"Gumoh pada bayi atau regurgitasi pada bayi ini ternyata mayoritas atau sebagian besar itu adalah merupakan suatu proses yang normal terjadi," kata dr. Sri Kesuma dalam diskusi daring pada Selasa (23/6/2026).
Bayi Sering Gumoh? IDAI Jelaskan Kenapa Kondisi Ini Umumnya Normal

- IDAI menjelaskan bahwa gumoh pada bayi umumnya normal karena sistem pencernaan dan fungsi katup antara lambung serta kerongkongan belum matang sepenuhnya.
- Gumoh tidak disebabkan oleh kualitas ASI, melainkan jumlah susu yang diminum bayi; orang tua disarankan memahami kebutuhan bayi agar tidak memberi susu berlebihan.
- Orang tua perlu waspada jika gumoh disertai tanda seperti muntah darah, berat badan sulit naik, atau bayi rewel berlebihan, karena bisa menandakan masalah pencernaan serius.
Melihat bayi mengeluarkan kembali susu setelah menyusu sering bikin orang tua khawatir. Tak sedikit yang langsung mengira kondisi tersebut sebagai tanda gangguan pencernaan atau masalah kesehatan tertentu. Fenomena ini dikenal sebagai gumoh, dan ini sesuatu yang umum terjadi pada bayi, terutama pada beberapa bulan pertama kehidupan.
Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), sebagian besar kasus gumoh pada bayi merupakan proses yang normal. Kondisi ini berkaitan dengan sistem pencernaan bayi yang masih berkembang, sehingga susu yang sudah masuk ke lambung dapat dengan mudah kembali ke kerongkongan dan keluar melalui mulut.
Meski umumnya tidak berbahaya, tetapi orang tua tetap perlu memahami penyebab gumoh dan mengenali tanda-tanda yang tidak normal. Sebab, pada beberapa kasus, gumoh yang disertai gejala tertentu dapat mengarah pada kondisi yang perlu pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter.
Table of Content
1. Mengapa bayi sering gumoh?
Menurut Anggota Unit Kerja Koordinasi Gastroenterohepatologi IDAI, dr. Sri Kesuma Astuti, Sp.A, Subsp.G.H(K), sebagian besar gumoh pada bayi merupakan proses yang normal dan berkaitan dengan perkembangan sistem pencernaan yang belum matang.
Di antara lambung dan kerongkongan terdapat sebuah katup atau klep yang berfungsi mencegah isi lambung naik kembali ke esofagus. Namun pada bayi, fungsi katup tersebut belum bekerja secara sempurna sehingga susu yang sudah masuk ke lambung lebih mudah mengalir kembali ke kerongkongan dan keluar sebagai gumoh.
Selain itu, makanan utama bayi masih berupa cairan, yaitu ASI atau susu formula. Cairan memiliki sifat yang lebih mudah berpindah dibandingkan makanan padat sehingga lebih mudah naik kembali ke atas. Kapasitas lambung bayi yang masih kecil juga membuat susu lebih mudah keluar, terutama jika jumlah yang masuk melebihi kapasitas lambungnya.
2. Gumoh bukan karena kualitas ASI

Masih banyak orang tua yang mengira gumoh terjadi karena kualitas ASI yang kurang baik atau tidak cocok untuk bayi. Padahal, menurut dr. Sri, gumoh tidak berkaitan dengan kualitas ASI ibu.
"Gumoh pada bayi atau regurgitasi pada bayi ini ternyata mayoritas atau sebagian besar itu adalah merupakan suatu proses yang normal terjadi," jelasnya.
Ia menjelaskan bahwa yang lebih berpengaruh adalah jumlah susu yang diminum bayi. Jika bayi menerima ASI atau susu dalam jumlah berlebihan, cairan tersebut dapat memenuhi lambung dan lebih mudah mengalir kembali ke kerongkongan.
Karena itu, orang tua disarankan belajar memahami kebutuhan bayi dan tidak selalu mengartikan tangisan sebagai tanda lapar. Dalam beberapa kondisi, bayi bisa menangis karena merasa tidak nyaman, mengantuk, atau membutuhkan perhatian, bukan karena membutuhkan tambahan susu.
3. Kapan gumoh perlu diwaspadai?
Meski sebagian besar gumoh pada bayi tergolong normal, tetapi orang tua tetap perlu waspada terhadap sejumlah tanda yang dapat mengarah pada kondisi yang lebih serius, seperti gastroesophageal reflux disease (GERD).
Salah satu tanda yang perlu segera diperiksakan adalah jika bayi mengalami muntah darah, kata dr. Sri. Selain itu, pertumbuhan atau kenaikan berat badan yang tidak sesuai dengan usianya juga dapat menjadi sinyal bahwa gumoh sudah memengaruhi kesehatan bayi.
Orang tua juga perlu memperhatikan apakah bayi sering melengkungkan punggung saat atau setelah menyusu. Kondisi yang dikenal sebagai postur Sandifer ini dapat menjadi salah satu tanda refluks yang lebih berat.
Tanda lain yang perlu mendapat perhatian adalah bayi yang rewel berlebihan atau berkepanjangan, menangis terus-menerus tanpa sebab yang jelas, menolak menyusu, mengalami gangguan tidur, atau disertai keluhan pencernaan lain seperti sembelit dan diare.
Jika menemukan satu atau beberapa gejala tersebut, orang tua sebaiknya segera membawa bayi berkonsultasi dengan dokter anak. Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk memastikan penyebab keluhan dan menentukan penanganan yang tepat.
Meski sering membuat khawatir, tetapi gumoh pada bayi umumnya merupakan bagian normal dari perkembangan sistem pencernaan yang belum matang. Namun, orang tua tetap perlu mengenali tanda-tanda yang tidak biasa agar kondisi yang lebih serius dapat dideteksi dan ditangani sejak dini. Jika ragu, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter anak.

![[QUIZ] Kami Bisa Tebak Kamu Sudah Siap Lari 10K atau Belum](https://image.idntimes.com/post/20260404/upload_f8a7d95ca0e1f24e62d509a5a9b77266_7a19fbb3-29d8-4864-a113-1df8414d094f.jpg)
![[QUIZ] Kamu Lebih Cocok CrossFit atau HYROX? Cek di Sini!](https://image.idntimes.com/post/20251217/1000005207_e2b3719c-9ff4-4462-9e88-b9845a2f868d.jpg)





![[QUIZ] Dari Genre Musik Kamu, Kami Bisa Tebak Kondisi Mentalmu](https://image.idntimes.com/post/20250811/upload_2dc2ee71d4aae7a5c5e3c639d354c480_700b7a78-474a-42b8-816c-09362ad9626c.jpg)


![[QUIZ] Dari Genre Film Favoritmu, Ini Tipe Overthinking Kamu](https://image.idntimes.com/post/20251219/2147894400_fea19e48-814b-4860-81de-e256dce996c7.jpg)






