ilustrasi minuman beralkohol (unsplash.com/Andra C Taylor Jr)
Di beberapa serial atau film, minuman beralkohol sering digambarkan sebagai teman setia untuk menghangatkan tubuh di kala musim dingin. Sensasi hangat yang menyebar di dada dan wajah setelah meneguk segelas soju atau makgeolli memang terasa nyata dan menenangkan. Namun, apakah kehangatan ini benar-benar menaikkan suhu tubuh atau hanya ilusi belaka?
Dalam studi yang terbit di jurnal Arctic Medical Research tahun 1991, ilmuwan Per-Ola Granberg mengungkapkan bahwa alkohol justru menjadi penyebab dominan kematian akibat hipotermia di perkotaan. Penelitian tersebut menjelaskan bahwa meskipun alkohol memberikan perasaan hangat yang menyenangkan, paparan dingin yang lebih lama justru membuat tubuh kehilangan panas lebih cepat. Alkohol juga memperlambat dan mempersingkat respons alami tubuh untuk menggigil, padahal menggigil adalah cara utama kita menghasilkan panas.
Selain itu, alkohol membuat seseorang lebih sering buang air kecil saat udara dingin, yang mana menyebabkan tubuh kehilangan banyak cairan dan akhirnya mengurangi volume darah. Akibatnya, tubuh tidak hanya kehilangan panas lebih cepat, tetapi juga kehilangan energi dan kekuatan untuk bekerja secara optimal. Jadi, kehangatan sesaat setelah minum alkohol hanyalah tipuan yang berbahaya, karena rasa berani dan penilaian keliru akibat alkohol bisa membuat seseorang mengabaikan tindakan pencegahan, seperti memakai pakaian hangat, yang seharusnya dilakukan saat berada di cuaca dingin.