Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Siapa Saja yang Paling Rentan terhadap Abu Vulkanik?
ilustrasi kelompok lansia memakai masker (pexels.com/Kampus Production)
  • Abu vulkanik berupa partikel halus batuan dan mineral dapat terhirup, mengiritasi mata serta saluran pernapasan, dan memperburuk kondisi kesehatan yang sudah ada.
  • Anak-anak dan bayi lebih rentan karena sistem pernapasan masih berkembang serta bernapas lebih cepat; mereka perlu membatasi aktivitas luar ruangan dan diawasi orang dewasa.
  • Lansia serta penderita penyakit pernapasan atau jantung disarankan tetap di dalam ruangan, menutup celah masuk abu, dan menghindari aktivitas fisik saat hujan abu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Saat gunung berapi meletus, abu vulkanik sering kali dianggap hanya sebagai debu biasa yang membubung ke udara. Padahal, abu ini terbentuk dari pecahan batuan, mineral, dan material vulkanik lain berukuran sangat kecil yang dapat terhirup hingga mengganggu saluran pernapasan. Meski paparan abu vulkanik dapat berdampak pada siapa saja, risikonya jauh lebih besar pada kelompok orang tertentu.

Faktor usia, kondisi fisik, hingga riwayat kesehatan membuat sebagian orang memerlukan perhatian ekstra saat hujan abu terjadi. Paparan yang tidak diantisipasi dapat memicu berbagai gangguan kesehatan, mulai dari iritasi mata dan saluran pernapasan hingga memperburuk kondisi medis yang sudah ada. Untuk mengetahui siapa saja yang termasuk kelompok paling rentan, yuk simak penjelasannya berikut ini!

1. Anak-anak dan bayi

ilustrasi anak-anak (unsplash.com/Li Lin)

Anak-anak dan bayi termasuk kelompok yang rentan terhadap abu vulkanik. Kelompok usia ini perlu mendapat perhatian lebih karena tubuh dan sistem pernapasannya masih dalam tahap tumbuh kembang. Partikel abu yang sangat kecil dapat terhirup dan masuk ke saluran pernapasan, sehingga menimbulkan iritasi pada hidung, tenggorokan, hingga paru-paru.

Anak-anak juga cenderung bernapas lebih cepat, terutama saat bermain atau beraktivitas fisik. Menurut USGS, aktivitas seperti berlari ketika abu masih berada di udara dapat membuat napas menjadi lebih berat, sehingga partikel abu lebih mudah terhirup masuk ke paru-paru. Oleh karena itu, anak-anak sebaiknya membatasi aktivitas di luar rumah selama hujan abu.

Selain faktor fisik, anak-anak umumnya belum memahami bahaya abu vulkanik dan cara melindungi diri. Peran orang tua atau orang dewasa sangat penting untuk mengawasi mereka dan memastikan anak tetap berada di dalam ruangan dengan kualitas udara yang lebih bersih.

2. Lansia

ilustrasi lansia (unsplash.com/Sean Mullowney)

Seiring bertambahnya usia, tubuh mengalami berbagai perubahan alami yang dapat memengaruhi fungsi organ. Cadangan kemampuan organ juga perlahan menurun, dengan perubahan yang cukup besar terjadi pada paru-paru dan jantung. Jaringan tubuh, termasuk saluran pernapasan, pun dapat mengalami perubahan seiring bertambahnya usia. Kondisi tersebut membuat kemampuan tubuh dalam menghadapi beban tambahan tidak lagi sama seperti saat usia lebih muda.

Dilansir USGS, lansia termasuk kelompok yang rentan terhadap paparan abu dan dianjurkan untuk mengurangi paparan yang tidak perlu. Sebisa mungkin, mereka perlu berada di dalam ruangan ketika abu masih beterbangan dan menghindari aktivitas fisik berlebihan yang membuat pernapasan lebih berat. Pintu, jendela, dan celah yang memungkinkan abu masuk juga sebaiknya ditutup untuk membantu mengurangi paparan.

3. Orang dengan penyakit pernapasan atau jantung

ilustrasi dada sesak (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)

Orang yang memiliki penyakit pernapasan atau jantung juga perlu lebih waspada saat terjadi hujan abu vulkanik. Partikel abu yang sangat halus dapat masuk jauh ke dalam paru-paru dan mengiritasi saluran pernapasan. Bagi orang yang sudah memiliki gangguan paru-paru, paparan abu dapat membuat batuk, mengi, sesak napas, atau rasa tidak nyaman di dada menjadi lebih parah.

Pada penderita asma, partikel abu dapat mengiritasi saluran napas dan membuatnya menyempit sehingga bernapas menjadi lebih sulit. Keluhan seperti batuk, sesak, dan mengi juga dapat muncul atau memburuk setelah terpapar abu. Risiko tersebut dipengaruhi oleh beberapa hal, seperti banyaknya abu di udara, ukuran partikelnya, serta durasi dan frekuensi paparan.

Dampaknya juga perlu diperhatikan pada orang dengan gangguan jantung yang berat karena kelompok ini termasuk yang lebih berisiko mengalami dampak kesehatan akibat paparan abu. Karena itu, orang dengan penyakit pernapasan atau jantung sebaiknya mengurangi paparan abu sebanyak mungkin, terutama dengan tetap berada di dalam ruangan dan menghindari aktivitas yang tidak diperlukan saat abu masih beterbangan.

Itulah beberapa kelompok yang rentan terhadap abu vulkanik. Meski dapat mengganggu aktivitas, paparan abu juga berpotensi memengaruhi kesehatan, terutama pada kelompok tertentu. Dengan membatasi paparan dan tetap waspada, risiko gangguan kesehatan pun dapat diminimalkan.

Referensi

“Health Effects of Volcanic Air Pollution.” Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses September 2026.

“Respiratory Effects.” U.S. Geological Survey (USGS). Diakses September 2026.

“Aging Changes in Organs, Tissue and Cells.” MedlinePlus. Diakses September 2026.

“Protecting Against Ash.” U.S. Geological Survey (USGS). Diakses September 2026.

“Health Impacts of Volcanic Ash.” International Volcanic Health Hazard Network (IVHHN). Diakses September 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article