World Health Organization, “History of Smallpox Vaccination,” diakses Agustus 2026.
Centers for Disease Control and Prevention, “History of Smallpox,” diakses Agustus 2026.
Arthur Boylston, “The Origins of Inoculation,” Journal of the Royal Society of Medicine 105, no. 7 (2012): 309–13, https://doi.org/10.1258/jrsm.2012.12k044.
Don K. Nakayama, “America’s Original Immunization Controversy: The Tercentenary of the Boston Smallpox Epidemic of 1721,” The American Surgeon 88, no. 10 (2022): 2425–28, https://doi.org/10.1177/00031348221074228.
Stefan Riedel, “Edward Jenner and the History of Smallpox and Vaccination,” Baylor University Medical Center Proceedings 18, no. 1 (2005): 21–25, https://doi.org/10.1080/08998280.2005.11928028.
World Health Organization, “Smallpox,” diakses Agustus 2026.
Sebelum Ada Vaksin, Dulunya Orang Sengaja Ditulari Cacar

Cacar dalam sejarah ini adalah smallpox akibat virus variola, bukan cacar air.
Variolasi dilakukan dengan memasukkan materi dari luka cacar ke tubuh orang sehat.
Risikonya lebih rendah daripada tertular secara alami, tetapi tetap dapat menyebabkan kematian dan wabah baru.
Beberapa abad lalu, keropeng dari luka cacar dikeringkan, dihaluskan, lalu ditiupkan ke hidung orang yang masih sehat. Di tempat lain, materi dari bintil penderita dimasukkan melalui goresan kecil pada kulit.
Orang yang menerima tindakan tersebut memang diharapkan sakit. Tujuannya adalah memicu infeksi yang biasanya lebih ringan, sehingga penyintas memperoleh perlindungan ketika wabah cacar datang. Praktik berisiko ini dikenal sebagai variolasi.
Cacar yang dimaksud adalah smallpox, penyakit menular akibat virus variola—bukan cacar air yang disebabkan oleh virus varicella-zoster. Sebelum diberantas, smallpox termasuk penyakit paling mematikan. Sekitar 3 dari setiap 10 orang yang tertular meninggal, sedangkan penyintasnya dapat mengalami bekas luka berat atau kebutaan.
Table of Content
Variolasi berbeda dari vaksinasi
Variolasi menggunakan materi yang mengandung virus variola dari penderita cacar. Materi tersebut dimasukkan melalui kulit atau hidung agar penerimanya mengalami infeksi, demam, dan ruam, tetapi diharapkan tidak separah penularan alami.
Catatan tertulis dari pertengahan abad ke-16 menggambarkan praktik di China berupa keropeng cacar yang dikeringkan dan ditiupkan ke hidung. Teknik memasukkan materi cacar melalui kulit juga dikenal di India, beberapa wilayah Afrika, dan Kekaisaran Ottoman. Penelusuran sejarah yang diterbitkan dalam Journal of the Royal Society of Medicine menunjukkan bahwa asal-usul pastinya sulit ditentukan karena praktik serupa berkembang di sejumlah wilayah.
Pengetahuan ini kemudian menyebar ke Eropa melalui Lady Mary Wortley Montagu, yang melihat variolasi saat tinggal di wilayah Ottoman. Di Boston, Amerika Utara, Cotton Mather mengetahui metode serupa dari Onesimus, seorang pria Afrika Barat yang diperbudaknya. Saat wabah melanda pada 1721, dokter Zabdiel Boylston mulai melakukan variolasi di tengah penolakan masyarakat.
Lebih rendah risikonya, tetapi bukan berarti aman
Artikel sejarah medis yang terbit dalam jurnal The American Surgeon mencatat bahwa Boylston melakukan variolasi terhadap 282 orang. Enam orang di antaranya meninggal atau sekitar 2,1 persen. Sebagai perbandingan, terdapat 844 kematian di antara 5.759 warga Boston yang terkena cacar secara alami atau sekitar 14,7 persen.
Angka tersebut berasal dari catatan sejarah, bukan uji klinis terkontrol seperti yang diwajibkan saat ini. Namun, perbedaannya membantu menjelaskan mengapa masyarakat tetap menggunakan variolasi meskipun prosedurnya berbahaya.
Penerima variolasi benar-benar sakit cacar sehingga tetap dapat meninggal dan menularkan penyakit kepada orang lain. Sebuah ulasan dalam Baylor University Medical Center Proceedings memperkirakan sekitar 2–3 persen orang yang menjalani variolasi meninggal. Sebagian penerima juga menjadi sumber wabah baru.
Jenner menawarkan cara yang lebih aman

ilustrasi pemberian vaksin (unsplash.com/Mat Napo) Perubahan penting terjadi pada tahun 1796. Dokter Inggris Edward Jenner menggunakan materi dari luka cacar sapi atau cowpox pada Sarah Nelmes untuk menginokulasi James Phipps, anak berusia 8 tahun. Jenner kemudian memaparkan Phipps dengan materi cacar manusia untuk menguji perlindungannya—tindakan yang tidak dapat dibenarkan berdasarkan standar penelitian modern.
Phipps tidak mengalami smallpox. Pendekatan Jenner kemudian dikenal sebagai vaksinasi. Berbeda dari variolasi, metode ini tidak menggunakan virus variola untuk menimbulkan cacar pada penerimanya. Vaksinasi secara bertahap menggantikan variolasi karena menawarkan perlindungan dengan risiko yang lebih rendah.
Program vaksinasi, pelacakan kasus, dan pengendalian wabah akhirnya menghentikan penularan smallpox di seluruh dunia. Kasus alami terakhir tercatat di Somalia pada tahun 1977. Pada 8 Mei 1980, World Health Assembly menyatakan dunia telah bebas dari cacar.
Jadi, orang pada masa lalu memang sengaja dipaparkan pada cacar. Namun, variolasi bukan vaksinasi modern dan bukan tindakan yang boleh ditiru. Praktik tersebut merupakan upaya awal untuk memperoleh kekebalan ketika pilihan pencegahan yang lebih aman belum tersedia.
Referensi















![[QUIZ] Dari Jadwal Gym Kamu, Cek Kamu Overtraining atau Tidak](https://image.idntimes.com/post/20260718/upload_81eef7479c8aeb23b53726edf15fecd4_1085b833-0382-4947-ba19-8d7bad3edfd5.png)




