5 Strength Training untuk Pemula yang Ingin Lari Maraton

- Squat untuk kekuatan kaki dan pinggul, meningkatkan stabilitas gerakan lari
- Lunges untuk keseimbangan dan stabilitas, melatih otot kaki seperti saat berlari
- Plank untuk kekuatan core, menjaga postur tubuh saat berlari jarak jauh
Banyak orang memulai persiapan lari maraton hanya fokus pada daya tahan berlari dan menambah jarak. Namun, berlari puluhan kilometer bukan hanya soal kaki yang kuat, tetapi juga tentang bagaimana tubuh menopang gerakan secara berulang dalam waktu lama. Tanpa dukungan otot dan sendi yang siap, kita akan lebih mudah mengalami cedera saat berlari jarak jauh.
Strength training adalah latihan yang bertujuan memperkuat otot, menjaga stabilitas sendi, dan meningkatkan efisiensi gerakan. Bagi pemula yang ingin ikut lari maraton, latihan ini sangat penting untuk membantu tubuh bekerja lebih seimbang dan terkontrol. Berikut lima strength training untuk pemula yang ingin lari maraton. Tujunnya untuk membangun kekuatan sekaligus mendukung performa lari jarak jauh.
1. Squat untuk kekuatan kaki dan pinggul

Squat merupakan latihan dasar yang melibatkan otot paha, glutes, dan pinggul. Otot-otot ini menjadi penopang utama saat berlari, terutama ketika menahan beban tubuh di setiap langkah. Squat juga membantu kita membangun kekuatan sekaligus daya tahan otot bagian bawah.
Selain kekuatan, squat juga meningkatkan stabilitas gerakan. Saat kaki mendarat, tubuh membutuhkan kontrol yang baik agar tidak terjadi tekanan berlebih pada lutut. Dengan rutin melakukan squat, pola gerak lari menjadi lebih efisien dan konsisten dalam jarak jauh.
2. Lunges untuk keseimbangan dan stabilitas

Lunges melatih kaki secara bergantian sehingga cocok untuk melatih otot kaki seperti saat berlari. Latihan ini menargetkan paha depan, paha belakang, serta otot penstabil di sekitar pinggul. Bagi pelari, kemampuan menjaga keseimbangan sangat penting untuk mempertahankan ritme langkah.
Gerakan lunges membantu tubuh terbiasa menopang beban pada satu kaki dalam durasi singkat dan berulang. Hal ini berguna saat fase langkah lari berlangsung cepat dan terus menerus. Dengan stabilitas yang lebih baik, kita dapat mengontrol gerakan kaki dengan lebih seimbang, terutama saat tubuh mulai lelah di saat berlari jarak jauh.
3. Plank untuk kekuatan core

Otot core berperan besar dalam menjaga postur tubuh saat berlari, terutama dalam jarak jauh. Plank melatih otot perut, punggung bawah, dan bahu secara bersamaan. Latihan ini membantu menjaga posisi tubuh tetap tegak dan stabil saat kelelahan mulai muncul disaat sedang berlari.
Ketika core lemah, langkah lari cenderung memburuk dan energi terbuang percuma. Plank membantu meningkatkan daya tahan otot penopang tubuh dalam durasi panjang. Hasilnya, pernapasan lebih stabil, ayunan tangan lebih terkontrol, dan gerakan lari terasa lebih efisien hingga sampai ke garis finish.
4. Calf raise untuk daya dorong dan ketahanan

Otot betis sering bekerja keras selama lari jarak jauh. Calf raise membantu memperkuat area ini agar mampu menahan beban berulang tanpa cepat lelah. Latihan ini juga berperan dalam meningkatkan daya dorong saat kaki meninggalkan tanah.
Betis yang kuat membantu mengurangi tekanan pada tendon dan pergelangan kaki. Hal ini penting untuk menjaga konsistensi langkah di kilometer kilometer akhir. Calf raise yang dilakukan rutin mendukung performa lari yang lebih stabil.
5. Glute bridge untuk dukungan gerak lari

Glute bridge menargetkan otot bokong yang sering kurang aktif pada pemula. Padahal, otot ini berperan besar dalam mendorong tubuh ke depan saat berlari. Latihan ini membantu mengaktifkan otot yang mendukung langkah panjang dan kuat.
Selain itu, glute bridge membantu menjaga keseimbangan antara otot depan dan belakang tubuh. Ketidakseimbangan sering menjadi penyebab nyeri punggung bawah atau lutut. Dengan glute yang lebih kuat, risiko masalah tersebut dapat dikurangi.
Strength training untuk pemula yang ingin lari maraton amatlah penting. Tujuannya untuk membangun fondasi tubuh sebelum lari maraton. Dengan strength training, tubuh menjadi lebih siap menghadapi jarak panjang dan beban latihan. Oleh karena itu, jangan lupa untuk melakukan stregth training selama persiapan menuju lari maraton.


















