Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

7 Perubahan Tubuh yang Bisa Menetap setelah Kehamilan

7 Perubahan Tubuh yang Bisa Menetap setelah Kehamilan
ilustrasi hamil (pexels.com/Denys Mikhalevych)
  • Kehamilan dapat meninggalkan perubahan jangka panjang pada kulit dan struktur tubuh, termasuk stretch mark sebagai jaringan parut, kaki yang memanjang atau lengkungnya menurun, serta perubahan bentuk payudara.

  • Diastasis rekti dan gangguan dasar panggul dapat bertahan berbulan-bulan hingga bertahun-tahun, dengan gejala seperti tonjolan perut, urine bocor, atau prolaps; latihan, fisioterapi, dan perawatan medis tersedia.

  • Studi juga menemukan perubahan otak yang masih terlihat hingga enam tahun serta sel janin yang dapat tersisa puluhan tahun, tetapi bukti belum memastikan keduanya terjadi pada semua ibu atau seumur hidup.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Beberapa bulan setelah persalinan, bengkak mulai berkurang dan berat badan perlahan berubah. Namun, sandal lama mungkin terasa sempit, guratan pada perut belum menghilang, atau bentuk tubuh tidak kembali persis seperti sebelum hamil.

Hal tersebut dapat terjadi karena kehamilan bukan cuma pertambahan berat badan. Selama sekitar sembilan bulan, kulit, ligamen, otot, payudara, dasar panggul, bahkan otak beradaptasi untuk mendukung pertumbuhan bayi. Sebagian besar perubahan berangsur pulih, tetapi beberapa dapat meninggalkan jejak jangka panjang.

  1. 1. Stretch mark berubah menjadi bekas luka yang menetap

    Stretch mark atau striae muncul ketika kulit meregang cepat sehingga serat kolagen dan elastin di lapisan kulit mengalami kerusakan. Warnanya biasanya memudar dan menjadi lebih samar, tetapi garis tersebut pada dasarnya merupakan jaringan parut.

    American Academy of Dermatology menyebut stretch mark sebagai perubahan permanen. Krim atau tindakan dermatologis dapat mengurangi tampilannya, tetapi tidak dapat menjamin guratan hilang seluruhnya.

  2. 2. Kaki bisa menjadi lebih panjang dan lengkungnya menurun

    Sepatu yang terasa lebih sempit setelah melahirkan tidak selalu disebabkan oleh sisa pembengkakan. Berat tubuh yang bertambah dan ligamen yang lebih lentur selama kehamilan dapat membuat lengkung kaki turun sehingga kaki sedikit memanjang.

    Dalam penelitian terhadap 49 perempuan, 30 peserta mengalami pertambahan panjang kaki—umumnya sekitar 2–10 milimeter—dan 35 peserta mengalami penurunan lengkung kaki hingga sekitar lima bulan setelah melahirkan.

    Perubahan terbesar terlihat pada kehamilan pertama. Meski peneliti menyebutnya sebagai perubahan yang kemungkinan permanen, tetapi masa pengamatan studi ini masih terbatas sehingga hasilnya tidak berarti setiap ibu akan mengalami perubahan ukuran sepatu seumur hidup.

  3. 3. Jarak antarotot perut dapat tetap melebar

    Seorang ibu bekerja menggendong bayi sambil menggunakan laptop di rumah, menggambarkan keseimbangan pekerjaan dan pengasuhan.
    ilustrasi ibu yang bekerja sedang menggendong bayi (pexels.com/Sarah Chai)

    Saat rahim membesar, jaringan di antara dua sisi otot perut ikut meregang. Kondisi ini dikenal sebagai diastasis rekti dan dapat terlihat sebagai tonjolan memanjang di tengah perut ketika tubuh bangun dari posisi berbaring.

    Sebuah studi prospektif terhadap 300 ibu yang pertama kali melahirkan menemukan bahwa diastasis rekti masih terdeteksi pada 45,5 persen peserta enam bulan setelah persalinan dan 32,6 persen pada bulan ke-12.

    Angka tersebut menunjukkan bahwa pemulihan dapat berlangsung lama, bukan bahwa kondisi ini pasti permanen. Latihan yang sesuai dan fisioterapi dapat membantu memperbaiki fungsi dinding perut.

  4. 4. Dasar panggul dapat membawa dampak bertahun-tahun

    Otot dan jaringan dasar panggul menopang kandung kemih, rahim, serta usus. Kehamilan dan persalinan dapat meregangkan atau mencederai jaringan tersebut. Dampaknya dapat berupa urine bocor ketika batuk, sulit menahan buang air besar, atau rasa mengganjal akibat turunnya organ panggul.

    Studi kohort terhadap 1.528 perempuan menunjukkan bahwa gangguan dasar panggul dapat muncul atau bertahan satu hingga dua dekade setelah persalinan. Besarnya risiko berbeda menurut cara persalinan. Persalinan vaginal dengan alat bantu, misalnya, berhubungan dengan risiko lebih tinggi untuk inkontinensia anus dan prolaps dibandingkan persalinan vaginal spontan.

    Kondisi ini tidak otomatis permanen. Latihan dasar panggul, fisioterapi, obat, alat penyangga, dan tindakan medis tersedia sesuai jenis serta tingkat keparahannya.

  5. 5. Ukuran dan bentuk payudara mungkin tidak kembali persis

    Selama kehamilan, jaringan penghasil ASI berkembang dan payudara membesar. Setelah masa menyusui berakhir, jaringan tersebut menyusut kembali, tetapi kulit dan jaringan penyangga tidak selalu kembali ke kondisi sebelumnya. Akibatnya, ukuran, kepadatan, atau posisi payudara dapat berubah.

    Menyusui sendiri bukan penyebab utama payudara mengendur. Dalam penelitian terhadap perempuan yang mencari tindakan bedah payudara, menyusui tidak ditemukan sebagai faktor risiko independen. Perubahan lebih berkaitan dengan kehamilan, usia, jumlah kehamilan, indeks massa tubuh, ukuran payudara sebelum hamil, dan kebiasaan merokok.

  6. 6. Perubahan otak dapat bertahan selama bertahun-tahun

    Ilustrasi ibu menggendong bayi sementara pasangannya mendampingi dan memberikan dukungan di dekatnya.
    ilustrasi ibu menggendong bayi dengan pasangan memberikan dukungan (pexels.com/OlyaAfanasyeva)

    Pemindaian otak menunjukkan bahwa kehamilan dapat mengubah volume materi abu-abu pada bagian yang terlibat dalam pemrosesan sosial dan hubungan dengan bayi. Sebuah studi lanjutan mendapati sebagian besar perubahan tersebut masih terlihat enam tahun setelah persalinan.

    Namun, penelitian lanjutan ini hanya melibatkan tujuh ibu dan lima peserta kontrol. Karena itu, temuan tersebut belum membuktikan bahwa perubahan otak terjadi pada semua ibu atau berlangsung seumur hidup.

    Berkurangnya volume pada pemindaian juga tidak dapat langsung diartikan sebagai kerusakan otak atau penurunan kecerdasan.

  7. 7. Sejumlah kecil sel janin dapat tinggal selama puluhan tahun

    Selama kehamilan, sebagian kecil sel janin dapat melewati plasenta dan masuk ke tubuh ibu. Fenomena ini disebut mikrokimerisme janin.

    Dalam sebuah studi, sel dengan DNA kromosom Y ditemukan pada enam dari delapan perempuan yang pernah melahirkan anak laki-laki. Pada salah satu peserta, sel tersebut masih terdeteksi 27 tahun setelah persalinan. Makna kesehatannya belum sepenuhnya dipahami, sehingga keberadaan sel tersebut tidak dapat langsung dianggap bermanfaat ataupun berbahaya.

  8. Jadi, mana yang benar-benar permanen?

    Bukti paling kuat ada pada stretch mark sebagai jaringan parut. Perubahan struktur kaki serta keberadaan sel janin juga dapat bertahan lama, tetapi belum cukup bukti untuk memastikan bahwa keduanya selalu menetap seumur hidup.

    Sementara itu, diastasis rekti, gangguan dasar panggul, serta perubahan bentuk payudara lebih tepat disebut dapat menetap. Berbeda tidak selalu berarti sakit, dan menetap tidak berarti tidak dapat ditangani.

    Pemeriksaan diperlukan jika perubahan disertai urine atau feses yang bocor, tekanan atau benjolan pada vagina, nyeri saat berhubungan seksual, tonjolan perut yang mengganggu aktivitas, nyeri kaki berkepanjangan, atau benjolan dan perubahan kulit pada payudara.

    Referensi

    American Academy of Dermatology, “Stretch Marks: Why They Appear and How to Get Rid of Them,” diakses September 2026.

    Neil A. Segal et al., “Pregnancy Leads to Lasting Changes in Foot Structure,” American Journal of Physical Medicine & Rehabilitation 92, no. 3 (2013): 232–40, https://doi.org/10.1097/PHM.0b013e31827443a9.

    Jorun Bakken Sperstad et al., “Diastasis Recti Abdominis during Pregnancy and 12 Months after Childbirth: Prevalence, Risk Factors and Report of Lumbopelvic Pain,” British Journal of Sports Medicine 50, no. 17 (2016): 1092–96, https://doi.org/10.1136/bjsports-2016-096065.

    Joan L. Blomquist et al., “Association of Delivery Mode with Pelvic Floor Disorders after Childbirth,” JAMA 320, no. 23 (2018): 2438–47, https://doi.org/10.1001/jama.2018.18315.

    Brian Rinker, Melissa Veneracion, and Catherine P. Walsh, “The Effect of Breastfeeding on Breast Aesthetics,” Aesthetic Surgery Journal 28, no. 5 (2008): 534–37, https://doi.org/10.1016/j.asj.2008.07.004.

    Ohio State Health & Discovery, “How Does Breastfeeding and Pregnancy Change Breast Tissue?,” diakses September 2026.

    Magdalena Martínez-García et al., “Do Pregnancy-Induced Brain Changes Reverse? The Brain of a Mother Six Years after Parturition,” Brain Sciences 11, no. 2 (2021): 168, https://doi.org/10.3390/brainsci11020168.

    Diana W. Bianchi et al., “Male Fetal Progenitor Cells Persist in Maternal Blood for as Long as 27 Years Postpartum,” Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America 93, no. 2 (1996): 705–8, https://doi.org/10.1073/pnas.93.2.705.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More