Sesuaikan porsi makan dengan jadwal olahraga.
Pilih makanan yang mudah dicerna sebelum latihan.
Hindari makanan tinggi lemak sebelum olahraga.
Dengarkan sinyal tubuh (rasa penuh, kembung, atau tidak nyaman).
Pendekatan terbaik bukan hanya mengikuti aturan umum, tetapi memahami respons tubuh sendiri.
Karena interaksi kompleks antara sistem pencernaan dan kebutuhan energi tubuh, jarak waktu antara makan dan olahraga perlu diperhatikan. Berolahraga terlalu cepat setelah makan bisa membuat tubuh bekerja tidak efisien, bahkan berisiko menimbulkan ketidaknyamanan. Dengan memahami jenis makanan dan jenis olahraga yang akan dilakukan, kamu bisa menemukan ritme yang paling sesuai.
Referensi
American College of Sports Medicine. "ACSM’s Guidelines for Exercise Testing and Prescription, 11th ed." (2021). Diakses April 2026.
Erick Prado De Oliveira, Roberto Carlos Burini, and Asker Jeukendrup, “Gastrointestinal Complaints During Exercise: Prevalence, Etiology, and Nutritional Recommendations,” Sports Medicine 44, no. S1 (May 1, 2014): 79–85, https://doi.org/10.1007/s40279-014-0153-2.
R. J. S. Costa et al., “Systematic Review: Exercise‐induced Gastrointestinal Syndrome—implications for Health and Intestinal Disease,” Alimentary Pharmacology & Therapeutics 46, no. 3 (June 7, 2017): 246–65, https://doi.org/10.1111/apt.14157.
Van Nieuwenhoven, Brouns, and Brummer, “The Effect of Physical Exercise on Parameters of Gastrointestinal Function,” Neurogastroenterology & Motility 11, no. 6 (December 1, 1999): 431–39, https://doi.org/10.1046/j.1365-2982.1999.00169.x.