Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Mengenal Soleus, Otot Betis yang Penting bagi Pelari

4 min read
Mengenal Soleus, Otot Betis yang Penting bagi Pelari
ilustrasi otot betis soleus (pexels.com/Dania Ortega)
  • Soleus berada di bawah gastrocnemius dan berperan menekuk telapak kaki ke bawah serta menjaga kestabilan tubuh.

  • Otot ini memiliki banyak serabut yang tahan lelah sehingga terus bekerja saat berjalan dan berlari jarak jauh.

  • Nyeri soleus sering terasa sebagai kaku atau pegal yang muncul bertahap, sehingga mudah dianggap sebagai keluhan biasa.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Dalam lari jarak jauh, keluhan pada betis tidak cuma nyeri tajam. Pada beberapa pelari, sensasinya bisa lebih samar, seperti betis terasa penuh, kaku, atau nyeri dalam yang perlahan memburuk setelah jarak tempuh bertambah.

Salah satu otot yang dapat terlibat adalah soleus. Otot ini berada di bagian dalam betis, tepat di bawah gastrocnemius, yaitu otot yang membentuk tonjolan utama betis. Soleus berasal dari tulang tibia dan fibula, lalu menyatu dengan gastrocnemius untuk membentuk tendon Achilles yang menempel pada tulang tumit.

  1. Fungsi soleus

    Soleus membantu melakukan plantar fleksi, yaitu gerakan menekan telapak kaki ke bawah seperti saat berdiri jinjit. Gerakan ini diperlukan untuk menjaga posisi tubuh, menstabilkan pergelangan kaki, dan membantu menghasilkan dorongan ketika kaki meninggalkan permukaan.

    Berbeda dari gastrocnemius yang melewati sendi lutut dan pergelangan kaki, soleus hanya melewati sendi pergelangan kaki. Soleus juga didominasi serabut otot tipe I yang relatif tahan lelah. Karakter tersebut membuatnya berperan besar dalam aktivitas yang berlangsung lama, termasuk berjalan dan lari jarak jauh.

    Saat berlari, soleus bekerja berulang kali pada setiap langkah. Otot ini membantu mengendalikan gerakan tungkai bawah ketika tubuh bergerak ke depan, kemudian membantu menghasilkan dorongan melalui kompleks otot betis dan tendon Achilles. Karena frekuensi kerjanya tinggi, kemampuan soleus menanggung beban secara berulang menjadi bagian dari kapasitas fisik pelari.

    Namun, performa lari tidak ditentukan oleh soleus saja. Kecepatan, daya tahan, teknik, kebugaran jantung-paru, serta kemampuan otot lain juga berperan.

  2. Mengapa soleus mudah luput dari perhatian?

    Cedera soleus sering tidak terasa seperti cedera akut. Keluhannya lebih sering berupa rasa kaku atau tegang yang berkembang secara bertahap, terutama pada aktivitas dengan volume lari tinggi dan kondisi kelelahan.

    Keluhan tersebut dapat membaik dalam beberapa jam atau hari. Akibatnya, pelari mungkin menganggapnya hanya sebagai pegal biasa lalu kembali berlatih sebelum jaringan pulih sepenuhnya. Padahal, cedera yang tidak dikenali dan kembalinya aktivitas terlalu cepat dapat meningkatkan risiko cedera berulang.

    Dalam sebuah studi terhadap 44 atlet dengan cedera soleus yang dikonfirmasi melalui MRI, tiga orang mengalami cedera ulang dalam satu tahun. Angka ini menunjukkan bahwa cedera soleus tetap perlu ditangani dengan tepat.

  3. Apakah latihan calf raise menargetkan soleus?

    Ilustrasi seorang pelari pria berlatih di luar ruangan dengan fokus pada kekuatan dan kondisi otot betis.
    ilustrasi betis pelari (magnific.com/magnific)

    Variasi latihan calf raise dengan lutut menekuk sering digunakan untuk memberi porsi kerja lebih besar pada soleus. Saat lutut ditekuk, kontribusi gastrocnemius—yang melewati sendi lutut—berubah, sehingga soleus mengambil porsi kerja yang lebih besar.

    Meski begitu, gerakan tersebut tidak benar-benar mengisolasi soleus. Penelitian tentang heel-raise test menunjukkan bahwa perubahan posisi lutut dapat membantu membedakan fungsi gastrocnemius dan soleus, tetapi kontribusi kedua otot tetap dapat tumpang tindih.

    Bagi pelari, latihan dapat mencakup calf raise dengan lutut lurus dan menekuk. Beban perlu ditingkatkan secara bertahap, terutama setelah jeda latihan atau ketika jarak tempuh mulai bertambah. Jika mengalami nyeri tajam, nyeri yang makin berat, atau perubahan cara berjalan, jangan memaksakan latihan.

  4. Kapan nyeri betis perlu diperiksa?

    Nyeri betis tidak selalu berasal dari soleus. Gastrocnemius, tendon Achilles, jaringan sekitar tulang, dan pembuluh darah juga dapat menimbulkan keluhan serupa.

    Pemeriksaan medis perlu dipertimbangkan jika nyeri menetap, berulang, menyebabkan pincang, disertai memar atau bengkak, atau membuat pelari tidak mampu melakukan dorongan dengan kaki.

    Cedera soleus juga dapat sulit terlihat melalui pemeriksaan awal dan dalam beberapa kasus memerlukan pencitraan seperti MRI.

    Segera cari pertolongan medis jika betis membengkak pada satu sisi, terasa hangat atau kemerahan, atau nyeri muncul tanpa penyebab yang jelas. Jika keluhan tersebut disertai sesak napas mendadak atau nyeri dada, jangan menganggapnya sebagai cedera olahraga karena itu bisa berkaitan dengan bekuan darah.

    Meski tidak seterkenal gastrocnemius, tetapi otot soleus bekerja hampir terus-menerus saat berlari. Memahami perannya dapat membantu pelari membedakan pegal yang wajar dari keluhan yang perlu diperhatikan, sehingga masalah yang menetap tidak terus diabaikan.

    Referensi

    Alvaro F. Siedi et al., “Posterior Leg Pain: Understanding Soleus Muscle Injuries,” RadioGraphics 42, no. 3 (2022): 778–788, https://doi.org/10.1148/rg.210133.

    Carles Pedret et al., “Return to Play After Soleus Muscle Injuries,” Orthopaedic Journal of Sports Medicine 3, no. 7 (2015): 2325967115595802, https://doi.org/10.1177/2325967115595802.

    Kim Hébert-Losier et al., “Analysis of Knee Flexion Angles During 2 Clinical Versions of the Heel Raise Test to Assess Soleus and Gastrocnemius Function,” Journal of Orthopaedic & Sports Physical Therapy 41, no. 7 (2011): 505–513, https://doi.org/10.2519/jospt.2011.3489.

    Mayo Clinic, “Shortness of Breath: Causes and Definition,” Mayo Clinic, diakses September 2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More