Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Perubahan yang Membuat Otot Melemah saat Menua
ilustrasi lansia menaiki tangga sebagai gambaran kemampuan tubuh tetap aktif seiring bertambahnya usia (pexels.com/ SHOX ART)
  • Penuaan dapat mengubah massa, kualitas, dan kekuatan otot, sekaligus memengaruhi sinyal saraf yang menggerakkan otot.

  • Respons otot terhadap latihan dan asupan protein dapat melemah seiring usia; kurang bergerak, sakit, atau malnutrisi bisa mempercepat penurunan.

  • Kesulitan bangkit dari kursi, berjalan, menaiki tangga, atau membawa barang layak dibicarakan dengan tenaga kesehatan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bangkit dari kursi biasanya terasa mudah. Namun, ketika seseorang mulai perlu bertumpu pada sandaran tangan, mengambil jeda saat menaiki tangga, atau kesulitan membawa belanjaan, perubahan itu bisa sangat terasa. Kekuatan otot ikut menentukan seberapa mudah seseorang menjalani kegiatan sehari-hari dan mempertahankan kemandirian.

Seiring usia, massa dan fungsi otot dapat menurun. Proses ini dipengaruhi beberapa perubahan yang saling berkaitan, dan kekuatan bisa berkurang lebih cepat daripada ukuran otot. Ulasan penelitian tentang fungsi otot rangka pada usia lanjut menjelaskan bahwa perubahan pada otot dan sistem saraf ikut berperan.

1. Otot merespons latihan dan protein dengan cara berbeda

Tubuh terus membongkar dan membangun kembali protein otot. Proses ini membantu memperbaiki dan mempertahankan jaringan otot. Seiring bertambahnya usia, otot dapat menjadi kurang responsif terhadap rangsangan seperti latihan dan asupan protein. Kondisi ini disebut resistensi anabolik.

Respons yang melemah dapat membuat proses pembentukan protein otot tidak seimbang dengan pemecahannya. Akibatnya, tubuh lebih sulit mempertahankan kekuatan dan massa otot, terutama jika aktivitas fisik dan asupan gizi tidak memadai.

2. Sinyal dari saraf ke otot bisa menjadi kurang stabil

Setiap gerakan otot dikendalikan oleh saraf motorik. Saraf dan serat otot yang bekerja bersama membentuk unit motorik. Seiring bertambahnya usia, jumlah unit motorik dapat berkurang dan hubungan antara saraf serta otot juga mengalami perubahan.

Meski saraf yang masih berfungsi dapat mengambil alih sebagian tugas yang hilang, tetapi kemampuan ini tidak selalu cukup untuk mempertahankan kekuatan dan kontrol gerakan seperti saat lebih muda. Karena itu, penurunan kekuatan otot tidak hanya dipengaruhi oleh berkurangnya massa otot, tetapi juga oleh perubahan pada sistem saraf.

3. Serat dan kualitas otot ikut berubah

ilustrasi lansia jalan santai (magnific.com/rawpixel-com)

Otot terdiri dari serat-serat dengan fungsi berbeda. Serat tipe II membantu menghasilkan tenaga dengan cepat, misalnya saat berdiri mendadak atau menjaga keseimbangan ketika hampir terpeleset. Studi menjelaskan bahwa penuaan berkaitan dengan perubahan komposisi serat otot, berkurangnya serat tipe II, serta bertambahnya lemak di dalam dan di antara otot.

Perubahan itu dapat memengaruhi kualitas otot dan kemampuannya menghasilkan tenaga. Karena itu, seseorang bisa merasa gerakannya makin lambat atau tubuhnya kurang kuat, meskipun perubahan ukuran otot tidak langsung tampak jelas.

4. Perubahan pada mitokondria sel dan peradangan ikut berperan

Mitokondria adalah bagian sel yang berperan menghasilkan energi bagi tubuh. Penelitian menunjukkan bahwa perubahan fungsi mitokondria dapat berkaitan dengan gangguan komunikasi antara saraf dan otot. Selain itu, peradangan ringan yang berlangsung lama serta perubahan dalam cara tubuh mengatur protein otot juga diduga ikut berperan.

Faktor-faktor tersebut saling memengaruhi dan masih terus diteliti. Karena itu, melemahnya otot seiring bertambahnya usia tidak dapat dijelaskan oleh satu penyebab saja. Perubahan pada saraf, otot, sistem energi sel, dan faktor lainnya kemungkinan sama-sama berkontribusi.

5. Kurang bergerak, sakit, dan asupan yang kurang dapat mempercepat penurunan

Otot yang jarang digunakan bisa kehilangan kekuatan dan massa. Masa tidak aktif akibat sakit, tirah baring, atau rawat inap dapat mempercepat penurunan tersebut. Pemulihan dari periode tidak aktif juga bisa lebih sulit bagi lansia.

Aktivitas fisik yang rendah dan malnutrisi termasuk faktor yang diperhatikan. Para ahli merekomendasikan latihan berbasis resistensi yang dilakukan bertahap sebagai bagian penting penanganan sarkopenia pada lansia. Program dan tingkat kesulitannya perlu disesuaikan dengan kemampuan serta kondisi kesehatan masing-masing.

Kapan kelemahan otot perlu diperiksa?

ilustrasi senam sehat lansia (magnific.com/magnific)

Sarkopenia adalah kondisi yang ditandai oleh menurunnya kekuatan dan massa otot, yang dapat memengaruhi kemampuan seseorang untuk bergerak dan beraktivitas.

Tanda awal yang paling diperhatikan adalah berkurangnya kekuatan otot. Pemeriksaan massa atau kualitas otot digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis, sedangkan kemampuan fisik digunakan untuk menilai tingkat keparahannya.

Dalam skrining sarkopenia, tenaga kesehatan dapat menanyakan hal-hal sederhana, seperti apakah seseorang kesulitan mengangkat beban sekitar 5 kilogram, bangkit dari kursi, berjalan melintasi ruangan, menaiki tangga, atau sering terjatuh. Keluhan tersebut tidak selalu berarti sarkopenia, tetapi jika terus berlanjut atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya diperiksakan ke dokter. Pemeriksaan dapat membantu mencari tahu apakah penyebabnya sarkopenia atau kondisi lain.

Kekuatan otot memang cenderung menurun seiring bertambahnya usia. Namun, jikakemampuan berdiri, berjalan, atau membawa barang mulai berubah, sebaiknya temui dokter. Deteksi dini dapat membantu menemukan penyebabnya dan menentukan langkah terbaik untuk menjaga fungsi tubuh tetap optimal.

Referensi

Pardeep Pabla, Eleanor J. Jones, Mathew Piasecki, dan Bethan E. Phillips, “Skeletal Muscle Dysfunction with Advancing Age,” Clinical Science 138, no. 14 (2024): 863–82, https://doi.org/10.1042/CS20231197.

Xinning Mao, Ke Lv, Weihui Qi, Wenqiang Cheng, Tenghui Li, Yueli Sun, Hongting Jin, Hao Pan, dan Dong Wang, “Research Progress on Sarcopenia in the Musculoskeletal System,” Bone Research 13 (2025): article 78, https://doi.org/10.1038/s41413-025-00455-8.

Evgeniia Motanova et al., “Impact of Ageing and Disuse on Neuromuscular Junction and Mitochondrial Function and Morphology: Current Evidence and Controversies,” Ageing Research Reviews 102 (December 2024): 102586, https://doi.org/10.1016/j.arr.2024.102586.

James McKendry, Giulia Coletta, Everson A. Nunes, Changhyun Lim, dan Stuart M. Phillips, “Mitigating Disuse-Induced Skeletal Muscle Atrophy in Ageing: Resistance Exercise as a Critical Countermeasure,” Experimental Physiology 109, no. 10 (2024): 1650–62, https://doi.org/10.1113/EP091937.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, "Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/2005/2024 tentang Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tata Laksana Sarkopenia," diakses 10 Oktober 2026.

Alfonso J. Cruz-Jentoft et al., “Sarcopenia: Revised European Consensus on Definition and Diagnosis,” Age and Ageing 48, no. 1 (2019): 16–31, https://doi.org/10.1093/ageing/afy169.

Curated For You

Editorial Team

Related Article

Apa Itu Pneumonic Plage?10 Oct 2026, 20:38 WIB