Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Virus Baru dari Caplak Ditemukan di China, Ini yang Perlu Diketahui

Virus Baru dari Caplak Ditemukan di China, Ini yang Perlu Diketahui
Haemaphysalis longicornis, Asian longhorned tick. (commons.wikimedia.org/Commonsource)
  • Peneliti China mengidentifikasi virus baru bernama Asian longhorned tick nairovirus atau ALTNV pada pasien demam dengan riwayat paparan caplak.

  • Di antara 56 pasien yang hanya terinfeksi ALTNV, gejala terbanyak adalah kelelahan dan gangguan pencernaan. Seluruhnya pulih tanpa dampak lanjutan yang terdeteksi.

  • Tujuh kematian terjadi pada pasien yang juga terinfeksi Dabie bandavirus. Temuan ini belum membuktikan ALTNV saja dapat menyebabkan kematian atau telah beredar di Indonesia.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Sejumlah pasien tiba di rumah sakit dengan demam setelah terpapar caplak. Gejalanya menyerupai infeksi yang sudah dikenal di Asia, tetapi hasil pemeriksaan terhadap virus penyebabnya justru negatif.

Kasus-kasus tersebut kemudian membawa para peneliti di China pada temuan berbeda, bahwa sebuah virus yang sebelumnya belum diketahui menyebabkan penyakit pada manusia. Virus tersebut diberi nama Asian longhorned tick nairovirus (ALTNV). Temuannya dilaporkan pada September 2026 dalam New England Journal of Medicine.

  1. Berawal dari misteri pasien yang negatif DBV

    Peneliti awalnya menyelidiki sindrom demam berat dengan trombositopenia (severe fever with thrombocytopenia syndrome/SFTS), penyakit yang dapat menyebabkan demam tinggi, penurunan trombosit, dan gangguan berbagai organ. Penyebabnya adalah Dabie bandavirus (DBV), virus yang pertama kali diidentifikasi dari pasien di China melalui penelitian yang terbit pada 2011.

    Namun, lebih dari 30 persen pasien dengan tanda menyerupai SFTS dilaporkan negatif DBV. Peneliti kemudian mengumpulkan sampel pasien demam dengan riwayat paparan caplak di sejumlah rumah sakit pemantauan di China.

    Melalui pengurutan materi genetik dan isolasi virus, mereka menemukan ALTNV. Analisis genetik menunjukkan bahwa virus ini termasuk genus Orthonairovirus dalam famili Nairoviridae, tetapi cukup berbeda dari spesies lain yang telah dikenal. Virus tersebut juga dapat diperbanyak dari serum pasien di dalam kultur sel.

  2. Ditemukan pada 10,4 persen pasien yang diperiksa

    Dari 3.163 pasien demam dengan riwayat paparan caplak, sebanyak 10,4 persen dinyatakan positif ALTNV berdasarkan temuan RNA virus atau antibodi imunoglobulin M—antibodi yang biasanya muncul pada fase awal infeksi. Di antara pasien yang negatif DBV, 15,1 persen menunjukkan bukti infeksi ALTNV.

    Peserta penelitian merupakan kelompok khusus yang sudah mengalami demam dan memiliki riwayat paparan caplak, bukan sampel masyarakat umum.

    Para peneliti kemudian mengamati 56 pasien yang hanya terinfeksi ALTNV, tanpa DBV. Gejala yang paling sering ditemukan meliputi:

    • Kelelahan pada 84 persen pasien.
    • Gangguan pencernaan pada 80 persen.
    • Trombosit rendah pada 38 persen.
    • Peningkatan enzim aminotransferase pada 36 persen.

    Peningkatan aminotransferase dapat menandakan peradangan atau cedera pada hati maupun jaringan lain. Seluruh pasien dengan infeksi ALTNV saja dilaporkan pulih tanpa gejala sisa yang terdeteksi.

  3. Tujuh kematian terjadi pada pasien koinfeksi

    Ilustrasi pasien terbaring di ranjang di ruang rumah sakit dengan perawatan intensif oleh tenaga medis.
    ilustrasi pasien dirawat secara intensif di rumah sakit (unsplash.com/Olga Kononenko)

    Sebanyak 38 pasien diketahui terinfeksi ALTNV sekaligus DBV. Dibandingkan pasien yang hanya mengalami infeksi DBV, kelompok koinfeksi lebih sering memiliki gejala pernapasan—61 persen berbanding 38 persen—dan gangguan ginjal, yakni 84 persen berbanding 66 persen.

    Tujuh pasien dalam kelompok koinfeksi meninggal atau sekitar 18,4 persen. Namun, data tersebut tidak membuktikan ALTNV menjadi penyebab kematian. Semua kematian terjadi pada pasien yang juga terinfeksi DBV, penyakit yang memang dapat berkembang berat dan mematikan.

    Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui apakah ALTNV memperparah infeksi DBV atau hanya ditemukan bersamaan pada pasien yang sejak awal sudah mengalami penyakit berat.

  4. Bagaimana peneliti menghubungkannya dengan caplak?

    Tim penelitian memeriksa 47.428 caplak dari 15 provinsi di China. RNA ALTNV ditemukan pada 1,29 persen sampel, dengan angka tertinggi—1,8 persen—pada spesies Haemaphysalis longicornis atau caplak tanduk panjang Asia.

    Keberadaan materi genetik virus pada caplak belum dengan sendirinya membuktikan bahwa hewan tersebut dapat menularkan penyakit. Karena itu, peneliti melakukan percobaan tambahan. Hasilnya menunjukkan bahwa H. longicornis yang terinfeksi dapat menularkan ALTNV kepada tikus ketika mengisap darahnya.

    Gabungan bukti dari pasien, isolasi virus, pemeriksaan ribuan caplak, dan percobaan pada hewan mendukung dugaan kuat bahwa ALTNV merupakan virus zoonotik yang ditularkan caplak.

  5. Belum bisa disebut sebagai ancaman global

    Ilustrasi virus dan bakteri sebagai mikroorganisme penyebab berbagai penyakit dalam komposisi visual digital.
    ilustrasi virus dan bakteri (IDN Times/Novaya Siantita)

    Istilah “virus baru” berarti ALTNV baru diidentifikasi oleh ilmu pengetahuan. Penelitian ini tidak menentukan kapan virus tersebut pertama kali muncul di alam.

    Laporan tersebut juga belum menunjukkan adanya penularan antarmanusia, belum mengukur risiko pada masyarakat umum, dan tidak meneliti peredaran virus di luar lokasi penelitian.

    Belum ada pula terapi antivirus atau vaksin khusus ALTNV yang dinilai dalam penelitian ini. Pengawasan dan kemampuan laboratorium membedakan ALTNV dari DBV menjadi penting karena gejala kedua infeksi dapat saling menyerupai.

  6. Lindungi diri dari gigitan caplak

    Pencegahan penyakit akibat caplak dilakukan dengan mengenakan pakaian yang menutup kulit, memakai penolak serangga sesuai petunjuk, serta memeriksa tubuh, pakaian, perlengkapan, dan hewan peliharaan setelah berada di rerumputan atau kawasan berhutan.

    Mandi tidak lama setelah kembali ke dalam ruangan juga membantu menemukan caplak yang belum melekat.

    Jika caplak sudah menempel, gunakan pinset bersih untuk menjepitnya sedekat mungkin dengan permukaan kulit, lalu tarik lurus menggunakan tekanan yang stabil. Jangan mencoba melepaskannya menggunakan panas, cat kuku, atau petroleum jelly karena dapat membuat caplak mengeluarkan cairan ke dalam kulit.

    Demam atau ruam yang muncul dalam beberapa hari hingga minggu setelah gigitan perlu diperiksakan. Beri tahu dokter kapan dan di mana paparan caplak kemungkinan terjadi agar penyebab penyakit dapat dinilai dengan lebih tepat.

    Referensi

    Xiao-Ai Zhang et al., “A Zoonotic Orthonairovirus from Febrile Patients in China,” New England Journal of Medicine 395, no. 9 (2026): 929–31.

    Xue-Jie Yu et al., “Fever with Thrombocytopenia Associated with a Novel Bunyavirus in China,” New England Journal of Medicine 364, no. 16 (2011): 1523–32.

    Mary Van Beusekom, “Scientists in China Discover New Tick-Borne Virus That Causes Flu-Like Illness,” Center for Infectious Disease Research and Policy, September 3, 2026.

    Centers for Disease Control and Prevention, “Preventing Tick Bites,” August 28, 2024, diakses September 2026.

    Centers for Disease Control and Prevention, “What to Do after a Tick Bite,” diakses September 2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More