Biology. Diakses Februari 2026.

“Circadian Rhythms and Human Sleep Patterns.” Journal of Biological Rhythms. Diakses Februari 2026.

“How the Age of the Bed Changed the Way We Sleep.” JSTOR Daily. Diakses Februari 2026.

“Two Sleeps: Segmented Sleep in History.” The Weald & Downland Living Museum. Diakses Februari 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team