- Tepung terigu (sumber karbohidrat utama).
- Minyak nabati (terutama pada mi yang digoreng).
- Garam.
- Bahan tambahan pangan seperti penguat rasa dan pengatur keasaman.
Efek Makan Mi Instan Saat Sahur, Jadi Mudah Lapar?

Mi instan didominasi karbohidrat olahan dan rendah serat, sehingga rasa kenyang cenderung tidak bertahan lama.
Kandungan kalori dan lemaknya bisa cukup tinggi, berpotensi mengganggu pengaturan berat badan jika dikonsumsi rutin.
Natrium dalam mi instan relatif tinggi dan dapat memicu rasa haus lebih cepat saat berpuasa.
Sahur sering kali jadi momen paling menantang saat Ramadan. Tubuh rasanya masih mau tidur, keterbatasan waktu, dan pilihan makanan praktis terasa paling realistis. Di tengah kondisi itu, mi instan kerap menjadi penyelamat: cepat matang, rasanya familier, dan mengenyangkan. Setidaknya di awal.
Namun, beberapa jam setelah imsak, tak sedikit yang mengeluh sudah lapar atau haus berlebihan. Situasi ini memunculkan pertanyaan, apakah mi instan memang kurang ideal untuk sahur, atau sekadar mitos yang berulang setiap tahun?
Untuk menjawabnya, kamu perlu melihat komposisi gizi mi instan dan bagaimana tubuh merespons asupan tersebut. Para ahli telah memberi gambaran yang cukup jelas tentang efek karbohidrat olahan, kalori, serta natrium terhadap rasa kenyang dan keseimbangan cairan tubuh.
Table of Content
Kandungan nutrisi mi instan
Mi instan adalah produk mi olahan yang telah melalui proses pemasakan awal (precooked), kemudian dikeringkan—umumnya dengan cara digoreng atau dikeringkan udara panas—agar tahan lama dan cepat disajikan. Proses penggorengan ini membuat tekstur mi lebih kenyal dan cepat lunak saat diseduh air panas.
Bahan utama mi instan umumnya meliputi:
Bumbu pelengkapnya biasanya mengandung garam, gula, lemak, serta penyedap.
Kandungan nutrisi mi instan
Secara umum, mi instan tergolong makanan tinggi karbohidrat olahan dan relatif rendah serat. Satu porsi mi instan dapat mengandung ratusan kalori dengan proporsi terbesar berasal dari karbohidrat dan lemak, serta kadar natrium yang tinggi.
Sebuah tinjauan ilmiah juga menyoroti bahwa konsumsi mi instan berkaitan dengan kualitas diet yang lebih rendah dan asupan natrium yang tinggi pada populasi dewasa.
Kementerian Kesehatan RI merekomendasikan asupan natrium kurang dari 2.000 miligram natrium atau 5 gram atau 1 sendok teh garam untuk orang dewasa. Satu porsi mi instan dapat menyumbang porsi yang cukup besar dari batas harian tersebut, tergantung produknya.
Efek makan mi instan saat sahur

Berikut ini beberapa efek makan mi instan saat sahur:
- Karbohidrat sederhana membuat kenyang sementara
Tepung terigu yang digunakan dalam mi instan umumnya rendah serat dan memiliki indeks glikemik yang relatif lebih tinggi dibanding sumber karbohidrat utuh. Karbohidrat olahan seperti ini lebih cepat dicerna dan diserap tubuh.
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa makanan dengan indeks glikemik tinggi dapat meningkatkan kadar glukosa darah dengan cepat, diikuti penurunan yang juga relatif cepat, yang berpotensi memicu rasa lapar lebih dini.
Dalam konteks puasa, pola ini membuat rasa kenyang tidak bertahan lama, terutama jika menu sahur tidak dilengkapi protein dan serat yang cukup.
- Kalori tinggi
Mi instan yang digoreng mengandung lemak tambahan dari proses produksinya. Kombinasi karbohidrat olahan dan lemak dapat membuat asupan kalori meningkat tanpa diimbangi rasa kenyang jangka panjang.
Studi kohort di Korea Selatan menemukan bahwa konsumsi mi instan yang lebih sering berhubungan dengan peningkatan risiko sindrom metabolik, terutama pada perempuan. Meski hubungan ini tidak berarti sebab-akibat langsung, tetapi temuan tersebut memperkuat kekhawatiran tentang pola konsumsi rutin makanan ultraproses.
Jika tujuan puasa juga mencakup pengelolaan berat badan, pola sahur tinggi kalori namun rendah serat dan protein dapat membuat pengaturan energi harian menjadi kurang optimal.
- Natrium tinggi bikin cepat haus
Salah satu karakteristik utama mi instan adalah kandungan natriumnya. Natrium berperan penting dalam keseimbangan cairan tubuh, tetapi asupan berlebih dapat meningkatkan rasa haus.
Konsumsi natrium berlebih berkaitan dengan peningkatan tekanan darah dan risiko penyakit kardiovaskular. Selain dampak jangka panjang, dalam konteks puasa, natrium tinggi juga dapat membuat tubuh “meminta” lebih banyak cairan. Ketika asupan air terbatas selama berpuasa, rasa haus bisa terasa lebih cepat dan lebih intens.
Tips mengolah mi instan untuk sahur

Jika suatu hari mi instan tetap menjadi pilihan sahur karena alasan praktis, ada beberapa cara untuk membuatnya lebih seimbang:
- Kurangi penggunaan bumbu: Gunakan setengah atau sebagian saja bumbu untuk menekan asupan natrium.
- Tambahkan sumber protein: Telur, tahu, tempe, atau ayam dapat memperlambat pengosongan lambung dan membantu rasa kenyang bertahan lebih lama.
- Perbanyak sayuran: Tambahkan bayam, sawi, wortel, atau jagung untuk meningkatkan serat. Serat membantu memperlambat penyerapan glukosa dan meningkatkan rasa kenyang.
- Jika memungkinkan, pilih mi yang tidak digoreng: Mi yang dikeringkan tanpa proses penggorengan umumnya memiliki kandungan lemak lebih rendah.
- Lengkapi dengan minum cukup air saat sahur: Pastikan kebutuhan cairan terpenuhi sebelum imsak untuk membantu keseimbangan cairan tubuh.
Mi instan memang praktis dan terasa mengenyangkan di awal. Namun, dari sudut pandang gizi, dominasi karbohidrat olahan, kandungan lemak pada mi yang digoreng, serta natrium yang tinggi membuat rasa kenyang cenderung tidak bertahan lama dan rasa haus bisa muncul lebih cepat.
Sahur idealnya mengandung kombinasi karbohidrat kompleks, protein, lemak sehat, serta serat agar energi lebih stabil sepanjang hari. Makan mi instan saat sahur memang tidak dilarang, tetapi sebaiknya cuma dilakukan sesekali, bukan menu rutin selama puasa Ramadan.
Referensi
"Cegah Meningkatnya Diabetes, Jangan Berlebihan Konsumsi Gula, Garam, Lemak." Kementerian Kesehatan RI. Diakses Februari 2026.
"Guideline: sodium intake for adults and children." World Health Organization (WHO). Diakses Februari 2026.
In Sil Huh et al., “Instant Noodle Consumption Is Associated With Cardiometabolic Risk Factors Among College Students in Seoul,” Nutrition Research and Practice 11, no. 3 (January 1, 2017): 232, https://doi.org/10.4162/nrp.2017.11.3.232.
Eun Jeon Da and Kim Youngyo, “The Association Between Noodle Consumption and Metabolic Syndrome in Korean Adults,” Pmc.Ncbi.Nlm.Nih.Gov, March 1, 2025, https://doi.org/10.6133/apjcn.202504_34(2).0006.
David S. Ludwig, “The Glycemic Index,” JAMA 287, no. 18 (May 8, 2002): 2414, https://doi.org/10.1001/jama.287.18.2414.
Hyun Joon Shin et al., “Instant Noodle Intake and Dietary Patterns Are Associated With Distinct Cardiometabolic Risk Factors in Korea,” Journal of Nutrition 144, no. 8 (June 26, 2014): 1247–55, https://doi.org/10.3945/jn.113.188441.









![[QUIZ] Seberapa Jeli Matamu Menebak Menu Buka Puasa? Uji Lewat Kuis Ini](https://image.idntimes.com/post/20260225/menu-potluck-untuk-bukber-di-kantor-es-pisang-ijo_c62fd7d8-b9cb-41eb-a5b3-99be7e1a483d.jpg)



![[QUIZ] Kalau Punya Anak, Kamu Bakal Jadi Tipe Bapak Seperti Apa?](https://image.idntimes.com/post/20250517/premium-photo-1664279990106-9f5c41bd7f5a-b87dbf88049ea09327ded00ec8bf5046-e7f7326c95d633244190a220a2836080.jpeg)




