Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Perempuan Lebih Rentan Autoimun, Ada Peran Stres?

Perempuan Lebih Rentan Autoimun, Ada Peran Stres?
ilustasi stres yang dapat berperan (pexels.com/MART PRODUCTION)
Intinya Sih
  • Banyak penyakit autoimun memang lebih sering dialami perempuan, tetapi penyebabnya tidak hanya hormon. Gen, kromosom X, lingkungan, dan cara sistem imun bekerja ikut berperan.

  • Stres berat dan berkepanjangan dikaitkan dengan risiko serta kekambuhan autoimun, tetapi belum terbukti menjadi penyebab tunggal.

  • Mengelola stres dapat membantu kondisi fisik dan mental, tetapi tidak menggantikan obat, kontrol dokter, atau pemeriksaan medis.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Seorang perempuan bisa tetap bekerja sambil menahan nyeri sendi, kelelahan yang tidak membaik setelah tidur, atau ruam yang datang dan pergi. Gejala-gejala tersebut kerap dianggap akibat kurang istirahat atau terlalu banyak pikiran. Ketika gejala terus berulang, barulah muncul kekhawatiran, salah satunya penyakit autoimun.

Penyakit autoimun terjadi ketika sistem kekebalan keliru mengenali sel, jaringan, atau organ tubuh sebagai ancaman. Akibatnya, sistem yang seharusnya melindungi tubuh justru menimbulkan peradangan dan kerusakan. Penyakitnya sangat beragam, mulai dari lupus, artritis reumatoid, penyakit Hashimoto, skleroderma, hingga diabetes tipe 1.

Perempuan memang mendominasi penyakit autoimun. Lantas, apakah penyakit autoimun pada perempuan disebabkan oleh estrogen atau stres?

1. Mengapa perempuan lebih rentan mengalami autoimun?

Diperkirakan hampir 80 persen orang dengan penyakit autoimun adalah perempuan. Namun, perbandingan ini tidak berlaku sama untuk setiap penyakit. Ada penyakit yang lebih dominan pada perempuan, sedangkan penyakit lainnya memiliki angka yang lebih seimbang antara perempuan dan laki-laki.

Salah satu penjelasannya, sistem imun perempuan umumnya menghasilkan respons yang lebih kuat. Respons ini dapat membantu tubuh melawan sejumlah infeksi, tetapi pada orang yang rentan, aktivitas imun yang kuat juga dapat meningkatkan kemungkinan terbentuknya reaksi terhadap jaringan tubuh sendiri.

Hormon seks, termasuk estrogen dan progesteron, dapat memengaruhi cara sel imun bekerja. Akan tetapi, estrogen bukan penyebab autoimun. Pengaruhnya dapat berbeda menurut kadar hormon, usia, jenis sel imun, tahap siklus menstruasi, kehamilan, dan penyakit yang dialami.

Kromosom X juga banyak diteliti. Perempuan umumnya memiliki dua kromosom X, sementara laki-laki memiliki satu. Sejumlah gen yang berperan dalam sistem kekebalan terletak pada kromosom X.

Studi menemukan bahwa kompleks RNA dan protein bernama XIST dapat mendorong pola autoimunitas yang lebih berat dalam model tikus tertentu. Para peneliti juga menemukan antibodi terhadap beberapa komponen kompleks XIST dalam sampel pasien autoimun.

Temuan tersebut memberi petunjuk tentang perbedaan biologis antara perempuan dan laki-laki, tetapi belum menjadi bukti bahwa XIST merupakan penyebab seluruh penyakit autoimun pada perempuan. Penelitian utamanya banyak menggunakan model hewan, sementara mekanisme pada manusia kemungkinan melibatkan gabungan faktor genetik, hormonal, lingkungan, dan gaya hidup.

Dengan kata lain, kerentanan biologis biasanya perlu bertemu dengan faktor lain sebelum penyakit muncul.

2. Apakah stres dapat menyebabkan autoimun?

Ilustrasi perempuan dengan tingkat stres tinggi yang menggambarkan kelelahan serta tekanan emosional dalam keseharian.
ilustrasi tingkat stres tinggi pada perempuan (pexels.com/Ron Lach)

Prof. Dr. dr. Nyoman Kertia, Sp.PD-KR, pakar reumatologi dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM, menjelaskan bahwa pasien sering makin cemas setelah membaca berbagai informasi mengenai penyakitnya.

Menurutnya, stres dapat memperburuk kondisi autoimun, mengutip laman resmi UGM. Ia juga mengingatkan pasien agar tidak memaksakan diri hingga kelelahan serta tetap mengikuti pengobatan dari dokter.

Ada bukti hubungan antara stres berat dan autoimunitas. Sebuah studi berbasis registrasi nasional di Swedia mengikuti 106.464 orang yang didiagnosis mengalami gangguan terkait stres, seperti gangguan stres pascatrauma dan gangguan penyesuaian.

Selama sekitar 10 tahun, angka diagnosis autoimun tercatat 9,1 per 1.000 orang-tahun pada kelompok dengan gangguan terkait stres, dibanding 6,0 pada kelompok pembanding. Setelah berbagai faktor diperhitungkan, kelompok dengan gangguan terkait stres memiliki risiko relatif sekitar 36 persen lebih tinggi.

Namun, ini merupakan penelitian observasional sehingga tidak membuktikan bahwa stres secara langsung menyebabkan autoimun. Faktor genetik, kebiasaan hidup, kondisi kesehatan mental lain, infeksi, akses layanan kesehatan, atau perubahan biologis yang sudah terjadi sebelum diagnosis mungkin ikut memengaruhi hasilnya.

Gangguan terkait stres dalam penelitian tersebut juga merupakan diagnosis klinis, bukan stres karena sibuk, terjebak macet, atau tertekan akibat deadline.

Pada orang yang sudah hidup dengan penyakit autoimun, stres bisa memperburuk tidur, nyeri, kelelahan, kecemasan, dan kemampuan mengikuti pengobatan. Sebagian pasien juga melaporkan gejala memburuk setelah masa yang penuh tekanan. Namun, pemicu kekambuhan bisa berbeda pada setiap penyakit dan setiap orang.

3. Manajemen stres membantu, tetapi bukan pengganti pengobatan

Mengelola stres merupakan bagian penting dari perawatan. Teknik relaksasi tidak dapat menghentikan sistem imun yang sedang menyerang ginjal, paru-paru, sendi, tiroid, atau organ lain tanpa pengobatan medis yang sesuai.

Uji acak terkontrol pada pasien artritis reumatoid menunjukkan program mindfulness-based stress reduction dapat membantu sejumlah aspek psikologis dan aktivitas penyakit. Namun, penelitian mengenai mindfulness pada penyakit rematik masih relatif kecil dan hasilnya tidak selalu konsisten. Intervensi tersebut paling tepat digunakan sebagai pendamping, bukan pengganti obat.

Langkah yang lebih realistis bagi pasien meliputi:

  • Jangan menghentikan obat saat merasa membaik. Kondisi yang tenang dapat berarti pengobatan sedang bekerja, bukan penyakit hilang.
  • Catat pola gejala. Tulis kapan kelelahan, nyeri, bengkak, ruam, atau demam muncul, berapa lama berlangsung, dan apa yang terjadi sebelumnya.
  • Bangun waktu pemulihan. Prioritaskan tidur, hindari jadwal yang terus memaksa tubuh melewati batas, dan lakukan aktivitas fisik sesuai kemampuan.
  • Cari bantuan untuk stres yang sulit dikendalikan. Konseling, terapi perilaku kognitif, latihan pernapasan, atau mindfulness dapat dipertimbangkan.
  • Hindari diet ekstrem dan terapi yang belum terbukti. Tidak ada satu makanan yang menjadi penyebab atau obat bagi penyakit autoimun.
  • Diskusikan rencana kehamilan lebih awal. Aktivitas penyakit dan keamanan obat perlu dinilai sebelum kehamilan, bukan setelah obat dihentikan sendiri.

Gejala penyakit autoimun sering menyerupai banyak kondisi lain. Kelelahan atau nyeri otot saja tidak cukup untuk membuat diagnosis, dan tidak ada satu pemeriksaan darah yang dapat memastikan seluruh jenis autoimun.

Dokter biasanya menggabungkan pola gejala, pemeriksaan fisik, riwayat keluarga, tes laboratorium, dan pemeriksaan organ yang dicurigai.

Temui dokter jika keluhan menetap atau berulang, terutama jika disertai sendi membengkak, ruam yang tidak biasa, demam tanpa penyebab jelas, kelemahan berat, perubahan berat badan, mata atau mulut sangat kering, maupun gangguan pada beberapa bagian tubuh sekaligus.

Perempuan memang lebih rentan mengalami banyak penyakit autoimun, tetapi penyebabnya bukan semata-mata hormon atau stres. Manajemen stres dapat membantu menjaga kualitas hidup dan mengurangi beban gejala, tetapi fondasi perawatannya tetap diagnosis yang tepat, pengobatan sesuai penyakit, serta kontrol rutin ke dokter.

Referensi

Universitas Gadjah Mada, “Perempuan Rentan Kena Autoimun, Pakar UGM Sebut Manajemen Stres jadi Solusi,” diakses Juli 2026.

National Institutes of Health, Office of Research on Women’s Health, “Office of Autoimmune Disease Research,” diakses Juli 2026.

Diana R. Dou et al., “Xist Ribonucleoproteins Promote Female Sex-Biased Autoimmunity,” Cell 187, no. 3 (2024): 733–749.e16, https://doi.org/10.1016/j.cell.2023.12.037.

Huan Song et al., “Association of Stress-Related Disorders with Subsequent Autoimmune Disease,” JAMA 319, no. 23 (2018): 2388–2400, https://doi.org/10.1001/jama.2018.7028.

Francesca A. Fogarty et al., “The Effect of Mindfulness-Based Stress Reduction on Disease Activity in People with Rheumatoid Arthritis: A Randomised Controlled Trial,” Annals of the Rheumatic Diseases 74, no. 2 (2015): 472–474, https://doi.org/10.1136/annrheumdis-2014-205946.

Dana DiRenzo et al., “Mindfulness-Based Interventions for Rheumatoid Arthritis: A Systematic Review and Meta-Analysis,” Current Rheumatology Reports 20, no. 10 (2018): 75, https://doi.org/10.1007/s11926-018-0787-9.

National Library of Medicine, “Autoimmune Diseases,” MedlinePlus, diakses Juli 2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More