Behnam Sadeghirad et al., “Islamic Fasting and Weight Loss: A Systematic Review and Meta-analysis,” Public Health Nutrition 17, no. 2 (November 27, 2012): 396–406, https://doi.org/10.1017/s1368980012005046.
Elizabeth F. Sutton et al., “Early Time-Restricted Feeding Improves Insulin Sensitivity, Blood Pressure, and Oxidative Stress Even Without Weight Loss in Men With Prediabetes,” Cell Metabolism 27, no. 6 (May 10, 2018): 1212-1221.e3, https://doi.org/10.1016/j.cmet.2018.04.010.
"Diabetes and Ramadan Guidelines." International Diabetes Federation & Diabetes and Ramadan Alliance. Diakses Maret 2026.
Kul, Seval, Esen Savaş, Zeynel Abidin Öztürk, and Gülendam Karadağ. “Does Ramadan Fasting Alter Body Weight and Blood Lipids and Fasting Blood Glucose in a Healthy Population? A Meta-analysis.” Journal of Religion and Health 53, no. 3 (February 19, 2013): 929–42. https://doi.org/10.1007/s10943-013-9687-0.
Mohammad Hossein Rouhani and Leila Azadbakht, “Is Ramadan Fasting Related to Health Outcomes? A Review on the Related Evidence,” October 1, 2014, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4274578/.
Parvin Mirmiran et al., “Effects of Ramadan Intermittent Fasting on Lipid and Lipoprotein Parameters: An Updated Meta-analysis,” Nutrition Metabolism and Cardiovascular Diseases 29, no. 9 (May 14, 2019): 906–15, https://doi.org/10.1016/j.numecd.2019.05.056.
Rami Al‐Jafar et al., “Effect of Religious Fasting in Ramadan on Blood Pressure: Results From LORANS (London Ramadan Study) and a Meta‐Analysis,” Journal of the American Heart Association 10, no. 20 (October 8, 2021): e021560, https://doi.org/10.1161/jaha.120.021560.
Sara Ebrahimi et al., “Ramadan Fasting Improves Liver Function and Total Cholesterol in Patients With Nonalcoholic Fatty Liver Disease,” International Journal for Vitamin and Nutrition Research 90, no. 1–2 (April 1, 2019): 95–102, https://doi.org/10.1024/0300-9831/a000442.
Faris, Mo’ez Al-Islam” E., Safia Kacimi, Ref’at A. Al-Kurd, Mohammad A. Fararjeh, Yasser K. Bustanji, Mohammad K. Mohammad, and Mohammad L. Salem. “Intermittent Fasting During Ramadan Attenuates Proinflammatory Cytokines and Immune Cells in Healthy Subjects.” Nutrition Research 32, no. 12 (October 5, 2012): 947–55. https://doi.org/10.1016/j.nutres.2012.06.021.
7 Penyakit yang Bisa Membaik dengan Puasa Ramadan

Puasa Ramadan dapat membantu memperbaiki metabolisme, sensitivitas insulin, dan kesehatan jantung bila dilakukan dengan pola makan yang tepat.
Sejumlah penelitian menunjukkan puasa dapat membantu mengelola kondisi seperti obesitas, diabetes tipe 2 terkontrol, hingga sindrom metabolik.
Namun, puasa tidak selalu cocok untuk semua orang; konsultasi dokter tetap penting bagi penderita penyakit kronis.
Puasa Ramadan identik dengan ibadah spiritual. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, para peneliti juga menelusuri bagaimana pola makan khas Ramadan, yakni periode tidak makan dan minum dari fajar hingga matahari terbenam, memengaruhi kesehatan tubuh.
Puasa Ramadan mirip dengan konsep intermittent fasting. Menurut berbagai penelitian, pola makan seperti ini diketahui dapat memengaruhi metabolisme energi, sensitivitas insulin, hingga sistem inflamasi/peradangan tubuh. Tidak heran jika sejumlah studi menemukan bahwa puasa dapat memberikan manfaat bagi beberapa kondisi kesehatan tertentu.
Meski begitu, penting dipahami bahwa puasa bukanlah terapi medis tunggal, lebih tepat dipandang sebagai bagian dari gaya hidup yang dapat membantu mencegah atau mengelola penyakit tertentu ketika dilakukan dengan pola makan seimbang dan penyesuaian sesuai kondisi.
Berikut ini beberapa penyakit yang bisa dicegah, diatasi, atau dikelola dengan puasa Ramadan.
Table of Content
1. Obesitas
Obesitas merupakan salah satu masalah kesehatan global yang terus meningkat. Pola makan berlebih dan kurangnya aktivitas fisik menjadi penyebab utama penumpukan lemak tubuh.
Puasa Ramadan secara alami membatasi waktu makan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pembatasan waktu makan dapat membantu mengurangi asupan kalori harian dan memperbaiki metabolisme lemak.
Studi menemukan bahwa puasa Ramadan dapat menurunkan berat badan dan lingkar pinggang secara moderat pada sebagian orang.
Selain itu, puasa juga dapat meningkatkan mobilisasi lemak sebagai sumber energi. Ketika tubuh tidak mendapatkan asupan makanan selama beberapa jam, cadangan glikogen akan digunakan terlebih dahulu, kemudian tubuh mulai memanfaatkan lemak sebagai sumber energi.
Namun, manfaat-manfaat di atas sangat bergantung pada pola makan saat sahur dan berbuka. Jika konsumsi makanan tinggi gula dan lemak berlebihan, efek penurunan berat badan bisa hilang.
2. Diabetes tipe 2 (yang terkontrol)

Puasa dapat membantu meningkatkan sensitivitas insulin, yaitu kemampuan sel tubuh untuk merespons insulin secara efektif.
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa pola puasa tertentu dapat memperbaiki regulasi gula darah dan metabolisme energi. Pada beberapa pasien diabetes tipe 2 yang terkontrol, puasa Ramadan bahkan dapat membantu menstabilkan kadar glukosa.
Akan tetapi, penting dicatat bahwa tidak semua pasien diabetes aman untuk berpuasa. Penting untuk berkonsultasi dengan dokter untuk evaluasi kondisi sebelum memulai puasa.
Pasien yang menggunakan insulin atau memiliki riwayat hipoglikemia harus mendapatkan penyesuaian obat dan pengawasan dokter.
3. Sindrom metabolik
Sindrom metabolik adalah kumpulan kondisi yang meningkatkan risiko penyakit jantung, termasuk tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, lemak perut berlebih, dan kolesterol abnormal.
Puasa Ramadan dapat memengaruhi beberapa komponen sindrom metabolik secara bersamaan. Sebuah studi menemukan bahwa puasa Ramadan dapat menurunkan tekanan darah, trigliserida, dan kadar gula darah pada sebagian partisipan.
Efek ini diduga berkaitan dengan perubahan pola makan dan metabolisme selama puasa. Tubuh mengalami fase penggunaan energi yang berbeda, termasuk peningkatan oksidasi lemak.
Meski demikian, manfaat tersebut tetap bergantung pada kualitas makanan saat sahur dan berbuka. Diet tinggi gula sederhana dapat mengurangi efek positif tersebut.
4. Dislipidemia (kolesterol tinggi)

Kadar kolesterol yang tidak sehat merupakan faktor risiko utama penyakit jantung.
Sejumlah penelitian menemukan bahwa puasa Ramadan dapat memperbaiki profil lipid darah, termasuk menurunkan kolesterol LDL dan trigliserida, serta meningkatkan HDL pada beberapa individu.
Perubahan ini kemungkinan terjadi karena pergeseran metabolisme selama puasa dan berkurangnya frekuensi makan. Ketika tubuh menggunakan cadangan energi, metabolisme lemak menjadi lebih aktif.
Namun, jika menu berbuka dipenuhi makanan gorengan dan tinggi lemak jenuh, manfaat tersebut bisa berkurang.
5. Hipertensi ringan
Tekanan darah tinggi merupakan faktor risiko utama penyakit jantung dan stroke.
Beberapa penelitian puasa Ramadan dapat membantu menurunkan tekanan darah secara ringan hingga moderat. Sebuah studi observasional menemukan bahwa tekanan darah sistolik dan diastolik cenderung menurun selama periode puasa pada sebagian peserta.
Penurunan ini mungkin terkait dengan perubahan berat badan, penurunan asupan kalori, serta perbaikan metabolisme insulin.
Meski demikian, penderita hipertensi yang menggunakan obat tetap perlu berkonsultasi dengan dokter untuk menyesuaikan waktu konsumsi obat selama puasa.
6. Penyakit hati berlemak non-alkoholik (NAFLD)

NAFLD merupakan kondisi penumpukan lemak di hati yang tidak disebabkan oleh alkohol. Penyakit ini sering berkaitan dengan obesitas dan resistensi insulin.
Penelitian menunjukkan bahwa puasa Ramadan dapat membantu menurunkan kadar enzim hati dan memperbaiki profil metabolik pada pasien NAFLD ringan. Ini kemungkinan berkaitan dengan penurunan berat badan dan perbaikan sensitivitas insulin selama periode puasa.
Namun, manfaat ini biasanya terlihat jika puasa disertai pola makan sehat dan aktivitas fisik yang cukup.
7. Peradangan kronis tingkat rendah
Peradangan kronis tingkat rendah berperan dalam banyak penyakit, termasuk diabetes, penyakit jantung, dan obesitas.
Beberapa penelitian menunjukkan puasa Ramadan dapat menurunkan penanda inflamasi seperti C-reactive protein (CRP). Sebuah studi melaporkan penurunan biomarker inflamasi setelah periode puasa Ramadan.
Penurunan inflamasi ini dapat memberikan efek protektif terhadap berbagai penyakit kronis.
Namun, efek ini tetap sangat dipengaruhi oleh kualitas nutrisi dan gaya hidup selama Ramadan.
Puasa Ramadan dapat membawa dampak fisiologis pada tubuh, dapat membantu mencegah atau mengelola beberapa kondisi kesehatan seperti obesitas, diabetes tipe 2, sindrom metabolik, hingga kolesterol tinggi.
Meski begitu, puasa bukanlah pengganti terapi medis. Manfaatnya sangat bergantung pada pola makan yang seimbang, gaya hidup sehat, serta kondisi kesehatan masing-masing individu. Jika kamu memiliki penyakit kronis, konsultasi dengan dokter sebelum dan selama menjalankan puasa tetap menjadi langkah penting untuk memastikan puasa tetap aman bagi kesehatan.
Referensi
![[QUIZ] Cek Sejago Apa Kamu Mendeteksi Perilaku Toksik](https://image.idntimes.com/post/20250807/2140_7c827be3-dd3a-4163-ac65-7266114075a1.jpg)
![[QUIZ] Kami Bisa Tebak Gaya Main Partner Padel Kamu Berdasarkan Zodiak](https://image.idntimes.com/post/20251031/upload_b042ee2cc937d4e0a40ff0426b5b810a_300e7cc9-fbf3-4990-9a14-88e39f9bd940.jpg)









![[QUIZ] Warna Outfit Favoritmu Bisa Ungkap Cara Kamu Menghadapi Stres](https://image.idntimes.com/post/20250507/1000344956-3159a2704e4b6062c72c7e3be406df32-fff34f8ff180b130eb70c4bcc95165ea.jpg)



![[QUIZ] Pilih Warna Kamar Tidurmu, Ini Dampaknya ke Psikologis](https://image.idntimes.com/post/20260128/pexels-fotoaibe-1743231_224fdbce-fe8a-48dd-b379-811844e8a63c.jpg)
![[QUIZ] Pilih Menu Ayam Favoritmu, Kami Tebak Kepribadianmu](https://image.idntimes.com/post/20260107/1000018277_1d2d966e-cff4-4b91-a355-ee3394d3e0c0.jpg)
![[QUIZ] Pilih Otot yang Ingin Dibentuk, Kami Rekomendasikan Latihannya](https://image.idntimes.com/post/20240705/anastase-maragos-fp7cfyppukm-unsplash-77608e651ffd65a27bc7ca3ab51d5a4c-9ee8fcedf24c176618a81cd66dfe2478.jpg)

