Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Kerusakan Retina Sering Tidak Bisa Dipulihkan?

Kenapa Kerusakan Retina Sering Tidak Bisa Dipulihkan?
ilustrasi kesehatan mata (magnific.com/benzoix)
Intinya Sih
  • Retina merupakan jaringan saraf berlapis yang harus terhubung dengan tepat agar dapat mengirimkan informasi visual ke otak.

  • Pengobatan dapat menghentikan kebocoran, mengatasi robekan, menempelkan kembali retina, atau mempertahankan sel yang masih hidup. Namun, terapi belum tentu mengembalikan sel yang sudah mati.

  • Kilatan cahaya, banyak floaters baru, bayangan seperti tirai, atau titik gelap yang menetap harus segera diperiksa.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Suatu hari kamu menyadari garis lurus tampak bergelombang, atau ada titik gelap yang tidak berpindah dari tengah pandangan, atau bayangan seperti tirai menutupi sisi penglihatan. Mungkin mata tidak terasa sakit, tetapi gejala-gejala tersebut tidak boleh diabaikan karena dapat menandakan masalah pada retina.

Masalah pada retina tidak boleh disepelekan karena banyak penyakit retina merusak sel penglihatan secara ireversibel.

Dengan kemajuan teknologi medis, banyak penyakit retina kini dapat ditangani dengan suntikan, laser, operasi, terapi gen untuk kondisi tertentu, maupun radiasi lokal pada kanker mata. Namun, hasil pengobatannya sangat bergantung pada berapa banyak sel retina yang masih dapat diselamatkan ketika terapi dimulai.

“Sel yang rusak tetapi masih hidup mungkin pulih sebagian setelah pengobatan, meskipun belum tentu kembali normal. Setelah sel retina mati, penglihatan yang didukung oleh sel tersebut umumnya hilang secara permanen,” kata Prof. Gavin Tan Siew Wei, Kepala dan Konsultan Senior Departemen Retina Bedah di Singapore National Eye Centre (SNEC).

Cara kerja retina

Retina adalah jaringan peka cahaya yang melapisi bagian belakang mata. Di dalamnya terdapat sel fotoreseptor berupa sel batang dan kerucut. Sel-sel tersebut menangkap cahaya dan mengubahnya menjadi sinyal listrik, lalu jaringan saraf retina meneruskan sinyal itu melalui saraf optik menuju otak.

“Retina bekerja seperti film atau sensor pada kamera. Jaringan ini mendeteksi cahaya dan mengubahnya menjadi sinyal yang kemudian ditafsirkan oleh otak sebagai gambar,” jelas Prof. Tan.

Analogi sensor kamera membantu menjelaskan fungsinya, tetapi retina lebih rumit.

Retina adalah jaringan saraf yang sangat terorganisasi dan tersusun berlapis-lapis. Fotoreseptor harus terhubung dengan sel bipolar dan sel horizontal. Informasi selanjutnya diteruskan kepada sel ganglion retina, yang aksonnya membentuk saraf optik dan menghubungkan mata dengan pusat penglihatan di otak.

Artinya, agar penglihatan dapat dipulihkan, tidak cukup hanya dengan menempatkan sel baru di lokasi sel yang telah mati. Sel pengganti harus:

  • Bertahan hidup di lingkungan retina yang sedang sakit.
  • Berkembang menjadi jenis sel yang tepat.
  • Berada di posisi dan orientasi yang sesuai.
  • Membentuk hubungan dengan sel saraf di sekitarnya.
  • Mengirimkan sinyal yang benar ke otak.

Hubungan tersebut harus sangat presisi. Sinyal dari bagian tengah retina, misalnya, tidak boleh tersambung secara acak ke jalur yang seharusnya membawa informasi dari sisi penglihatan.

Inilah salah satu alasan kerusakan retina sulit dipulihkan. Berbeda dari beberapa jaringan tubuh yang dapat menghasilkan sel baru setelah cedera, neuron retina manusia memiliki kemampuan regenerasi alami yang sangat terbatas.

Diobati tidak selalu berarti penglihatan kembali normal

Prof. Gavin Tan, Head & Senior Consultant, Singapore National Eye Centre. (Dok. SingHealth)
Prof. Gavin Tan, Head & Senior Consultant, Singapore National Eye Centre. (Dok. SingHealth)

Pengobatan retina sering bertujuan menyelamatkan jaringan yang masih hidup dan menghentikan kerusakan agar tidak meluas.

Pada penyakit retina diabetik atau degenerasi makula basah, misalnya, suntikan anti-VEGF dapat membantu mengurangi kebocoran cairan dan pertumbuhan pembuluh darah abnormal. Pada robekan retina, laser dapat digunakan untuk membentuk jaringan parut yang “mengunci” area sekitar robekan. Jika retina telah terlepas, operasi bertujuan mengembalikannya ke posisi semula.

Terapi tersebut dapat memberikan hasil yang baik. Namun, menempelkan kembali retina tidak langsung membuat seluruh sel fotoreseptor kembali bekerja. Hasil akhirnya dipengaruhi lokasi kerusakan, luas area yang terkena, lamanya gangguan berlangsung, serta apakah makula (bagian retina yang bertanggung jawab atas penglihatan pusat yang tajam) ikut terdampak.

Ablasi retina dapat menyebabkan kehilangan penglihatan permanen. Penanganan segera dapat membantu melindungi penglihatan yang masih tersisa.

Dokter mungkin berhasil memperbaiki anatomi mata, tetapi penglihatan pasien tidak selalu kembali seperti sebelum sakit.

Kornea bisa diganti, kenapa retina tidak?

Kornea merupakan lapisan bening di bagian depan mata. Jika kornea mengalami jaringan parut atau kerusakan berat, dokter dapat mengangkat lapisan yang rusak dan menggantinya dengan jaringan donor. Cangkok atau transplantasi bisa melibatkan seluruh ketebalan kornea atau cuma lapisan tertentu.

“Kornea yang rusak parah pada kondisi tertentu dapat diganti menggunakan jaringan donor. Saat ini belum ada prosedur yang setara untuk mentransplantasikan seluruh retina manusia,” kata Prof. Tan.

Kornea dan retina berbeda dalam hal kerumitan jaringan. Kornea harus tetap transparan, mempertahankan bentuknya, dan membiaskan cahaya dengan tepat. Sementara itu, retina harus melakukan pemrosesan saraf sekaligus terhubung dengan jalur visual menuju otak.

Peneliti memang sedang mengembangkan sel fotoreseptor, jaringan retina dari sel punca, dan organoid retina untuk mengganti sel yang hilang. Namun, banyak temuan menjanjikan masih berasal dari hewan atau penelitian praklinis. Salah satu tantangan terbesarnya adalah memastikan sel donor menyatu dan membentuk hubungan saraf yang berfungsi dengan retina pasien.

Studi pada model tikus dengan degenerasi retina yang diterbitkan dalam jurnal Nature Communications pada 2026, misalnya, menunjukkan sel progenitor saraf manusia dapat membantu mempertahankan fotoreseptor melalui dukungan metabolik, pengurangan peradangan, dan faktor pelindung sel. Namun, efek perlindungannya melemah seiring waktu dan degenerasi tetap berlanjut.

Jadi, terapi sel punca bukan pengobatan rutin yang sudah terbukti untuk meregenerasi seluruh retina.

Kesempatan terbaik adalah bertindak sebelum sel mati

“Banyak penyakit retina dapat diobati dengan efektif jika ditemukan cukup awal. Namun, jika penyakit sudah lanjut dan banyak sel retina telah mati, penglihatan yang hilang mungkin tidak dapat dipulihkan dengan terapi yang tersedia saat ini,” ujar Prof. Tan.

Yang jadi masalah adalah, kerusakan pada satu mata bisa tidak disadari. Otak dapat mengandalkan mata yang lebih kuat dan mengabaikan gambar yang lebih buruk dari mata lainnya.

Orang dewasa bisa sesekali memeriksa penglihatan setiap mata secara terpisah. Tutup satu mata tanpa menekannya, lalu amati tulisan, wajah, garis pintu, atau benda di sekitar. Ulangi pada mata lainnya.

Walaupun tidak bisa dijadikan alat diagnosis, tetapi pemeriksaan sederhana tersebut bisa mendeteksi perubahan pada penglihatan.

Perubahan penglihatan yang perlu diperiksakan ke dokter antara lain:

  • Garis lurus terlihat bergelombang atau bengkok.
  • Muncul titik gelap yang menetap di tengah pandangan.
  • Satu area terlihat buram atau kehilangan detail.
  • Penglihatan samping berkurang.
  • Warna atau tingkat terang tampak berbeda antara kedua mata.

Segera cari pertolongan dokter mata atau instalasi gawat darurat kalau kamu tiba-tiba melihat banyak floaters baru, kilatan cahaya, bayangan seperti tirai, atau kehilangan sebagian lapang pandang. Gejala tersebut dapat menandakan robekan atau ablasi retina dan tidak sebaiknya ditunggu sampai hari berikutnya.

Orang dengan diabetes juga tidak boleh menunggu penglihatan buram. Retinopati diabetik dapat berkembang sebelum gejalanya terasa. Kontrol gula darah, tekanan darah, dan kolesterol serta pemeriksaan retina sesuai anjuran dokter dapat membantu menemukan perubahan sebelum kehilangan penglihatan terjadi.

Pemeriksaan berkala juga penting bagi orang dengan miopia (rabun jauh) tinggi, riwayat trauma mata, penyakit retina dalam keluarga, atau riwayat robekan maupun operasi retina. Jadwalnya perlu disesuaikan dengan tingkat risiko masing-masing.

Pengobatan retina terus berkembang. Namun, teknologi saat ini masih fokus pada mempertahankan penglihatan yang tersisa, bukan menghidupkan kembali sel retina yang sudah mati. Karena itu, jangan mengabaikan gejala penglihatan apa pun, jangan sampai terlambat hingga seluruh penglihatan sirna.

Referensi

National Eye Institute, “How the Eyes Work,” diperbarui 20 April 2022, https://www.nei.nih.gov/eye-health-information/healthy-vision/how-eyes-work.

Rachael A. Pearson, “Photoreceptor Replacement: A Disease-Agnostic Approach for the Treatment of Advanced Retinal Degeneration,” Eye, diterbitkan 25 Juli 2026, https://doi.org/10.1038/s41433-026-04742-4.

National Eye Institute, “Retinal Detachment,” diakses Juli 2026.

National Eye Institute, “Corneal Transplants,” diakses Juli 2026.

Saba Shahin et al., “Dynamic Transcriptomic Remodeling in Grafted Human Neural Progenitor Cells Uncovers Mechanisms for Vision Preservation in a Rat Model of Retinitis Pigmentosa,” Nature Communications 17 (2026): 2164, https://doi.org/10.1038/s41467-026-69776-4.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More