Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenapa Telapak Kaki Panas saat Lari?
ilustrasi seorang pelari mengalami telapak kaki panas saat lari (pexels.com/Robert Gomes)
  • Sensasi panas pada telapak kaki saat lari sering dipicu oleh kombinasi gesekan, tekanan mekanis, dan peningkatan aliran darah.

  • Faktor eksternal seperti sepatu, kaus kaki, dan suhu lingkungan berperan besar.

  • Dalam beberapa kasus, sensasi panas bisa menjadi tanda kondisi medis seperti neuropati atau iritasi saraf.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • Sensasi panas pada telapak kaki saat lari sering dipicu oleh kombinasi gesekan, tekanan mekanis, dan peningkatan aliran darah.

  • Faktor eksternal seperti sepatu, kaus kaki, dan suhu lingkungan berperan besar.

  • Dalam beberapa kasus, sensasi panas bisa menjadi tanda kondisi medis seperti neuropati atau iritasi saraf.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Sekilas lari tampak mudah. Satu kaki di depan kaki lainnya, ritme napas yang stabil, dan pikiran yang perlahan jernih. Namun, di tengah semua itu, bisa muncul sensasi telapak kaki terasa panas, bahkan beberapa orang menggambarkannya seperti sensasi terbakar. Bagi sebagian pelari, ini hanya gangguan kecil. Bagi yang lain, sensasi ini bisa cukup intens hingga mengganggu performa.

Sensasi telapak kaki panas saat lari tidak terjadi tanpa sebab. Tubuh merespons tekanan berulang, gesekan, dan peningkatan suhu dengan cara yang kompleks.

Artikel ini membedah penyebab ilmiah di balik sensasi panas pada telapak kaki saat lari, dari faktor biomekanik hingga kemungkinan kondisi medis yang perlu diwaspadai.

1. Gesekan berulang dan mikrotrauma kulit

Setiap langkah saat berlari menciptakan gesekan antara kulit, kaus kaki, dan sepatu. Gesekan ini menghasilkan panas melalui energi mekanik yang berubah menjadi energi termal. Gesekan berulang dapat meningkatkan suhu lokal kulit secara signifikan, terutama pada area dengan tekanan tinggi seperti telapak kaki.

Selain panas, gesekan juga menyebabkan mikrotrauma pada lapisan epidermis. Kerusakan kecil ini memicu respons inflamasi lokal, yang meningkatkan aliran darah dan memperparah sensasi panas. Inilah alasan mengapa area yang sama sering menjadi lokasi lecet atau lepuh (blister).

Jika tidak diatasi, kombinasi panas dan kelembapan akan mempercepat pembentukan lepuh. Kelembapan tinggi meningkatkan koefisien gesekan kulit, membuat iritasi lebih mudah terjadi.

2. Peningkatan aliran darah (vasodilatasi)

ilustrasi seorang pelari mengalami telapak kaki panas saat lari (pexels.com/JESHOOTS.com)

Saat berlari, tubuh meningkatkan aliran darah ke kulit untuk membantu melepaskan panas. Proses ini disebut vasodilatasi. Peningkatan suhu tubuh selama olahraga memicu pelebaran pembuluh darah perifer sebagai mekanisme pendinginan.

Telapak kaki memiliki banyak pembuluh darah kecil yang sensitif terhadap perubahan suhu. Ketika aliran darah meningkat, suhu lokal ikut naik, menciptakan sensasi hangat hingga panas.

Penelitian menunjukkan bahwa suhu kulit dapat meningkat beberapa derajat selama aktivitas aerobik intens, terutama di ekstremitas bawah. Ini adalah respons normal, tetapi bisa terasa berlebihan jika dikombinasikan dengan faktor lain seperti sepatu yang tidak breathable.

3. Sepatu yang tidak sesuai

Sepatu lari yang terlalu sempit atau tidak memiliki ventilasi yang baik dapat menjebak panas di dalamnya. Material yang tidak breathable menghambat evaporasi keringat, sehingga suhu di dalam sepatu meningkat.

Selain itu, sepatu yang tidak sesuai bentuk kaki dapat menciptakan titik tekanan (pressure points). Tekanan ini meningkatkan gesekan lokal dan mempercepat produksi panas. Studi biomekanik menunjukkan bahwa distribusi tekanan yang tidak merata berkontribusi pada ketidaknyamanan dan peningkatan suhu kaki.

Dalam jangka panjang, penggunaan sepatu yang tidak tepat juga dapat mengubah pola gait (cara berlari), yang memperburuk distribusi beban dan meningkatkan risiko cedera.

4. Kaus kaki dan kelembapan

ilustrasi seorang pelari mengalami telapak kaki panas saat lari (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Keringat adalah bagian alami dari mekanisme pendinginan tubuh, tetapi ketika terperangkap, justru menjadi masalah. Kaus kaki berbahan katun menyerap keringat tetapi tidak menguapkannya dengan cepat, sehingga kaki tetap lembap.

Lingkungan lembap meningkatkan gesekan antara kulit dan kain. Menurut penelitian, kulit yang lembap memiliki koefisien gesekan (angka yang menunjukkan rasio gaya gesek terhadap gaya normal) lebih tinggi dibandingkan kulit kering. Ini menjelaskan mengapa kaki terasa lebih panas dan mudah lecet saat basah.

Kaus kaki berbahan sintetis seperti polyester atau merino wool lebih efektif dalam mengelola kelembapan, sehingga dapat mengurangi sensasi panas.

5. Overheating dan suhu lingkungan

Lari saat cuaca panas meningkatkan beban termal tubuh secara keseluruhan. Ketika suhu lingkungan tinggi, tubuh kesulitan melepaskan panas, sehingga suhu inti dan kulit meningkat.

Paparan panas ekstrem dapat mengganggu mekanisme termoregulasi tubuh. Dalam kondisi ini, telapak kaki—yang sudah mengalami tekanan dan gesekan—akan terasa lebih panas dari biasanya.

Studi menunjukkan bahwa performa olahraga menurun secara signifikan dalam kondisi panas, sebagian karena peningkatan suhu tubuh dan ketidaknyamanan perifer seperti pada kaki.

6. Iritasi atau gangguan saraf (neuropati)

ilustrasi seorang pelari mengalami telapak kaki panas saat lari (pexels.com/Caique Araujo)

Tidak semua sensasi panas berasal dari faktor mekanis. Dalam beberapa kasus, sensasi seperti terbakar bisa terkait dengan gangguan saraf, seperti neuropati perifer.

Neuropati menyebabkan sinyal saraf menjadi tidak normal, sehingga otak “menerjemahkan” sensasi sebagai panas atau terbakar, meskipun tidak ada peningkatan suhu nyata. Kondisi ini sering dikaitkan dengan diabetes, kekurangan vitamin B12, atau tekanan saraf.

Gejala neuropati termasuk sensasi terbakar, kesemutan, atau nyeri tajam pada kaki. Jika sensasi panas muncul bahkan saat tidak berlari, atau disertai mati rasa, kondisi ini perlu evaluasi medis lebih lanjut.

Sensasi panas pada telapak kaki saat lari biasanya merupakan hasil interaksi kompleks antara gesekan, tekanan, peningkatan aliran darah, dan faktor lingkungan. Seringnya, ini adalah respons normal tubuh terhadap aktivitas fisik yang intens.

Namun, penting untuk membedakan antara sensasi yang wajar dan tanda masalah serius. Jika rasa panas disertai nyeri hebat, mati rasa, atau muncul bahkan saat istirahat, sebaiknya temui dokter. Dengan memahami penyebabnya, kamu bisa menyesuaikan perlengkapan, teknik, dan kondisi latihan agar tetap nyaman dan aman.

Referensi

B. N. J. Persson and R. Xu, “Rubber Friction: Theory, Mechanisms, and Challenges,” ArXiv.Org, July 24, 2025, https://doi.org/10.48550/arxiv.2507.18782.

P. F. D. Naylor, “THE SKIN SURFACE AND FRICTION.,” British Journal of Dermatology 67, no. 7 (July 1, 1955): 239–48, https://doi.org/10.1111/j.1365-2133.1955.tb12729.x.

American College of Sports Medicine. "ACSM’s Guidelines for Exercise Testing and Prescription." Diakses April 2026.

W. Larry Kenney and Thayne A. Munce, “Invited Review: Aging and Human Temperature Regulation,” Journal of Applied Physiology 95, no. 6 (December 1, 2003): 2598–2603, https://doi.org/10.1152/japplphysiol.00202.2003.

Rebecca Rushton and Douglas Richie, “Friction Blisters on the Feet: A Critical Assessment of Current Prevention Strategies,” Journal of Athletic Training 59, no. 1 (January 26, 2023): 8–21, https://doi.org/10.4085/1062-6050-0341.22.

S. Derler and L.-c. Gerhardt, “Tribology of Skin: Review and Analysis of Experimental Results for the Friction Coefficient of Human Skin,” Tribology Letters 45, no. 1 (October 28, 2011): 1–27, https://doi.org/10.1007/s11249-011-9854-y.

World Health Organization. “Heat and Health.” Diakses April 2026.

Stephen S. Cheung, “Interconnections Between Thermal Perception and Exercise Capacity in the Heat,” Scandinavian Journal of Medicine and Science in Sports 20, no. s3 (October 1, 2010): 53–59, https://doi.org/10.1111/j.1600-0838.2010.01209.x.

National Institute of Neurological Disorders and Stroke. “Peripheral Neuropathy.” Diakses April 2026.

Editorial Team