Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
11 Waktu Terburuk untuk Olahraga yang Sering Diabaikan
ilustrasi seorang perempuan kelelahan, berbaring di lantai gym (freepik.com/wirestock)
  • Tidak semua kondisi tubuh aman untuk olahraga, bahkan bisa meningkatkan risiko cedera dan gangguan serius.

  • Kurang tidur, sakit, dan dehidrasi adalah faktor utama yang menurunkan performa dan keselamatan.

  • Mendengarkan sinyal tubuh sama pentingnya dengan konsistensi latihan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Artikel ini menyoroti pentingnya memahami sinyal tubuh sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan. Dengan menjelaskan berbagai kondisi ketika olahraga sebaiknya dihindari, pembaca diajak untuk lebih peka terhadap kebutuhan tubuh dan proses pemulihan alami. Pendekatan ini menegaskan bahwa keseimbangan antara aktivitas dan istirahat merupakan bagian integral dari gaya hidup sehat yang berkelanjutan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Rutinitas olahraga sering dianggap sebagai simbol disiplin dan komitmen terhadap kesehatan. Namun, ada sisi lain yang jarang dibahas, yaitu mengenai kapan waktu yang tidak disarankan untuk berolahraga. Dalam kondisi tertentu, memaksakan tubuh untuk tetap aktif justru bisa membawa dampak yang berlawanan.

Tubuh memiliki mekanisme perlindungan yang halus. Lelah, nyeri, atau pusing bukan sekadar gangguan kecil, melainkan sinyal. Mengabaikannya dan tetap berolahraga bisa berujung pada cedera, gangguan sistem imun, hingga komplikasi yang lebih serius.

1. Saat kamu kurang tidur atau tidak tidur sama sekali

Kurang tidur secara signifikan memengaruhi koordinasi, waktu reaksi, dan fungsi kognitif. Kurang tidur diketahui meningkatkan risiko cedera pada atlet karena penurunan kontrol motorik.

Selain itu, hormon seperti kortisol meningkat, sementara testosteron menurun. Kombinasi ini membuat tubuh lebih sulit pulih dan lebih rentan terhadap overtraining (tubuh dilatih terlalu berlebihan tanpa cukup waktu untuk istirahat dan pemulihan).

Jika tetap berolahraga, performa juga akan menurun. Tubuh bekerja lebih keras untuk hasil yang lebih sedikit.

2. Saat pengar (hangover)

ilustrasi seorang pria mengalami hangover (unsplash.com/Adrian Swancar)

Alkohol menyebabkan dehidrasi, gangguan keseimbangan elektrolit, dan penurunan koordinasi.

Kondisi dehidrasi dapat memperburuk performa fisik dan meningkatkan risiko heat illness (penyakit/masalah akibat panas berlebih saat olahraga) saat olahraga.

Selain itu, alkohol juga mengganggu pemulihan otot. Berolahraga dalam kondisi ini dapat memperparah stres pada tubuh.

3. Saat demam

Demam adalah tanda tubuh sedang melawan infeksi. Dalam kondisi ini, suhu tubuh sudah meningkat, dan memaksakan diri berolahraga bisa memperburuknya.

Berolahraga saat demam meningkatkan risiko dehidrasi dan memperberat kerja jantung. Dalam kasus tertentu, ini juga dapat meningkatkan risiko komplikasi serius seperti miokarditis (peradangan otot jantung).

4. Setelah mendapatkan tato

ilustrasi membuat tato (unsplash.com/Lesia)

Tato pada dasarnya adalah luka terbuka. Jarum menembus lapisan kulit berulang kali untuk memasukkan pigmen, sehingga tubuh langsung mengaktifkan respons penyembuhan. Saat kamu berolahraga:

  • Keringat bisa masuk ke area luka sehingga meningkatkan risiko infeksi.

  • Gesekan (baju, alat gym) bisa mengiritasi kulit.

  • Peningkatan aliran darah bisa menyebabkan pembengkakan dan memperlambat penyembuhan.

Perawatan luka yang baik penting untuk mencegah infeksi dan menjaga hasil tato tetap optimal.

Waktu tunggu sebelum berolahraga:

  • Pada 24–48 jam pertama, hindari olahraga sepenuhnya. Ini fase paling sensitif. Kulit masih sangat terbuka dan rentan.

  • Pada 3–7 hari, boleh beraktivitas ringan (jalan santai). Namun, hindari keringat berlebihan dan gesekan langsung di area tato.

  • Pada 7–14 hari, mulailah kembali olahraga ringan–sedang, jika tato sudah mulai kering dan tidak nyeri. Tetap hindari latihan yang melibatkan area tato langsung dan berenang.

  • Pada 2–4 minggu, biasa sudah aman kembali ke olahraga normal, dengan catatan tidak ada tanda infeksi atau iritasi.

5. Saat flu berat atau mengalami infeksi sistemik

Ada aturan sederhana dalam olahraga, yaitu “above the neck rule”. Artinya, jika gejala hanya di atas leher (pilek ringan), olahraga ringan masih mungkin dilakukan. Namun, jika gejala melibatkan seluruh tubuh, seperti demam, nyeri otot, lemas, sebaiknya istirahat di rumah.

Penelitian menunjukkan bahwa olahraga saat mengalami infeksi sistemik dapat memperpanjang durasi sakit dan meningkatkan risiko komplikasi.

6. Saat belum pulih dari cedera

ilustrasi cedera olahraga (pexels.com/Annushka Ahuja)

Memaksakan olahraga saat cedera adalah salah satu penyebab utama cedera kronis.

Jaringan tubuh membutuhkan waktu untuk pulih. Jika dipaksa sebelum sembuh, risiko kerusakan jaringan lebih lanjut meningkat.

Selain itu, tubuh cenderung mengompensasi dengan gerakan lain, yang bisa menyebabkan cedera di area berbeda.

7. Saat mengalami dehidrasi

Dehidrasi memengaruhi hampir semua sistem tubuh, termasuk fungsi jantung dan kemampuan termoregulasi.

Menurut penelitian, dehidrasi ringan saja sudah dapat menurunkan performa dan meningkatkan risiko kelelahan akibat panas (heat exhaustion).

Tanda dehidrasi seperti mulut kering, pusing, dan urine gelap tidak boleh diabaikan sebelum berolahraga.

8. Saat perut sangat kosong (energi sangat rendah)

ilustrasi sangat lapar (freepik.com/lapar)

Olahraga dalam kondisi energi sangat rendah dapat menyebabkan hipoglikemia, terutama pada latihan intensitas tinggi.

Gejalanya meliputi pusing, gemetar, dan lemas.

Berdasarkan penelitian, ketersediaan energi yang cukup sangat penting untuk performa dan keselamatan.

9. Saat baru selesai makan besar

Setelah makan besar, aliran darah difokuskan ke sistem pencernaan. Jika langsung olahraga, tubuh akan “berebut prioritas”.

Akibatnya, kamu dapat mengalami mual, kram perut, dan refluks.

Studi menunjukkan bahwa peningkatan gangguan gastrointestinal saat olahraga dilakukan terlalu cepat setelah makan.

10. Saat mengalami nyeri dada atau pusing

Ini adalah tanda bahaya yang tidak boleh diabaikan.

Nyeri dada atau pusing saat aktivitas fisik bisa menjadi indikasi masalah jantung.

Memaksakan olahraga dalam kondisi ini dapat meningkatkan risiko kejadian serius seperti serangan jantung.

11. Saat overtraining atau mengalami kelelahan kronis

ilustrasi overtraining (pexels.com/Andres Ayrton)

Overtraining terjadi ketika tubuh tidak memiliki cukup waktu untuk pulih.

Gejalanya antara lain:

  • Kelelahan berkepanjangan.

  • Penurunan performa.

  • Gangguan tidur.

Penelitian menunjukkan bahwa overtraining dapat menekan sistem imun dan meningkatkan risiko cedera.

Itulah waktu-waktu yang tidak disarankan untuk berolahraga. Olahraga memang penting, tetapi timing dan kondisi tubuh tidak kalah penting. Memaksakan diri berolahraga saat tubuh tidak fit bukan tanda disiplin, malah berisiko. Tubuh selalu memberi sinyal. Mendengarkan dan merespons dengan bijak justru menjadi bagian dari gaya hidup sehat yang berkelanjutan.

Referensi

American College of Sports Medicine. "ACSM’s Guidelines for Exercise Testing and Prescription, 11th ed. (2021)." Diakses April 2026.

Andrew M. Watson, “Sleep and Athletic Performance,” Current Sports Medicine Reports 16, no. 6 (November 1, 2017): 413–18, https://doi.org/10.1249/jsr.0000000000000418.

Michael N Sawka et al., “Exercise and Fluid Replacement,” Medicine & Science in Sports & Exercise 39, no. 2 (February 1, 2007): 377–90, https://doi.org/10.1249/mss.0b013e31802ca597.

“Checking Your Browser - reCAPTCHA,” n.d., https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/21446352/.

N Bishop, “Exercise and Infection Risk,” in Elsevier eBooks, 2006, 1–14, https://doi.org/10.1016/b978-0-443-10118-2.50005-3.

David C. Nieman and Laurel M. Wentz, “The Compelling Link Between Physical Activity and the Body’s Defense System,” Journal of Sport and Health Science/Journal of Sport and Health Science 8, no. 3 (November 16, 2018): 201–17, https://doi.org/10.1016/j.jshs.2018.09.009.

American Heart Association. “Warning Signs of Heart Attack.” Diakses April 2026.

Editorial Team