Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Siklus 28 Hari Perempuan, Alasan Mengapa Suasana Hatimu Berubah-ubah
ilustrasi suasana hati perempuan (pexels.com/RDNE Stock project)
  • Siklus 28 hari perempuan memengaruhi suasana hati, energi, dan kondisi fisik melalui fluktuasi hormon estrogen serta progesteron yang bekerja secara bergantian di setiap fase.
  • Setiap fase memiliki karakteristik berbeda: menstruasi menurunkan energi, folikular meningkatkan semangat dan fokus, ovulasi membawa ketenangan, sedangkan luteal akhir sering memicu gejala PMS.
  • Memahami ritme hormonal membantu perempuan menyesuaikan aktivitas dengan kondisi tubuh, mengurangi rasa bersalah saat emosi berubah, dan menjaga keseimbangan produktivitas serta kesehatan mental.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Pernahkah kamu merasa sangat bersemangat dan percaya diri di satu minggu, tapi tiba-tiba merasa sangat sedih dan ingin menarik diri dari dunia di minggu berikutnya? Fenomena perubahan suasana hati yang drastis ini bukanlah tanda bahwa Kamu sedang kehilangan kendali, melainkan hasil dari orkestra hormon yang bekerja di dalam tubuh.

Setiap bulannya, tubuh perempuan melewati siklus kompleks yang memengaruhi kondisi fisik, energi, hingga cara kerja otak dalam memproses emosi. Estrogen dan progesteron bertindak sebagai aktor utama yang fluktuasinya dapat mengubah perspektifmu terhadap keseharian secara signifikan. Memahami siklus ini sangat penting agar kita tidak lagi merasa bersalah saat emosi sedang tidak stabil. Alih-alih melawannya, mengenal ritme internal ini justru bisa menjadi kekuatan untuk mengatur produktivitas dan menjaga kesehatan mental. Yuk, kita bedah bagaimana perubahan hormon di setiap minggunya memengaruhi perasaan dan energi bagi perempuan!

1. Fase menstruasi dimana hormon estrogren dan progesteron mengalami penurunan secara drastis

ilustrasi suasana hati melankolis (pexels.com/Liza Summer)

Dilansir laman UCSF Health, pada minggu pertama atau fase menstruasi, kondisi hormon estrogen dan progesteron berada pada titik terendahnya di dalam tubuh. Penurunan drastis ini sering kali membuat perempuan merasa lemas, gampang lelah, dan secara emosional ingin menyendiri atau melankolis.

Secara biologis, tubuhmu sebenarnya sedang melakukan "pembersihan besar-besaran" pada lapisan rahim, yang tentu saja membutuhkan energi fisik yang cukup besar. Itulah sebabnya mengapa keinginan untuk sekadar berbaring di bawah selimut terasa sangat kuat dibandingkan biasanya. Fokus energi tubuh yang berpindah ke area reproduksi membuatmu kurang berminat pada aktivitas sosial yang melelahkan.

Mengonsumsi makanan kaya zat besi seperti sayuran hijau sangat disarankan untuk membantu mengganti energi yang hilang selama proses ini berlangsung. Berikanlah waktu bagi diri sendiri untuk beristirahat tanpa harus merasa terbebani oleh target produktivitas yang tinggi.

2. Energi berada pada puncak tertinggi pada fase folikular

ilustrasi perasaan bahagia (pexels.com/Pixabay)

Dilansir laman Brain Effect, memasuki minggu kedua, kadar hormon estrogen mulai melonjak naik kembali untuk mempersiapkan sel telur yang baru. Inilah yang sering disebut sebagai fase "musim semi" karena energimu biasanya sedang berada di puncak tertinggi sepanjang bulan.

Secara fisik, kulit cenderung terlihat lebih bercahaya (glowing), metabolisme bekerja lebih baik, dan kemampuan kognitif otak terasa lebih encer dari biasanya. Kamu mungkin merasa lebih ambisius dalam mengerjakan tugas-tugas sulit, lebih percaya diri saat berbicara di depan umum, bahkan merasa sangat cantik.

Kondisi hormon yang stabil membuat suasana hati terasa jauh lebih ceria dan kamu lebih terbuka untuk bersosialisasi dengan lingkungan luar. Fase ini adalah waktu yang paling tepat untuk mengejar target karier, pendidikan, atau memulai proyek baru yang membutuhkan konsentrasi tinggi.

3. Memasuki fase ovulasi dimana tubuh dikendalikan oleh hormon progesteron

ilustrasi suasana hati yang stabil (pexels.com/Angel Ferrer)

Dilansir laman Healthily, setelah melewati puncak energi, tubuh memasuki fase ovulasi di mana estrogen sedikit menurun dan hormon progesteron mulai mengambil kendali. Kehadiran progesteron membawa efek yang menenangkan, sehingga perasaanmu cenderung lebih santai dan stabil dibandingkan minggu sebelumnya.

Namun, secara biologis tubuh mulai mempersiapkan diri untuk kemungkinan kehamilan dengan cara meningkatkan nafsu makan untuk menumpuk cadangan nutrisi. Kamu mungkin menyadari bahwa porsi makan mulai meningkat atau kamu lebih mudah merasa lapar di jam-jam yang tidak biasa. Secara mental, kamu mulai lebih fokus pada kenyamanan rumah dan interaksi yang lebih intim dibandingkan keramaian publik.

Efek samping dari progesteron ini juga terkadang membuat suhu tubuh sedikit naik dan kamu mungkin merasa lebih cepat mengantuk. Meskipun energi tidak meledak-ledak seperti minggu kedua, kamu masih memiliki daya tahan fisik yang cukup baik untuk menjalankan rutinitas.

4. Penurunan horman yang drastis pada fase luteal akhir

ilustrasi perasaan sedih (pexels.com/Liza Summer)

Melansir National Institute of Health, minggu keempat adalah fase yang paling menantang bagi banyak perempuan karena kadar estrogen dan progesteron terjun bebas secara bersamaan. Penurunan hormon yang drastis ini memengaruhi produksi serotonin di otak, yaitu zat kimia yang bertanggung jawab atas perasaan bahagia dan tenang. Akibatnya, muncul gejala Pre-Menstrual Syndrome (PMS) seperti rasa cemas, gampang marah, hingga keinginan untuk menangis tanpa alasan yang jelas.

Tubuh juga cenderung mengalami water retention atau penahanan air, yang menyebabkan pipi terlihat lebih tembem atau perut terasa begah (bloating). Pada fase ini, nafsu makan bisa menjadi sangat liar atau "gragas" di mana kamu sangat menginginkan makanan manis, cokelat, atau karbohidrat tinggi. Hal ini sebenarnya adalah cara alami tubuh untuk mencoba meningkatkan kembali kadar serotonin yang sedang jatuh di titik terendah.

5. Saatnya untuk menyadari bahwa perubahaan suasana hatimu dipengaruhi oleh hormon

ilustrasi suasana hati yang bahagia (pexels.com/Elina Fairytale)

Meskipun siklus biologis biasanya berakhir di minggu keempat, langkah kelima yang tidak kalah penting adalah memiliki strategi untuk menavigasi siklus ini secara berkelanjutan. Strategi terbaik adalah dengan melakukan "sinkronisasi hidup" di mana kamu merencanakan aktivitas berdasarkan ritme hormon yang sedang terjadi. Misalnya, jadwalkan tugas-tugas berat di minggu kedua saat otak sedang encer, dan berikan dirimu kelonggaran ekstra di minggu pertama atau keempat.

Melansir National Institute of Health, kesadaran penuh bahwa perasaanmu dipengaruhi oleh hormon akan membantu mengurangi rasa bersalah dan tekanan mental yang tidak perlu. Belajarlah untuk mempraktikkan self-compassion atau kasih sayang pada diri sendiri ketika tubuh meminta istirahat lebih banyak saat fase menstruasi. Jika bisa bekerja sama dengan sistem internal tubuh, kamu tidak akan lagi merasa menjadi korban dari perubahan suasana hatimu sendiri.

Kita perlu menyadari bahwa perubahan perasaan dan energi sepanjang bulan adalah proses alami yang menunjukkan betapa hebatnya mekanisme tubuh perempuan bekerja. Tidak ada alasan untuk merasa "aneh" atau "lemah" ketika suasana hati sedang naik-turun, karena setiap fase memiliki peran dan manfaatnya masing-masing. Dengan mengenali ritme ini, diharapkan kamu bisa lebih bijak dalam mengatur ekspektasi terhadap diri sendiri baik di lingkungan kerja maupun dalam hubungan pribadi.

Referensi:

  • Brain Effect. Diakses Pada 13 Februari 2026. 4 cycle phases = 4 seasons: What they have in common.

  • Healthily. Diakses Pada 13 Februari 2026. The menstrual cycle and mood.

  • UCSF Health. Diakses Pada 13 Februari 2026. The menstrual cycle.

  • Vannorsdall, T. D., & Schuler, M. S. (2022). Associations between menstrual cycle characteristics and mood disorder onset in adolescence. Journal of Affective Disorders, 300, 249–256.

  • Yen, S. S., Jaffe, R. B., Barbieri, R. L., & Yen and Jaffe's reproductive endocrinology: Physiology, pathophysiology, and clinical management* (8th ed.). Elsevier. (2023). Hormonal dynamics across the menstrual cycle: Implications for mental health. In G. A. J. Goodarzi (Ed.), PMC.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team