Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenapa Sering Kram Perut saat Puasa? Ini Penyebab dan Solusinya!
ilustrasi kram perut saat puasa (pexels.com/cottonbro studio)
  • Kram perut saat puasa sering muncul akibat dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit, serta kurangnya cairan yang membuat otot perut lebih sensitif dan mudah berkontraksi.
  • Pola makan berlebihan saat berbuka, konsumsi makanan pedas atau berlemak, serta peningkatan asam lambung dapat memicu iritasi dan tekanan di lambung yang menyebabkan nyeri.
  • Kurangnya serat dan perubahan ritme tubuh selama puasa bisa menimbulkan sembelit, memperlambat pencernaan, dan memicu kram akibat kerja otot usus yang lebih berat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Pernahkah kamu merasa perut melilit tiba-tiba saat sedang menahan lapar di siang hari atau justru sesaat setelah berbuka? Kram perut saat puasa memang kerap muncul ketika rasa gak nyaman tersebut mulai mengganggu kekhusyukan ibadah puasa Ramadan. Sensasi kaku, nyeri yang menusuk, hingga rasa seperti diremas-remas di area abdomen ini memang menjadi tantangan tersendiri bagi banyak orang yang menjalankan ibadah puasa, lho.

Biasanya, kamu merasa tubuh sangat lemas disertai nyeri perut yang timbul tenggelam di tengah aktivitas pekerjaan. Kamu mungkin menganggapnya sebagai rasa lapar biasa, tetapi sebenarnya tubuhmu sedang memberikan sinyal bahwa ada sesuatu yang terjadi di dalam sistem pencernaan, lho. Memahami penyebab di balik gangguan kram perut saat puasa sangat penting agar kamu bisa menjalani sisa hari dengan lebih nyaman dan tetap berenergi.

1. Dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit

ilustrasi dehidrasi (pixabay.com/naturalherbsclinic)

Kekurangan cairan merupakan penyebab utama karena tubuh gak mendapatkan asupan air selama lebih dari 12 jam. Ṣaat tubuh mengalami dehidrasi, otot-otot di seluruh tubuh, termasuk otot polos di dinding perut, menjadi lebih sensitif dan mudah mengalami kontraksi atau kram. Cairan sangat dibutuhkan untuk membantu otot berkontraksi dan berelaksasi secara normal, sehingga kekurangan air bisa memicu gangguan pada mekanisme ini.

Selain masalah air, hilangnya mineral penting seperti kalium, magnesium, dan natrium melalui keringat tanpa adanya pengganti saat sahur juga memperburuk kondisi ini, lho. Ketidakseimbangan elektrolit ini mengganggu sinyal saraf yang mengatur gerakan otot di sistem pencernaan kamu. Kalau kamu tak bisa mencukupi kebutuhan cairan saat malam hari, otot perut akan lebih mudah menegang dan menimbulkan rasa nyeri yang sangat tak nyaman di siang hari.

2. Pola makan berlebihan atau binge eating

ilustrasi makan terlalu banyak (pexels.com/Tim Samuel)

Penyebab selanjutnya sering terjadi saat waktu berbuka tiba, di mana kamu mungkin merasa ingin menyantap semua hidangan di meja secara sekaligus. Perilaku makan dalam jumlah besar dalam waktu singkat atau binge eating setelah perut kosong seharian bisa menyebabkan peregangan mendadak pada lambung. Hal ini memicu tekanan tinggi di dalam perut yang kemudian direspon oleh tubuh dengan kontraksi otot yang kuat atau kram.

Selain karena porsinya, kecepatan kamu ketika mengunyah makanan juga sangat berpengaruh terhadap kenyamanan perut, lho. Ketika makan terlalu cepat, tanpa sadar kamu juga menelan banyak udara atau yang secara medis disebut dengan aerophagia. Udara yang terjebak di dalam saluran pencernaan ini akan berubah menjadi gas yang menekan dinding lambung dan usus, sehingga menimbulkan sensasi begah serta kram perut yang menyakitkan.

3. Konsumsi makanan pemicu gas dan iritasi

ilustrasi makan makanan pedas (pexels.com/Israyosoy S)

Jenis makanan yang kamu pilih saat sahur atau berbuka memegang peran besar dalam menentukan apakah perutmu akan bereaksi negatif atau gak, lho. Makanan yang terlalu pedas, asam, atau mengandung lemak tinggi dapat mengiritasi lapisan lambung yang sedang sensitif. Iritasi ini memicu peningkatan produksi asam lambung yang akhirnya menyebabkan kram dan rasa perih di ulu hati atau heartburn.

Tak hanya makanan pedas, konsumsi sayuran tertentu secara berlebihan seperti kol, brokoli, atau kacang-kacangan saat perut masih beradaptasi juga bisa memicu produksi gas yang berlebih, nih. Gas ini bakal menumpuk di usus besar dan menyebabkan distensi atau peregangan pada saluran cerna kamu. Jika kamu sering mengonsumsi jenis makanan ini dalam keadaan perut kosong, jangan heran jika rasa melilit terus menghantui selama waktu berpuasa.

4. Meningkatnya asam lambung atau gastritis

ilustrasi gejala asam lambung naik (goodtoknow.co.uk)

Kondisi perut yang kosong dalam waktu lama secara alami akan memicu sekresi asam lambung atau HCl meski tak ada makanan yang masuk untuk dicerna. Bagi kamu yang memiliki riwayat maag atau gastritis, peningkatan asam lambung ini bisa menyebabkan iritasi pada dinding lambung. Gesekan antara asam dan dinding lambung yang meradang inilah yang menimbulkan kontraksi nyeri yang luar biasa hebat.

Gejala ini biasanya diperparah jika kamu langsung mengonsumsi minuman berkafein seperti kopi atau teh kental saat sahur atau berbuka. Kafein bisa melemahkan otot katup kerongkongan bawah, sehingga asam lambung lebih gampang naik dan menyebabkan iritasi. Pastikan kamu selalu mengawali buka puasa dengan makanan yang lembut dan ramah di lambung untuk meminimalisir risiko kram yang disebabkan oleh gangguan asam ini, ya.

5. Sembelit dan gangguan peristaltik usus

ilustrasi sembelit (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Perubahan pola makan dan kurangnya asupan serat selama puasa sering kali berujung pada masalah konstipasi atau sembelit. Saat feses mengeras karena kurang cairan, usus harus bekerja lebih keras dengan melakukan gerakan peristaltik yang lebih kuat untuk mendorong kotoran keluar. Tekanan ekstra dari otot usus inilah yang kemudian dirasakan sebagai kram perut di bagian bawah atau tengah.

Selain itu, perubahan jam biologis atau ritme sirkadian tubuh juga memengaruhi kecepatan sistem pencernaan kamu bekerja, lho. Saat berpuasa, metabolisme cenderung melambat, dan jika tak dibarengi dengan aktivitas fisik ringan, sisa makanan akan tertahan lebih lama di usus, lho. Penumpukan sisa makanan ini menyebabkan fermentasi bakteri yang menghasilkan gas, yang pada akhirnya kembali memicu pertanyaan tentang alasan kram perut sering terjadi.

Mulai sekarang, cobalah untuk lebih bijak dalam mengatur gaya hidup agar gak sering kram perut saat puasa. Dengan menjaga pola hidup yang baik, ibadah puasa akan terasa lebih ringan, nyaman, dan penuh berkah tanpa gangguan nyeri perut yang mengganggu, ya.

Referensi

“Why You Get Muscle Cramps or Body Aches While Fasting (and How to Cope)”. Everyday Health. Diakses Februari 2026.

“Abdominal Pain”. Cleveland Clinic. Diakses Februari 2026.

“Gas and gas pains”. Mayo Clinic. Diakses 2026.

“Stomach Cramps: Causes and Treatments”. Web MD. Diakses Februari 2026.

“What’s Causing Your Abdominal Pain and How to Treat It”. Healthline. Diakses Februari 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team