- Demam, yang bisa cukup tinggi.
- Batuk.
- Pilek atau coryza.
- Mata merah dan berair atau konjungtivitis.
- Rasa tidak enak badan.
Campak atau Rubella? Perhatikan Urutan Munculnya Gejala

- Campak umumnya diawali demam tinggi, batuk, pilek, dan mata merah selama beberapa hari, lalu ruam muncul dari wajah menyebar ke tubuh; bintik Koplik dapat muncul tetapi bukan penentu tunggal.
- Rubella cenderung lebih ringan: ruam dapat menjadi tanda pertama, menyebar cepat dan berlangsung 1–3 hari; pembengkakan kelenjar di belakang telinga atau leher menjadi petunjuk khas.
- Pola gejala tidak cukup untuk diagnosis karena penyakit lain dapat memicu ruam serupa; campak dan rubella perlu konfirmasi laboratorium, dengan perhatian khusus pada dugaan rubella pada kehamilan.
Ruam merah muncul dari wajah lalu menyebar ke badan. Bagi awam, ini sering dikira campak. Padahal, rubella juga bisa menunjukkan pola ruam yang mirip. Itulah kenapa mengenali dua penyakit ini tidak bisa cuma dari ruam.
Baca lebih lanjut untuk mengetahui pola gejala yang berbeda antara campak dan rubella.
Table of Content
1. Campak biasanya dimulai dengan sakit yang cukup jelas, baru disusul ruam

Pada campak, ruam biasanya bukan gejala pertama.
Setelah seseorang terpapar virus campak, gejala umumnya mulai muncul sekitar 7–14 hari kemudian. Fase awal atau prodromal biasanya ditandai oleh:
Fase awal biasanya berlangsung sekitar 4–7 hari. Ruam kemudian muncul sekitar 3–5 hari setelah gejala pertama dimulai.
Sebelum ruam kulit muncul, sebagian pasien juga memiliki bintik Koplik, yaitu bintik kecil keputihan pada bagian dalam pipi. Bintik ini dapat terlihat sekitar 2–3 hari setelah gejala awal muncul.
Setelah itu barulah ruam makulopapular muncul, biasanya bermula di wajah atau garis rambut, kemudian bergerak ke leher, badan, lengan, hingga tungkai dan kaki. Saat ruam muncul, demam bahkan bisa kembali meningkat.
Namun, bintik Koplik juga tidak boleh dijadikan tes tunggal untuk campak. Penelitian surveilans di Jepang terhadap 3.023 kasus campak atau suspek campak menemukan sensitivitas bintik Koplik untuk diagnosis campak hanya sekitar 48 persen dan spesifisitasnya 80 persen. Bintik serupa juga terdokumentasi pada beberapa infeksi virus lain.
2. Rubella sering kali lebih ringan, ruam bisa menjadi tanda pertama
Urutan rubella cenderung lebih samar.
Masa inkubasinya lebih panjang, rata-rata sekitar 14–17 hari dengan rentang kurang lebih 12–23 hari. Pada anak kecil, ruam sering menjadi tanda pertama yang terlihat. Sementara pada anak yang lebih besar dan orang dewasa, dapat muncul fase prodromal ringan selama 1–5 hari sebelum ruam.
Keluhan sebelum ruam dapat berupa:
- Demam ringan.
- Sakit kepala.
- Rasa tidak enak badan.
- Pilek atau batuk ringan.
- Mata sedikit merah.
- Pembengkakan kelenjar getah bening.
Di antara semua gejala tersebut, kelenjar getah bening yang membesar di belakang telinga, belakang leher, atau bagian belakang kepala merupakan salah satu petunjuk klinis yang paling khas pada rubella. Pembengkakan bahkan dapat mulai sekitar satu minggu sebelum ruam dan bertahan beberapa minggu.
Ruam rubella biasanya dimulai dari wajah kemudian menyebar cepat ke badan dan anggota tubuh, sering kali menjadi ruam generalisata (ruam yang menyebar luas ke banyak area tubuh) dalam waktu sekitar 24 jam.
Ruam biasanya berlangsung singkat, sekitar 1–3 hari.
Pada perempuan dewasa, nyeri atau radang sendi juga lebih umum terjadi dibandingkan pada anak-anak. Artralgia atau artritis dapat terjadi pada hingga 70 persen perempuan dewasa yang mengalami rubella.
Sekitar 25–50 persen infeksi rubella terjadi tanpa gejala yang jelas.
3. Jadi, apa perbedaan urutan gejalanya?

Perjalanan khas gejala campak dan rubella dapat dibandingkan seperti ini:
Perjalanan penyakit | Campak | Rubella |
|---|---|---|
Setelah terpapar | Gejala biasanya mulai 7–14 hari kemudian | Gejala biasanya muncul sekitar 2–3 minggu kemudian |
Sebelum ruam | Demam tinggi, batuk, pilek, mata merah cukup menonjol | Sering ringan; dapat muncul demam ringan dan pembengkakan kelenjar |
Petunjuk sebelum ruam | Bintik Koplik dapat muncul | Kelenjar di belakang telinga/leher membesar |
Kapan ruam muncul? | Biasanya 3–5 hari setelah gejala awal | Pada anak dapat menjadi tanda pertama; pada yang lain setelah fase prodromal 1–5 hari |
Awal ruam | Wajah/garis rambut | Wajah |
Penyebaran | Turun ke badan dan ekstremitas | Turun ke badan dan ekstremitas, biasanya cepat |
Lama ruam | Sekitar 4–8 hari | Sekitar 4–8 hari |
Demam saat ruam | Dapat tetap tinggi atau meningkat | Biasanya ringan |
Anak dengan demam tinggi, batuk, pilek, dan mata merah selama beberapa hari kemudian muncul ruam memiliki pola yang lebih sesuai dengan campak. Sebaliknya, penyakit yang relatif ringan dengan pembengkakan kelenjar belakang telinga atau leher dan ruam singkat lebih mengarah ke rubella.
Meski begitu, pola tersebut tetapllah hanya petunjuk, bukan diagnosis. Sebuah penelitian diagnostik dari RSUD Dr. Soetomo Surabaya pada 82 anak dengan dugaan campak menemukan kombinasi beberapa tanda klinis memang cukup sensitif sebagai alat skrining, tetapi spesifisitasnya rendah. Para peneliti menekankan dugaan klinis tetap perlu dikonfirmasi dengan pemeriksaan laboratorium.
4. Jangan menentukan campak atau rubella hanya dari ruam
Rubella sulit didiagnosis hanya berdasarkan penampilan klinis karena berbagai penyakit dapat menghasilkan demam dan ruam makulopapular yang serupa, termasuk campak, parvovirus B19, roseola, dan sejumlah infeksi virus lainnya. Konfirmasi laboratorium sangat penting.
Campak pun perlu dikonfirmasi pada kasus suspek. Pemeriksaan dapat menggunakan antibodi IgM dan deteksi RNA virus dengan RT-PCR, dengan jenis serta waktu pengambilan spesimen memengaruhi hasil pemeriksaan.
Rubella dapat dikonfirmasi dengan pemeriksaan serologi dan/atau RT-PCR sesuai konteks klinis.
Karena campak sangat menular, orang yang mengalami demam disertai batuk, pilek, mata merah, kemudian muncul ruam, terutama setelah kontak dengan kasus campak atau berada di daerah dengan penularan, sebaiknya menghubungi fasilitas kesehatan terlebih dahulu sebelum datang. Pengaturan pemeriksaan dapat dilakukan agar orang lain di ruang tunggu tidak ikut terpapar.
Kecurigaan rubella memiliki urgensi khusus bila terjadi pada orang hamil atau seseorang yang baru berkontak erat dengan ibu hamil. Infeksi rubella pada awal kehamilan dapat menyebabkan keguguran, kematian janin, atau congenital rubella syndrome, yang antara lain dapat menimbulkan gangguan pendengaran, kelainan mata, dan penyakit jantung bawaan.
Referensi
Hirokazu Kimura et al., “The Association Between Documentation of Koplik Spots and Laboratory Diagnosis of Measles and Other Rash Diseases in a National Measles Surveillance Program in Japan,” Frontiers in Microbiology 10 (2019): 269, doi:10.3389/fmicb.2019.00269.
Dominicus Husada, Kusdwijono, Dwiyanti Puspitasari, Leny Kartina, Parwati Setiono Basuki, and Ismoedijanto, “An Evaluation of the Clinical Features of Measles Virus Infection for Diagnosis in Children within a Limited Resources Setting,” BMC Pediatrics 20 (2020): 5, doi:10.1186/s12887-020-1908-6.
J. E. Banatvala and David W. G. Brown, “Rubella,” The Lancet 363, no. 9415 (2004): 1127–37, doi:10.1016/S0140-6736(04)15897-2.
World Health Organization, “Measles,” diakses Agustus 2026.
World Health Organization, “Rubella,” diakses Agustus 2026.
Centers for Disease Control and Prevention, “Chapter 20: Rubella,” Epidemiology and Prevention of Vaccine-Preventable Diseases (Pink Book), accessed August 9, 2026.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, “Lindungi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan, Kemenkes Keluarkan Surat Edaran Kewaspadaan Campak,” diakses Agustus 2026.



















![[QUIZ] Dari Aktivitas Harianmu, Plank atau Push Up yang Cocok Buatmu?](https://image.idntimes.com/post/20250527/rekomendasi-jadwal-workout-di-rumah-jadwal-workout-di-rumah-hari-keempat-push-up-9cde86371d7fc78c91ae80a6ffab250e-e9e34022b49f39951bd44c66acf23603.jpg)

