Takjil hampir selalu identik dengan rasa manis dan tekstur renyah, mulai dari kolak hingga gorengan hangat yang disantap saat berbuka. Kombinasi gula sederhana dan lemak dari proses penggorengan sering dikaitkan dengan keluhan tubuh terasa berat setelah makan. Pertanyaannya, apakah perpaduan takjil manis dan gorengan benar-benar dapat memicu inflamasi di dalam tubuh atau sekadar membuat perut terasa tidak nyaman sesaat? Isu ini relevan karena inflamasi kronis berhubungan dengan berbagai penyakit metabolik. Berikut penjelasan yang perlu kamu pahami sebelum menarik kesimpulan.
Apakah Kombinasi Takjil Manis dan Gorengan Memicu Inflamasi?

1. Kombinasi gula sederhana dan lemak panas meningkatkan beban metabolik tubuh
Saat berbuka, tubuh yang sebelumnya berpuasa mengalami lonjakan asupan glukosa jika langsung mengonsumsi minuman manis atau kolak dengan kadar gula tinggi. Gula sederhana cepat diserap usus dan menaikkan kadar gula darah dalam waktu singkat, lalu pankreas melepas insulin dalam jumlah besar untuk menurunkannya. Pada saat yang sama, gorengan menyumbang lemak jenuh dan lemak trans akibat pemanasan minyak berulang. Kondisi ini membuat tubuh memproses dua komponen padat energi sekaligus, yaitu gula tinggi dan lemak hasil oksidasi.
Beban metabolik tersebut dapat memicu pembentukan senyawa proinflamasi, seperti sitokin, ketika terjadi lonjakan gula darah berulang. Lemak yang teroksidasi juga meningkatkan stres oksidatif, kondisi ketika radikal bebas lebih banyak dibandingkan antioksidan dalam tubuh. Jika berlangsung sesekali, tubuh masih mampu menetralkan efeknya. Namun, bila menjadi kebiasaan setiap hari selama Ramadan tanpa kontrol porsi, risiko inflamasi tingkat rendah dapat meningkat secara perlahan.
2. Proses penggorengan suhu tinggi menghasilkan senyawa proinflamasi
Gorengan yang digoreng pada suhu tinggi, terutama menggunakan minyak yang dipakai berulang, menghasilkan advanced glycation end products (AGEs). Senyawa ini terbentuk dari reaksi antara gula dan protein atau lemak ketika terkena panas tinggi. AGEs diketahui dapat merangsang pelepasan zat proinflamasi di dalam tubuh. Selain itu, minyak yang teroksidasi menghasilkan aldehida dan radikal bebas yang ikut memperberat kerja sel.
Ketika dikonsumsi bersamaan dengan takjil manis, pembentukan AGEs di dalam tubuh bisa meningkat karena kadar gula darah sedang tinggi. Gula berlebih dalam sirkulasi mempercepat proses glikasi pada jaringan tubuh. Dampaknya tidak langsung terasa, tetapi dalam jangka panjang dapat berkaitan dengan gangguan pembuluh darah dan resistensi insulin. Ini yang membuat kombinasi manis dan gorengan perlu disikapi lebih hati-hati, bukan sekadar dinilai dari jumlah kalori.
3. Lonjakan gula darah berulang memperkuat sinyal inflamasi ringan
Setelah berpuasa, sensitivitas tubuh terhadap glukosa cenderung meningkat sehingga kenaikan gula darah bisa lebih tajam jika asupan terlalu manis. Lonjakan ini diikuti penurunan cepat yang kadang membuat tubuh terasa lemas. Fluktuasi tajam tersebut mendorong pelepasan hormon tertentu yang berkaitan dengan proses inflamasi ringan. Bila terjadi berulang, kondisi ini dapat memicu resistensi insulin secara bertahap.
Inflamasi ringan tidak selalu menimbulkan nyeri atau demam, tetapi bisa ditandai rasa mudah lelah dan lingkar perut yang bertambah. Pada orang dengan faktor risiko, seperti obesitas atau riwayat diabetes, efeknya lebih nyata. Artinya, takjil manis bukan masalah utama jika porsinya kecil dan tidak dikonsumsi bersamaan dengan lemak berlebih. Hal yang perlu diwaspadai antara lain frekuensi dan jumlah, terutama ketika berbuka menjadi ajang balas dendam setelah seharian menahan lapar.
4. Kondisi kesehatan individu menentukan besar kecilnya dampak inflamasi
Tidak semua orang merespons kombinasi takjil manis dan gorengan dengan cara yang sama. Seseorang dengan berat badan ideal dan aktivitas fisik cukup mungkin lebih mudah mengelola lonjakan gula serta lemak. Sebaliknya, individu dengan sindrom metabolik, kadar kolesterol tinggi, atau perlemakan hati memiliki risiko inflamasi lebih besar. Faktor genetik dan kualitas tidur juga turut memengaruhi proses peradangan di dalam tubuh.
Karena itu, penilaian tidak bisa disamaratakan seolah setiap orang pasti mengalami inflamasi berat setelah makan gorengan dan minuman manis. Pendekatan yang lebih tepat ialah mengenali kondisi kesehatan pribadi melalui pemeriksaan rutin. Dengan mengetahui kadar gula darah, profil lipid, dan tekanan darah, pilihan takjil dapat disesuaikan. Langkah ini lebih rasional dibandingkan sekadar mengikuti tren diet ekstrem tanpa dasar medis.
5. Pengaturan porsi dan variasi takjil menekan risiko inflamasi
Mengurangi risiko inflamasi bukan berarti harus menghapus takjil manis atau gorengan sepenuhnya. Cara paling realistis ialah membatasi porsi dan tidak mengonsumsi keduanya dalam jumlah besar sekaligus. Sebagai contoh, kamu bisa memilih satu jenis gorengan dan mengganti minuman sangat manis dengan air putih atau infused water. Tambahan buah berserat dapat membantu memperlambat penyerapan gula.
Mengatur jeda waktu makan juga membantu tubuh beradaptasi setelah puasa. Memulai dengan air dan makanan ringan rendah gula sebelum menyantap hidangan utama memberi kesempatan sistem pencernaan bekerja lebih optimal. Kebiasaan kecil ini berdampak signifikan dalam menekan pembentukan senyawa proinflamasi. Dengan langkah sederhana dan konsisten, risiko inflamasi akibat kombinasi takjil manis serta gorengan dapat ditekan tanpa harus merasa tersiksa.
Kombinasi takjil manis dan gorengan memang berpotensi memicu inflamasi ringan jika dikonsumsi berlebihan serta terus-menerus. Dampaknya tidak selalu langsung terasa, tetapi dapat terakumulasi, terutama pada orang dengan faktor risiko metabolik. Dengan memahami cara kerja tubuh dan mengatur porsi secara bijak, masihkah perlu menjadikan takjil sebagai kambing hitam tanpa melihat kebiasaan makan secara keseluruhan?
Referensi
"5 Foods That Can Trigger Inflammation in the Body". Verywell Health. Diakses Februari 2026.
"Excessive intake of sugar: An accomplice of inflammation". Frontier in Immunology. Diakses Februari 2026.
"What Foods Cause Inflammation?". Healthline. Diakses Februari 2026.