Pada lomba marathon, kilometer ke-30 sering disebut sebagai titik paling menentukan, meski secara logika seharusnya tubuh sudah “terbiasa” berlari sejak awal. Faktanya, sebagian besar kasus berhenti mendadak, jalan tertatih, hingga pingsan ringan justru terjadi setelah jarak ini terlewati. Penyebabnya bukan sekadar lelah, tetapi akumulasi perubahan fisiologis yang baru mencapai batasnya, setelah tubuh bekerja selama lebih dari dua jam nonstop.
Di fase ini, cadangan energi utama menurun tajam, cairan tubuh menyusut signifikan, dan kerja otot tidak lagi seefisien awal lomba. Kondisi tersebut membuat kilometer ke-30 menjadi titik runtuh bagi pelari yang persiapannya kurang presisi. Berikut penjelasan detail kenapa hal itu bisa terjadi.
