Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Gen Z dan Donor Darah: Kok Bisa Aktivitas Ini Bikin Bahagia?
ilustrasi orang melakukan donor darah (pexels.com/Manuel Camacho-Navarro)
  • Generasi Z menunjukkan kepedulian tinggi terhadap isu kemanusiaan lewat aksi donor darah, terbukti dari dominasi partisipasi mereka dalam kegiatan sosial seperti yang digelar PT JIAEC dan PMI Depok.
  • Bagi Gen Z, donor darah bukan hanya aksi sosial tapi juga sarana validasi positif di media sosial, memperlihatkan eksistensi diri sekaligus menebar semangat solidaritas digital yang inspiratif.
  • Fenomena warm-glow effect membuat Gen Z merasa bahagia saat berdonor karena tubuh memproduksi endorfin, memberi kepuasan emosional sekaligus manfaat kesehatan seperti menjaga jantung dan menurunkan kolesterol.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Tanggal 14 Juni diperingati sebagai Hari Donor Darah Sedunia. Tanggal itu ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk menghormati kelahiran Karl Landsteiner, seorang ilmuwan dan penemu sistem golongan darah ABO serta untuk mengapresiasi para pendonor darah sukarela.

Berkaitan dengan hari peringatan ini, fenomena menarik datang dari Gen Z. Salah satu karakteristik generasi ini adalah sangat peduli terhadap isu sosial, termasuk kemanusiaan dan kesehatan. Nah, bagi Generasi Z, donor darah merupakan altruisme yang terasa memuaskan. Lantas, mengapa aktivitas yang menuntut rasa sakit fisik ini justru terasa menyenangkan bagi Gen Z?

1. Perilaku altruisme pada Generasi Z

ilustrasi orang melakukan donor darah (pexels.com/Manuel Camacho-Navarro)

Altruisme adalah perilaku saat kita secara ikhlas memberikan bantuan kepada individu tanpa mengharapkan balasan. Perilaku ini bisa tercermin saat seseorang mendonorkan darahnya secara sukarela dan tanpa merasa tertekan. Perilaku altruisme gak jauh dari rasa empati. Rasa empati yang dimiliki oleh pelaku altruisme tergolong tinggi. Dengan begitu, mereka mampu merasakan perasaan orang lain.

Perilaku inilah yang juga dimiliki oleh Generasi Z ketika terlibat dalam aksi donor darah. Salah satu bukti konkretnya dapat tercermin saat kegiatan donor darah yang dilakukan oleh PT JIAEC dan PMI Kota Depok tahun 2024 lalu. Dilansir laman JIAEC, dalam pelaksanaannya, dari 260 pendonor yang mendaftar, sebanyak 231 pendonor berhasil mendonorkan darahnya. Pendonor itu didominasi oleh Generasi Z. Hal ini menunjukkan bahwa anak muda saat ini gak hanya peduli, tetapi juga siap terlibat aktif dalam aksi-aksi kemanusiaan. Antusiasme ini menjadi bukti nyata bahwa nilai solidaritas dan kepedulian sosial terus tumbuh di tengah generasi yang super dinamis ini.

2. Kegiatan donor darah sebagai validasi sosial yang positif di era digital

ilustrasi orang melakukan donor darah (pexels.com/Tahir Xəlfə)

Generasi Z itu merupakan digital native yang tumbuh berdampingan dengan gawai dan internet. Maka, perilaku altruisme dalam aksi donor darah bukan sekadar gerakan sunyi. Dengan terlibat pada aksi nyata ini, ada kecenderungan kuat di kalangan Generasi Z untuk berbagi pengalaman positifnya ke media sosial. Bagi mereka, aksi sosial ini dapat menjadi bentuk pencarian validasi positif sekaligus cara menunjukkan eksistensi diri yang berdampak nyata bagi lingkungan sekitar.

Gak salah kok mencari validasi yang positif semacam ini. Alih-alih terjebak dalam tren flexing atau membuat konten yang kontroversial, digitalisasi aksi altruisme ini justru bisa membawa efek domino yang positif. Dari sana, kita barangkali bisa mengubah stigma bahwa donor darah itu gak menakutkan dan mampu memotivasi orang lain untuk ikut mencoba juga. Hal ini juga membuktikan bahwa media sosial dapat berfungsi sebagai ruang untuk menebar kebermanfaatan dan menggerakan solidaritas tanpa terkesan kaku dan menggurui.

3. Warm-glow effect dan manfaat donor darah bagi tubuh

ilustrasi orang merentangkan tangan dan tersenyum bahagia (pexels.com/Khoa Le)

Selain didorong oleh rasa empati yang tinggi, kepuasan Generasi Z mendonorkan darah bisa dijelaskan melalui fenomena psikologis yang disebut warm-glow effect. Pernah mendengar? Warm-glow effect merupakan perasaan bahagia saat kita melakukan sebuah kebaikan. Mengapa hal ini bisa terjadi? Sebab, dalam kondisi itu, tubuh memproduksi hormon endorfin yang bisa memicu munculnya perasaan positif sekaligus meredakan stres. Apa yang kamu rasakan saat mengetahui kalau satu kantong darah itu bisa menyelamatkan nyawa beberapa orang? Tentu, ada rasa kebermaknaan tersendiri, bukan. Perasaan berharga inilah yang memberikan kepuasan emosional.

Menariknya, donor darah itu gak hanya mampu memberikan rasa puas dan bermakna dalam diri, tetapi juga berdampak positif bagi kesehatan. Dilansir laman halodoc, sejumlah manfaat donor darah untuk kesehatan yang bisa kamu rasakan ialah sebagai berikut.

  1. Menjaga kesehatan jantung

  2. Meningkatkan produksi sel darah merah

  3. Membakar kalori

  4. Menurunkan risiko kanker

  5. Menurunkan kolesterol

  6. Menurunkan kelebihan zat besi

Sementara itu, menurut Unit Transfusi Darah (UTD) Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi DKI Jakarta, donor darah memberikan manfaat berupa.

  1. Memaksimalkan kapasitas organ paru-paru

  2. Meningkatkan kinerja organ ginjal dalam membuang limbah

  3. Meningkatkan kesehatan mental

  4. Membantu melancarkan sirkulasi darah dalam tubuh

  5. Meningkatkan volume darah dalam paru-paru

  6. Menurunkan zat seng berlebihan dalam darah

  7. Menghilangkan kaku di pundak

  8. Mengetahui lebih lanjut tentang tipe darah 

Setelah menyimak penjelasan tersebut, apakah kamu jadi tertarik untuk melakukan donor darah? Namun, perlu diingat bahwa kegiatan ini harus dilalui dengan berbagi macam prosedur ya, seperti pemeriksaan persyaratan dasar, menjaga tubuh tetap terhidrasi, hingga memastikan waktu tidur yang cukup agar kondisi fisik kamu benar-benar prima. Selamat Hari Donor Darah Sedunia!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article