ilustrasi minum air (pexels.com/Andrea Piacquadio)
Sebagian orang merasa cukup minum hanya saat berbuka, lalu tidak memperhatikan asupan cairan hingga sahur. Padahal, tubuh tetap kehilangan cairan melalui keringat, pernapasan, dan urine sepanjang malam. Jika tidak ada tambahan cairan secara bertahap, defisit cairan dapat kembali terjadi sebelum waktu tidur. Kondisi ini sering tidak disadari karena tidak selalu menimbulkan rasa haus yang jelas.
Kekurangan cairan terselubung dapat memicu sakit kepala ringan, mudah lelah, dan penurunan konsentrasi keesokan harinya. Minum secara berkala hingga menjelang tidur membantu menjaga keseimbangan cairan lebih stabil. Cara ini juga mendukung fungsi ginjal tetap optimal selama puasa berlangsung. Rehidrasi yang berkelanjutan lebih efektif dibandingkan minum dalam jumlah besar sekaligus.
Urutan minum saat buka puasa menentukan seberapa baik tubuh dapat menggantikan cairan yang hilang sepanjang hari. Minum secara bertahap sejak awal berbuka hingga malam membantu menjaga keseimbangan cairan lebih efektif. Setelah memahami dampaknya, apakah urutan minum saat buka puasa masih dianggap hal sepele?
Referensi
"Are you drinking water the wrong way during Ramadan? Expert reveals the truth". Hindustan Times. Diakses Februari 2026.
"Assessment of water consumption during Ramadan intermittent fasting: Result from Indonesian cross-sectional study". Frontier in Nutrition. Diakses Februari 2026.
"Ramadan Fasting and Dehydration". Government of the Kingdom of Saudi Arabia. Diakses Februari 2026.