ilustrasi dada sesak (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)
Orang yang memiliki penyakit pernapasan atau jantung juga perlu lebih waspada saat terjadi hujan abu vulkanik. Partikel abu yang sangat halus dapat masuk jauh ke dalam paru-paru dan mengiritasi saluran pernapasan. Bagi orang yang sudah memiliki gangguan paru-paru, paparan abu dapat membuat batuk, mengi, sesak napas, atau rasa tidak nyaman di dada menjadi lebih parah.
Pada penderita asma, partikel abu dapat mengiritasi saluran napas dan membuatnya menyempit sehingga bernapas menjadi lebih sulit. Keluhan seperti batuk, sesak, dan mengi juga dapat muncul atau memburuk setelah terpapar abu. Risiko tersebut dipengaruhi oleh beberapa hal, seperti banyaknya abu di udara, ukuran partikelnya, serta durasi dan frekuensi paparan.
Dampaknya juga perlu diperhatikan pada orang dengan gangguan jantung yang berat karena kelompok ini termasuk yang lebih berisiko mengalami dampak kesehatan akibat paparan abu. Karena itu, orang dengan penyakit pernapasan atau jantung sebaiknya mengurangi paparan abu sebanyak mungkin, terutama dengan tetap berada di dalam ruangan dan menghindari aktivitas yang tidak diperlukan saat abu masih beterbangan.
Itulah beberapa kelompok yang rentan terhadap abu vulkanik. Meski dapat mengganggu aktivitas, paparan abu juga berpotensi memengaruhi kesehatan, terutama pada kelompok tertentu. Dengan membatasi paparan dan tetap waspada, risiko gangguan kesehatan pun dapat diminimalkan.
Referensi
“Health Effects of Volcanic Air Pollution.” Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses September 2026.
“Respiratory Effects.” U.S. Geological Survey (USGS). Diakses September 2026.
“Aging Changes in Organs, Tissue and Cells.” MedlinePlus. Diakses September 2026.
“Protecting Against Ash.” U.S. Geological Survey (USGS). Diakses September 2026.
“Health Impacts of Volcanic Ash.” International Volcanic Health Hazard Network (IVHHN). Diakses September 2026.