Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Masalah Kesehatan yang Dikaitkan dengan Pemakaian AC

5 Masalah Kesehatan yang Dikaitkan dengan Pemakaian AC
ilustrasi menyalakan AC (magnific.com/freepik)
  • Lingkungan ber-AC dapat berkaitan dengan mata, hidung, tenggorokan, dan kulit kering, terutama akibat kelembapan rendah serta embusan udara langsung.
  • Sakit kepala, kelelahan, sulit fokus, hingga iritasi dapat terkait sick building syndrome, yang dipengaruhi ventilasi, polutan, suhu, kelembapan, dan pemeliharaan gedung.
  • Sistem AC kotor atau lembap dapat memperburuk alergi dan asma; kualitas udara dijaga melalui filter terawat, ventilasi memadai, kelembapan 30–50 persen, dan pengaturan suhu nyaman.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Masuk ke ruangan dingin ber-AC setelah berada di tengah udara panas terasa menyejukkan. Beberapa jam kemudian, kamu mungkin mengalami mata kering, tenggorokan tidak nyaman, atau kepala terasa berat.

AC mengubah temperatur, kelembapan, dan pergerakan udara. Pada bangunan tertutup, kondisi kesehatan juga dipengaruhi oleh ventilasi, kebersihan filter, kelembapan, jamur, debu, serta polutan yang berasal dari dalam ruangan. Kualitas lingkungan dalam bangunan merupakan hasil interaksi berbagai faktor tersebut, bukan cuma keberadaan AC.

Berikut beberapa masalah kesehatan yang bisa berkaitan dengan lingkungan ber-AC.

  1. 1. Mata menjadi kering dan mudah teriritasi

    Mata memiliki lapisan air mata tipis yang menjaga permukaannya tetap lembap. Ketika udara di sekitar menjadi lebih kering dan aliran udara terus menerpa wajah, penguapan air mata dapat meningkat. Akibatnya, mata dapat terasa kering, berpasir, perih, merah, lelah, atau seperti ada benda asing.

    Studi prospektif selama satu tahun pada 150 pekerja menemukan faktor lingkungan kerja, termasuk kelembapan relatif yang rendah dan ruangan ber-AC, berdampak negatif pada lapisan air mata dan berkaitan dengan gejala mata kering.

    Keluhan bisa makin terasa pada pekerja yang menghabiskan waktu lama di depan komputer. Selain lingkungan kering, menatap layar dapat mengurangi frekuensi atau kualitas kedipan sehingga lapisan air mata lebih mudah tidak stabil.

    Jika memungkinkan, hindari arah embusan AC langsung ke mata, istirahatkan mata dari layar secara berkala, dan pertimbangkan pemeriksaan jika mata kering terus berulang atau sampai mengganggu penglihatan.

  2. 2. Hidung dan tenggorokan terasa kering

    Ilustrasi seorang pria memegang leher dengan area tenggorokan memerah sebagai gambaran keluhan tenggorokan kering.
    ilustrasi tenggorokan kering (vecteezy.com/Saranyoo Chantawong)

    Lapisan mukosa pada hidung dan tenggorokan juga butuh kelembapan. Udara yang terlalu kering dapat membuat area tersebut terasa kering, gatal, tersumbat, atau tidak nyaman. Pada sebagian orang, keluhan dapat berupa batuk atau rasa mengganjal di tenggorokan.

    Studi pada dua gedung perkantoran, misalnya, menemukan gejala rinitis, hidung tersumbat, dan tenggorokan kering lebih banyak dilaporkan pekerja di gedung ber-AC dibandingkan gedung dengan ventilasi alami. Namun, ini tidak membuktikan bahwa AC sendiri merupakan penyebabnya, karena kualitas ventilasi dan berbagai faktor bangunan dapat ikut berperan.

  3. 3. Sakit kepala, kelelahan, dan sulit berkonsentrasi

    Ada gejala yang bisa muncul selama berada di gedung tertentu lalu berkurang setelah meninggalkannya. Keluhan tersebut mencakup sakit kepala, kelelahan, mata dan tenggorokan teriritasi, kulit kering, serta sulit berkonsentrasi. Fenomena ini disebut sick building syndrome (SBS) atau building-related symptoms.

    SBS bukan penyakit akibat AC. Penelitian menunjukkan banyak variabel dapat terlibat, mulai dari ventilasi tidak memadai, polutan dalam ruangan, temperatur dan kelembapan yang tidak nyaman, hingga faktor pekerjaan dan individu.

    Ada studi terhadap lebih dari 1.300 pekerja yang dipindahkan ke gedung dengan sistem ventilasi yang dirancang dan dirawat lebih baik. Setelah pindah, prevalensi berbagai keluhan turun: gejala kulit berkurang 54 persen, keluhan pernapasan 53 persen, hidung dan tenggorokan 46 persen, kelelahan 44 persen, serta sakit kepala 37 persen.

    Jadi, kualitas ventilasi dan pemeliharaan gedung perannya bisa lebih penting.

    Sebuah tinjauan terhadap literatur ventilasi juga menemukan bahwa pada bangunan perkantoran, peningkatan pasokan udara luar sampai tingkat tertentu berkaitan dengan lebih sedikit gejala SBS.

  4. 4. Gejala alergi atau asma bisa memburuk jika sistem AC kotor

    Ilustrasi seorang perempuan duduk di sofa sambil menggunakan inhaler saat gejala asma kambuh di dalam rumah.
    ilustrasi asma kambuh (magnific.com/krakenimages.com)

    AC sebenarnya dapat membantu menyaring partikel udara. Namun, manfaat tersebut bergantung pada sistem yang bekerja dan dirawat dengan baik.

    Debu, serbuk sari, spora jamur, dan berbagai alergen dapat ditemukan di lingkungan dalam ruangan. Sistem air handling sentral yang terkontaminasi dapat menjadi tempat berkembangnya jamur atau kontaminan biologis dan kemudian mendistribusikannya ke bagian lain bangunan. Jamur sendiri dapat memicu rinitis alergi dan serangan asma pada orang yang sensitif.

    Studi terhadap lebih dari 1.100 pekerja di enam gedung ber-AC juga menemukan bahwa pada sebagian kecil pekerja, paparan alergen tungau debu atau Alternaria di kantor berkaitan dengan gejala saluran pernapasan. Keberadaan alergen Alternaria di udara kantor berkaitan pula dengan ditemukannya alergen tersebut di sistem ventilasi dan filter dengan efisiensi lebih rendah.

    Pada orang yang sudah sensitif terhadap alergen tertentu, sistem yang kotor atau lingkungan lembap dan berjamur dapat menjadi sumber pemicu asma.

    Sebaliknya, filter HVAC yang sesuai dan dipelihara dengan baik dapat membantu mengurangi partikel di dalam ruangan.

    Jadi, filter harus dibersihkan atau diganti secara berkala sesuai petunjuk produsen.

  5. 5. Kulit bisa terasa lebih kering

    Lapisan terluar kulit (stratum corneum) membutuhkan keseimbangan air untuk mempertahankan sifat fisiknya. Lingkungan dengan kelembapan rendah dapat mengubah kadar air stratum corneum, elastisitas, dan kekasaran kulit. Beberapa penelitian juga menemukan gejala kulit kering pada lingkungan ber-AC dengan kelembapan rendah.

    Namun, bukti mengenai efek kelembapan terhadap fungsi skin barrier tidak konsisten, sehingga AC tidak bisa ditunjuk sebagai penyebab langsung eksem atau penyakit kulit tertentu.

    Bagi orang yang mudah mengalami kulit kering, menggunakan pelembap setelah mandi dan menghindari suhu ruangan yang terlalu dingin dapat membantu.

  6. Bagaimana dengan pneumonia Legionnaires?

    Tangan memegang remote mengarah ke unit AC dinding untuk menyalakan atau mematikan pendingin ruangan.
    ilustrasi menyalakan dan mematikan AC (pexels.com/Jakub Zerdzicki)

    Bakteri Legionella memang dapat berkembang pada cooling tower, yaitu sistem yang menggunakan air sebagai bagian dari pendinginan gedung besar. Air yang terkontaminasi dapat menghasilkan aerosol yang membawa bakteri dan menyebabkan penyakit Legionnaires, yaitu bentuk pneumonia yang serius.

    Namun, AC rumah dan mobil bukan sumber pertumbuhan Legionella karena unit tersebut tidak menggunakan air untuk mendinginkan udara dengan mekanisme seperti cooling tower.

  7. Apakah sebaiknya mengurangi pemakaian AC?

    Tidak ada dasar ilmiah untuk menganggap AC secara umum harus dihindari.

    Dalam cuaca sangat panas, ruang yang sejuk justru penting untuk mencegah penyakit akibat panas. Rekomendasi umumnya adalah pengaturan sekitar 27 derajat Celsius yang dikombinasikan dengan kipas untuk menjaga kenyamanan sekaligus efisiensi.

    Yang lebih penting adalah kualitas lingkungan dalam ruangan. EPA menyarankan kelembapan relatif dalam rumah sekitar 30–50 persen, ventilasi yang memadai, pengendalian sumber polutan, serta pembersihan atau penggantian filter AC secara berkala. Kebocoran dan sumber kelembapan yang memungkinkan jamur tumbuh juga perlu diperbaiki.

    Jika mata, hidung, kulit, atau saluran napas selalu bermasalah ketika berada di ruangan ber-AC namun membaik setelah keluar, yang perlu menjadi perhatian adalah kelembapan, arah embusan udara, ventilasi, filter, jamur, dan kualitas udara ruangan.

    Referensi

    Jan Sundell et al., “Ventilation Rates and Health: Multidisciplinary Review of the Scientific Literature,” Indoor Air 21, no. 3 (2011): 191–204, https://doi.org/10.1111/j.1600-0668.2010.00703.x.

    Edyta Chlasta-Twardzik, Aleksandra Górecka-Nitoń, Anna Nowińska, and Edward Wylęgała, “The Influence of Work Environment Factors on the Ocular Surface in a One-Year Follow-Up Prospective Clinical Study,” Diagnostics 11, no. 3 (2021): 392, https://doi.org/10.3390/diagnostics11030392.

    D. Menzies et al., “Prevalence of the Sick Building Syndrome Symptoms in Office Workers before and after Being Exposed to a Building with an Improved Ventilation System,” Occupational and Environmental Medicine 53, no. 3 (1996): 204–10, https://doi.org/10.1136/oem.53.3.204.

    Dick Menzies, Paul Comtois, Joe Pasztor, Fatima Nunes, and James A. Hanley, “Aeroallergens and Work-Related Respiratory Symptoms among Office Workers,” Journal of Allergy and Clinical Immunology 101, no. 1, pt. 1 (1998): 38–44, https://doi.org/10.1016/S0091-6749(98)70191-5.

    N. Goad and D. J. Gawkrodger, “Ambient Humidity and the Skin: The Impact of Air Humidity in Healthy and Diseased States,” Journal of the European Academy of Dermatology and Venereology 30, no. 8 (2016): 1285–94, https://doi.org/10.1111/jdv.13707.

    Vidya Ganji, M. Kalpana, U. Madhusudhan, Nitin Ashok John, and Madhuri Taranikanti, “Impact of Air Conditioners on Sick Building Syndrome, Sickness Absenteeism, and Lung Functions,” Indian Journal of Occupational and Environmental Medicine 27, no. 1 (2023): 26–30, https://doi.org/10.4103/ijoem.ijoem_23_22.

    Centers for Disease Control and Prevention, “How Legionella Spreads,” diakses Agustus 2026.

    U.S. Environmental Protection Agency, “Care for Your Air: A Guide to Indoor Air Quality,” diakses Agustus 2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More