Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Hal yang Terjadi pada Tubuh saat Hormon Kortisol Terlalu Tinggi

5 Hal yang Terjadi pada Tubuh saat Hormon Kortisol Terlalu Tinggi
ilustrasi pria yang merasa stres (pexels.com/Andrea Piacquadio)
Intinya Sih
  • Kortisol tinggi berkepanjangan akibat stres kronis, gangguan adrenal, atau kortikosteroid jangka panjang dapat memicu penumpukan lemak perut, peningkatan nafsu makan, dan kenaikan berat badan.
  • Kelebihan kortisol membuat gula darah dan tekanan darah lebih sulit terkendali, meningkatkan risiko resistensi insulin, diabetes tipe 2, penyakit jantung, stroke, serta kerusakan ginjal.
  • Paparan kortisol tinggi dapat melemahkan imun dan memperlambat penyembuhan luka, sekaligus mengganggu memori, fokus, pengambilan keputusan, serta meningkatkan risiko kecemasan dan depresi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Kortisol disebut sebagai hormon stres karena produksinya meningkat saat tubuh menghadapi tekanan fisik maupun emosional. Dalam jumlah normal, hormon ini membantu mengatur metabolisme, tekanan darah, hingga respons imun. Masalah mulai muncul ketika kadar kortisol tetap tinggi dalam waktu yang lama.

Kondisi tersebut dapat dipicu oleh stres kronis, gangguan pada kelenjar adrenal, atau penggunaan obat kortikosteroid dalam jangka panjang. Kelebihan kortisol memengaruhi berbagai sistem tubuh sekaligus sehingga gejalanya sering kali muncul secara bertahap. Berikut lima hal yang dapat terjadi ketika kadar hormon kortisol terlalu tinggi.

1. Lemak lebih mudah menumpuk di area perut

ilustrasi perut buncit
ilustrasi perut buncit (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)

Salah satu dampak paling umum dari kadar kortisol yang tinggi adalah meningkatnya penumpukan lemak di sekitar perut. Kortisol memengaruhi cara tubuh menyimpan energi dengan mendorong penimbunan lemak, terutama di bagian perut, sementara lengan dan kaki bisa tetap tampak relatif ramping. Kondisi ini sering dijumpai pada orang yang mengalami stres berkepanjangan maupun penderita sindrom Cushing.

Selain mengubah distribusi lemak, kortisol juga dapat meningkatkan nafsu makan, terutama terhadap makanan tinggi gula dan lemak. Kombinasi peningkatan asupan kalori serta perubahan metabolisme membuat berat badan lebih mudah bertambah. Lemak di area perut juga berkaitan dengan meningkatnya risiko penyakit jantung, diabetes tipe 2, dan gangguan metabolik lainnya.

2. Gula darah menjadi lebih sulit terkendali

ilustrasi cek gula darah
ilustrasi cek gula darah (pexels.com/Nataliya Vaitkevich)

Kortisol berperan menjaga pasokan energi dengan merangsang hati melepaskan lebih banyak glukosa ke dalam aliran darah. Pada kondisi normal, mekanisme ini membantu tubuh menghadapi situasi yang membutuhkan energi tambahan. Namun, jika kadar kortisol terus meningkat, gula darah dapat tetap tinggi meskipun tubuh sedang beristirahat.

Dalam jangka panjang, kadar glukosa yang terus meningkat dapat membuat sel tubuh menjadi kurang peka terhadap insulin atau mengalami insulin resistance. Akibatnya, pankreas harus bekerja lebih keras untuk menghasilkan insulin agar gula darah tetap terkendali. Jika berlangsung terus menerus, kondisi ini dapat meningkatkan risiko berkembangnya pradiabetes hingga diabetes tipe 2.

3. Tekanan darah cenderung terus meningkat

ilustrasi cek tekanan darah
ilustrasi cek tekanan darah (pexels.com/Thirdman)

Kortisol membantu menjaga tekanan darah dengan meningkatkan sensitivitas pembuluh darah terhadap hormon yang menyebabkan penyempitan pembuluh. Ketika kadarnya terlalu tinggi, efek tersebut menjadi lebih kuat sehingga tekanan darah dapat meningkat secara terus menerus. Kondisi ini sering berkembang tanpa gejala sehingga banyak orang tidak menyadarinya sejak awal.

Tekanan darah yang tidak terkendali membuat jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Dalam jangka panjang, beban tambahan ini dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, hingga kerusakan ginjal. Karena itu, kadar kortisol yang tinggi juga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam menjaga kesehatan sistem kardiovaskular.

4. Daya tahan tubuh menjadi lebih lemah

ilustrasi wanita yang sedang sakit
ilustrasi wanita yang sedang sakit (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Kortisol memiliki efek menekan aktivitas sistem kekebalan tubuh agar respons peradangan tidak berlebihan. Meskipun fungsi ini penting dalam kondisi tertentu, kadar kortisol yang terlalu tinggi dalam waktu lama justru dapat mengurangi kemampuan tubuh melawan infeksi. Akibatnya, tubuh menjadi lebih mudah terserang penyakit dan proses penyembuhan luka dapat berlangsung lebih lambat.

Selain meningkatkan kerentanan terhadap infeksi, produksi kortisol yang berlebihan juga dapat memengaruhi efektivitas respons imun terhadap virus maupun bakteri. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa stres kronis berkaitan dengan menurunnya aktivitas sel imun tertentu. Inilah sebabnya mengapa orang yang mengalami stres berkepanjangan sering merasa lebih mudah sakit dibandingkan biasanya.

5. Suasana hati dan fungsi otak ikut terganggu

ilustrasi seseorang yang sedang stres
ilustrasi seseorang yang sedang stres (unsplash.com/SEO Galaxy)

Kortisol tidak hanya memengaruhi organ tubuh, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap otak. Paparan kadar kortisol yang tinggi dalam waktu lama dapat mengganggu fungsi hippocampus dan prefrontal cortex, yaitu bagian otak yang berperan dalam memori, konsentrasi, serta pengambilan keputusan. Akibatnya, kita dapat lebih mudah lupa, sulit fokus, atau merasa kesulitan berpikir jernih.

Di sisi lain, kortisol yang berlebihan juga berkaitan dengan meningkatnya risiko gangguan suasana hati, seperti kecemasan dan depresi. Perubahan kadar hormon ini dapat memengaruhi keseimbangan neurotransmiter yang mengatur emosi. Jika dibiarkan tanpa penanganan, dampaknya dapat menurunkan kualitas hidup serta mengganggu aktivitas sehari-hari.

Kortisol merupakan hormon yang penting bagi tubuh, tetapi kadarnya perlu tetap seimbang agar bermanfaat bagi kesehatan. Kelebihan kortisol dapat memengaruhi metabolisme hingga fungsi otak secara bersamaan. Karena itu, mengelola stres, menjaga pola tidur, dan berkonsultasi dengan tenaga medis jika muncul gejala yang mengarah pada gangguan hormon menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan tubuh dalam jangka panjang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More