5 Kebiasaan saat Buka Puasa yang Diam-Diam Memicu Dehidrasi

Minuman manis dan berkafeina dapat membuat tubuh lebih cepat kehilangan cairan.
Makanan asin dan gorengan meningkatkan kebutuhan air serta memicu rasa haus berulang.
Cara minum dan urutan makan saat berbuka memengaruhi efektivitas penyerapan cairan.
Buka puasa tidak selalu langsung membuat tubuh kembali terhidrasi meski rasa haus sudah hilang. Banyak orang merasa sudah minum cukup, tetapi beberapa jam kemudian justru muncul keluhan seperti pusing ringan, tenggorokan kering, atau tubuh cepat lelah. Kondisi ini biasanya berkaitan dengan cara berbuka, terutama pilihan minuman dan urutan makan.
Tubuh yang kekurangan cairan sejak siang membutuhkan waktu agar air bisa benar-benar terserap ke dalam sel. Berikut kebiasaan saat buka puasa yang sering tidak disadari dapat mempercepat terjadinya dehidrasi. Simak, yuk!
1. Minuman berkafeina membuat cairan tubuh lebih cepat terbuang

Banyak orang langsung minum es kopi susu atau teh manis hangat saat azan magrib karena terasa menyegarkan. Kafeina dalam minuman tersebut membuat ginjal memproduksi urine lebih banyak sehingga cairan tubuh lebih cepat keluar. Sebagai contoh, seseorang yang minum kopi saat berbuka biasanya akan lebih sering buang air kecil dalam 1–2 jam setelahnya. Akibatnya, air yang baru diminum belum sempat dimanfaatkan tubuh secara optimal.
Efek ini terasa lebih kuat ketika kopi diminum saat perut masih kosong. Tubuh belum memiliki cadangan cairan sehingga kafeina langsung bekerja merangsang pengeluaran urine. Itu sebabnya, banyak orang kembali merasa haus tidak lama setelah minum kopi saat berbuka. Jika kebiasaan ini dilakukan setiap hari, tubuh bisa lebih mudah mengalami dehidrasi ringan, seperti sakit kepala dan rasa lemas.
2. Minuman sangat manis justru memicu rasa haus berulang

Minuman seperti es sirop, soda, atau teh dengan gula berlebihan sering dianggap paling ampuh menghilangkan dahaga. Padahal, kadar gula tinggi membuat darah menjadi lebih pekat sehingga tubuh harus menarik cairan dari sel untuk menyeimbangkannya. Proses ini menyebabkan jaringan tubuh kehilangan air. Akibatnya, rasa haus muncul kembali dalam waktu singkat.
Sebagai contoh, seseorang yang minum segelas besar es sirop saat berbuka biasanya akan kembali mencari minuman dalam waktu kurang dari 1 jam. Hal ini terjadi karena ginjal bekerja keras membuang kelebihan gula melalui urine. Cairan tubuh akhirnya keluar lebih banyak dibandingkan yang masuk. Jika kebiasaan ini berlangsung terus, tubuh sulit mencapai kondisi terhidrasi dengan baik.
3. Makanan asin dan gorengan membuat tubuh membutuhkan lebih banyak air

Menu seperti bakwan, tempe goreng, kerupuk, atau lauk asin memang terasa sangat menggugah selera saat berbuka. Namun, kandungan natrium tinggi membuat tubuh membutuhkan air tambahan untuk menjaga keseimbangan cairan. Saat kadar garam meningkat, sel tubuh menarik cairan dari jaringan sehingga muncul rasa haus yang kuat. Kondisi ini sering membuat seseorang terus ingin minum.
Gorengan juga mengandung lemak tinggi yang memperlambat kerja lambung. Cairan yang diminum bersama makanan tersebut menjadi lebih lama tertahan sebelum diserap tubuh. Akibatnya, tubuh tetap terasa kering meski perut sudah terasa penuh. Jika kebiasaan ini terjadi setiap hari, risiko kekurangan cairan akan semakin meningkat.
4. Minum air sekaligus dalam jumlah banyak tidak efektif menghidrasi

Banyak orang langsung meneguk 2–3 gelas air sekaligus karena merasa sangat haus. Tubuh sebenarnya hanya mampu menyerap cairan dalam jumlah terbatas pada satu waktu. Air yang masuk terlalu cepat akan segera dikeluarkan melalui urine. Hal ini membuat hidrasi menjadi kurang efektif.
Seseorang yang minum banyak air sekaligus biasanya akan bolak-balik ke toilet dalam waktu singkat. Kondisi tersebut menunjukkan air belum sempat dimanfaatkan oleh sel tubuh. Cara yang lebih efektif ialah minum secara bertahap, misalnya satu gelas saat berbuka, lalu dilanjutkan beberapa gelas setelah makan.
5. Langsung makan berat membuat pemulihan cairan terhambat

Kebiasaan langsung makan nasi lengkap dengan lauk tanpa minum air terlebih dahulu cukup sering terjadi. Setelah puasa, tubuh membutuhkan cairan untuk mengaktifkan kembali sistem pencernaan. Tanpa air yang cukup, makanan menjadi lebih sulit diolah dan tubuh terasa cepat lelah. Kondisi ini sering disertai rasa begah atau tidak nyaman di perut.
Makanan padat seperti nasi dan daging juga memerlukan cairan tambahan untuk diproses menjadi energi. Jika tubuh belum mendapat air lebih dulu, cairan akan diambil dari jaringan lain. Hal ini membuat dehidrasi semakin berat tanpa disadari. Karena itu, air putih sebaiknya diminum terlebih dahulu sebelum makan besar.
Menjaga tubuh tetap terhidrasi saat berbuka tidak hanya bergantung pada jumlah air yang diminum, tetapi juga ditentukan oleh banyak faktor. Kebiasaan yang terlihat sepele ternyata dapat membuat cairan lebih cepat terbuang atau sulit terserap optimal oleh sel tubuh. Jika sudah memahami hal ini, apakah cara berbuka selama ini benar-benar sudah sesuai?
Referensi
"Fasting and the risk of dehydration during Ramadan". Hamad Medical Corporation. Diakses Februari 2026.
"How To Avoid Dehydration During Fasting". Unair. Diakses Februari 2026.
"How to Stay Hydrated During Ramadan: Tips for Beating Dehydration". Aster Hospital. Diakses Februari 2026.


















