Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Apa Saja Bahaya Menghirup Abu Vulkanik bagi Pernapasan?

Apa Saja Bahaya Menghirup Abu Vulkanik bagi Pernapasan?
ilustrasi abu vulkanik yang terlihat lebih halus dari debu (commons.wikimedia.org/David E. Wieprecht)
  • Abu vulkanik bukan abu lembut hasil pembakaran, melainkan pecahan batuan, mineral, dan kaca vulkanik. Partikelnya yang sangat kecil dapat mencapai bagian dalam paru-paru.

  • Paparan singkat paling sering menyebabkan iritasi, batuk, dan rasa tidak nyaman. Dampaknya dapat lebih berat pada penderita asma atau penyakit paru kronis.

  • Risiko kerusakan paru jangka panjang bergantung pada ukuran, komposisi, konsentrasi, serta lamanya paparan. Sekali terkena hujan abu tidak otomatis menyebabkan silikosis.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Gunung Anak Krakatau yang mengalami erupsi sejak Jumat malam (5/9) mengeluarkan abu vulkanik yang terbawa angin dan menyebar ke beberapa wilayah. BMKG menyebut abu sampai ke wilayah Lampung hingga sebagian Jakarta.

Sebaran abu dapat berubah mengikuti arah dan kecepatan angin, sehingga masyarakat di wilayah terdampak perlu mengikuti informasi resmi serta mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika udara tampak berdebu.

Abu yang telah jatuh juga dapat kembali beterbangan saat angin bertiup, kendaraan melintas, atau permukaan dibersihkan. Abu yang semula tampak diam pun dapat masuk bersama setiap tarikan napas.

Abu vulkanik terdiri dari pecahan batuan, mineral, dan kaca vulkanik berukuran tidak lebih dari dua milimeter. Jadi, material ini berbeda dari abu lembut yang tersisa setelah kayu atau kertas terbakar.

Bahaya bagi pernapasan terutama berasal dari bagian abu yang cukup kecil untuk tetap melayang dan terhirup.

  1. 1. Mengiritasi hidung dan tenggorokan

    Partikel berukuran relatif besar biasanya tertahan di hidung, mulut, dan tenggorokan. Paparannya dapat menimbulkan hidung berair, tenggorokan perih, batuk kering, serta rasa tidak nyaman ketika bernapas.

    Pada paparan tinggi, keluhan tersebut juga dapat dialami orang yang sebelumnya sehat. Lapisan asam yang terkadang menempel pada abu yang baru jatuh bisa menambah iritasi, meskipun lapisan ini biasanya cepat terbilas oleh hujan.

  2. 2. Partikel halus dapat masuk lebih dalam

    Lokasi tempat abu mengendap di saluran napas dipengaruhi ukurannya. Menurut U.S. Geological Survey, partikel berdiameter 4–10 mikrometer dapat mencapai batang tenggorok dan cabang saluran napas. Partikel yang lebih kecil dari 4 mikrometer dapat masuk hingga alveoli, yaitu kantong udara kecil tempat pertukaran oksigen berlangsung.

    Makin banyak partikel halus yang terhirup, makin besar kemungkinan munculnya batuk, dahak, dada terasa sesak, napas berbunyi mengi, atau sesak napas. Namun, tingkat bahayanya tidak sama pada setiap letusan. Ukuran dan bentuk partikel, komposisi mineral, konsentrasi abu di udara, serta lamanya seseorang terpapar ikut menentukan dampaknya.

  3. 3. Memicu serangan asma dan memperburuk penyakit paru

    Masyarakat Bandar Lampung mulai merasakan dambak debu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK). (IDN Times/Tama Yudha Wiguna)
    Masyarakat Bandar Lampung mulai merasakan dambak debu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK). (IDN Times/Tama Yudha Wiguna)

    Orang dengan asma, bronkitis kronis, atau emfisema lebih rentan karena abu dapat mengiritasi dan membuat saluran napas menyempit. Saluran napas juga dapat menghasilkan lebih banyak lendir sehingga batuk, mengi, dan sesak menjadi lebih berat.

    Setelah letusan Eyjafjallajökull di Islandia pada 2010, sebuah studi menemukan bahwa penduduk di wilayah terpapar lebih dari dua kali lebih mungkin melaporkan batuk, dahak, dan dada sesak dibandingkan kelompok yang tidak terpapar pada pemeriksaan 6–9 bulan kemudian. Karena penelitian ini bersifat observasional, hasilnya menunjukkan hubungan dan tidak membuktikan bahwa abu merupakan satu-satunya penyebab keluhan.

  4. 4. Anak-anak dapat lebih mudah mengalami gangguan

    Anak bernapas lebih cepat dibandingkan orang dewasa dan cenderung lebih aktif di luar ruangan. Saluran napas mereka juga masih berkembang. Kombinasi tersebut dapat meningkatkan jumlah partikel yang terhirup selama hujan abu.

    Studi di Quito, Ekuador, menelaah 5.169 catatan kunjungan IGD anak selama periode aktivitas Gunung Guagua Pichincha. Dalam 28 hari aktivitas vulkanik dan pelepasan abu, peneliti memperkirakan terjadi 345 kunjungan tambahan akibat gangguan pernapasan. Peningkatan terbesar ditemukan pada anak berusia di bawah 5 tahun.

    Meski demikian, penelitian tersebut tidak dapat sepenuhnya memisahkan pengaruh abu dari gas vulkanik, cuaca, infeksi, dan faktor lingkungan lainnya.

  5. 5. Apakah abu dapat menyebabkan silikosis?

    Sebagian abu vulkanik mengandung silika kristalin, mineral yang dalam paparan pekerjaan diketahui dapat menyebabkan silikosis. Penyakit ini membuat jaringan paru mengalami peradangan dan membentuk jaringan parut sehingga fungsi paru menurun.

    Namun, keberadaan silika dalam abu tidak otomatis berarti seseorang akan terkena silikosis. Risiko tersebut terutama menjadi perhatian apabila abu berukuran sangat halus, mengandung silika kristalin bebas dalam jumlah cukup besar, dan terhirup pada konsentrasi tinggi selama bertahun-tahun.

    Hingga kini belum ada penyakit jangka panjang seperti silikosis yang secara langsung dikaitkan dengan paparan abu vulkanik pada populasi. Akan tetapi, data pemantauan jangka panjang masih terbatas, terutama pada pekerja luar ruangan dan masyarakat yang mengalami paparan berulang. Tinjauan ilmiah juga menegaskan bahwa bukti untuk mengukur besarnya risiko penyakit kronis akibat abu masih belum memadai.

  6. Cara mengurangi abu yang terhirup

    Ilustrasi masker respirator N95 berwarna putih sebagai alat pelindung pernapasan dari partikel di udara.
    ilustrasi masker N95 (pexels.com/CDC)

    Saat hujan abu terjadi, sebisa mungkin tetaplah berada di dalam ruangan dan tutup pintu, jendela, serta jalur masuk udara dari luar. Batasi perjalanan dan aktivitas fisik berat karena napas yang lebih cepat membuat lebih banyak abu masuk.

    Apabila harus keluar atau membersihkan abu, gunakan respirator N95 yang terpasang rapat pada wajah. Masker tersebut menyaring partikel, tetapi tidak melindungi pemakainya dari gas vulkanik seperti sulfur dioksida.

    Penelitian laboratorium juga menunjukkan bahwa bahan respirator setara N95 mampu menyaring lebih dari 98 persen partikel abu dalam kondisi pengujian, sedangkan bahan kain yang diuji menyaring tidak lebih dari 44 persen. Perlindungan nyata tetap dipengaruhi oleh kerapatan masker pada wajah.

    Penderita asma atau penyakit paru perlu menyiapkan obat sesuai rencana pengobatan dari dokter. Segera cari pertolongan medis apabila sesak memburuk, sulit berbicara karena kehabisan napas, bibir tampak kebiruan, kesadaran menurun, atau obat pereda asma tidak membantu.

    Referensi

    U.S. Geological Survey, “Ash Particle Size,” diakses September 2026.

    U.S. Geological Survey, “Respiratory Effects,” diakses September 2026.

    International Volcanic Health Hazard Network, “Health Impacts of Volcanic Ash,” diakses September 2026.

    Carol Stewart et al., “Volcanic Air Pollution and Human Health: Recent Advances and Future Directions,” Bulletin of Volcanology 84 (2022): 11, https://doi.org/10.1007/s00445-021-01513-9.

    Hanne Krage Carlsen et al., “Health Effects Following the Eyjafjallajökull Volcanic Eruption: A Cohort Study,” BMJ Open 2, no. 6 (2012): e001851, https://doi.org/10.1136/bmjopen-2012-001851.

    Elena N. Naumova et al., “Emergency Room Visits for Respiratory Conditions in Children Increased after Guagua Pichincha Volcanic Eruptions in April 2000 in Quito, Ecuador,” Environmental Health 6 (2007): 21, https://doi.org/10.1186/1476-069X-6-21.

    William Mueller et al., “Health Impact Assessment of Volcanic Ash Inhalation: A Comparison with Outdoor Air Pollution Methods,” GeoHealth 4, no. 7 (2020): e2020GH000256, https://doi.org/10.1029/2020GH000256.

    Centers for Disease Control and Prevention, “Safety Guidelines: After a Volcanic Eruption,” diakses September 2026.

    William Mueller et al., “The Effectiveness of Respiratory Protection Worn by Communities to Protect from Volcanic Ash Inhalation. Part I: Filtration Efficiency Tests,” International Journal of Hygiene and Environmental Health 221, no. 6 (2018): 967–76, https://doi.org/10.1016/j.ijheh.2018.03.012.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More