ilustrasi makan mi pedas (magnific.com/freepik)
Meski cuaca panas, konsumsi makanan pedas belum tentu buruk untuk kesehatan tubuh. Ternyata, beberapa penelitian menyebutkan bahwa keringat yang muncul setelah makan pedas bisa membantu tubuh merasa lebih sejuk setelahnya. Selain itu, cabai juga mengandung senyawa yang dapat membantu meningkatkan metabolisme tubuh.
Meski memiliki beberapa manfaat, konsumsi makanan pedas tetap perlu disesuaikan dengan pola makan harian, kondisi kesehatan, serta kemampuan tubuh setiap orang dalam menerima rasa pedas. Di sisi lain, konsumsi pedas berlebihan tetap berisiko memicu gangguan pencernaan atau membuat tubuh kurang nyaman saat cuaca sedang ekstrem. Karena itu, penting untuk memahami batas toleransi tubuh sendiri dan mengatur porsi makanan pedas secara bijak agar tubuh tetap nyaman beraktivitas meski cuaca sedang terik.
Jadi, makan pedas saat cuaca panas sebenarnya tidak selalu buruk untuk tubuh, asalkan porsinya masih wajar dan kondisi tubuh tetap diperhatikan. Selain itu, makanan pedas juga bisa memicu keringat yang membantu tubuh terasa lebih sejuk, meski di sisi lain konsumsi berlebihan tetap berisiko menyebabkan gangguan pencernaan atau dehidrasi. Apalagi kalau kamu pencinta pedas, tetap nikmati makanan favoritmu dengan bijak supaya tubuh tetap nyaman saat cuaca sedang panas-panasnya.
Referensi
“Hubungan Perilaku Mengonsumsi Makanan Pedas dengan Kejadian Dispepsia pada Siswa Kelas XI.” Jurnal Kesehatan Tambusai. Diakses Mei 2026.
“Efektivitas Program Aklimatisasi Panas terhadap Performa Atlet dalam Kondisi Lingkungan yang Ekstrem.”Sains Olahraga: Jurnal Ilmiah Ilmu Keolahragaan. Diakses Mei 2026.
“Komparasi Adaptasi Fisiologis Atlet POMNAS terhadap Perubahan Suhu dan Kelembaban.” Global Journal Sports. Diakses Mei 2026.
“Hubungan Durasi Tidur dan Kebiasaan Konsumsi Makanan Pedas dengan Kejadian Obesitas pada Mahasiswa Politeknik Negeri Jember.” HARENA: Jurnal Gizi. Diakses Mei 2026.
“Kelainan Variasi Normal Lidah yang Dipicu Makanan Pedas dan Panas pada Pasien dengan Kondisi Anemia.”Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran. Diakses Mei 2026.