Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Apa Itu Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome terkait Hantavirus?
ilustrasi pasien dirawat di rumah sakit karena hemorrhagic fever with renal syndrome (pexels.com/Tima Miroshnichenko)
  • Hemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS) adalah infeksi akibat hantavirus yang menyerang pembuluh darah kecil dan ginjal, dengan gejala utama demam tinggi, nyeri hebat, serta gangguan fungsi ginjal.

  • Penularan HFRS umumnya terjadi melalui paparan urine, air liur, atau kotoran tikus yang terkontaminasi virus dan jarang menular antarmanusia, sehingga kebersihan lingkungan menjadi faktor pencegahan utama.

  • Belum ada obat antivirus spesifik untuk HFRS; perawatan fokus pada dukungan fungsi organ seperti cairan intravena dan dialisis, sementara deteksi dini sangat penting mencegah komplikasi berat.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Meskipun hemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS) dapat menimbulkan gejala berat, artikel ini menunjukkan bahwa pemahaman yang baik tentang cara penularan dan pencegahan memberi peluang besar untuk mengendalikan risikonya. Penekanan pada deteksi dini, perawatan suportif yang efektif, serta kebersihan lingkungan memperlihatkan bahwa penyakit ini dapat ditangani dengan pendekatan medis dan perilaku yang tepat.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Demam tinggi, tubuh lemas, nyeri hebat, lalu fungsi ginjal mulai terganggu. Pada sebagian kasus, kondisi ini bahkan bisa berkembang menjadi perdarahan serius dan syok. Ini menggambarkan hemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS), salah satu bentuk infeksi hantavirus.

Hantavirus, virus penyebabnya, telah dilaporkan di berbagai negara di Asia dan Eropa selama puluhan tahun. Penyakit ini terutama berkaitan dengan paparan hewan pengerat seperti tikus.

HFRS menjadi penting dibahas karena gejalanya sering menyerupai infeksi lain pada tahap awal, mulai dari flu berat hingga demam berdarah. Padahal, komplikasinya bisa serius, terutama ketika ginjal mulai terdampak. Karena itu, memahami bagaimana penyakit ini menular, berkembang, dan dicegah menjadi sangat penting, terutama di wilayah dengan paparan hewan pengerat yang tinggi.

1. Apa itu HFRS?

HFRS adalah kelompok penyakit akibat infeksi hantavirus yang terutama menyerang pembuluh darah kecil dan ginjal.

Penyakit ini disebabkan oleh beberapa jenis hantavirus, termasuk:

  • Hantaan virus.

  • Seoul virus.

  • Dobrava-Belgrade virus.

  • Puumala virus.

Berbeda dengan hantavirus di benua Amerika yang lebih sering menyebabkan hantavirus pulmonary syndrome (HPS) dengan gangguan paru berat, HFRS lebih dominan memengaruhi ginjal dan sistem pembuluh darah.

Istilah “hemorrhagic fever” mengacu pada kecenderungan gangguan perdarahan, sedangkan “renal syndrome” menunjukkan keterlibatan ginjal yang menjadi ciri utama penyakit ini.

2. Bagaimana seseorang bisa mengalami HFRS?

Hantavirus hidup secara alami pada beberapa spesies tikus dan hewan pengerat lainnya. Hewan tersebut sering kali tidak tampak sakit meski membawa virus.

Virus kemudian keluar melalui urine, air liur, dan kotoran tikus.

Ketika kotoran atau urine mengering, partikel virus dapat bercampur dengan debu di udara dan terhirup manusia.

Banyak kasus paparan terjadi saat seseorang:

  • Membersihkan gudang.

  • Menyapu area penuh debu.

  • Masuk ke bangunan lama.

  • Kontak dengan lingkungan yang terkontaminasi rodent.

Masalahnya, aktivitas tersebut terlihat biasa dan tidak selalu terasa “berisiko”. Orang sering tidak sadar bahwa debu yang beterbangan dapat mengandung partikel virus.

Inhalasi aerosol yang terkontaminasi merupakan jalur penularan hantavirus yang paling umum.

Apakah menular antarmanusia?

Pada sebagian besar tipe hantavirus penyebab HFRS, penularan antarmanusia sangat jarang atau praktis tidak terjadi.

Ini berbeda dengan beberapa hantavirus tertentu di Amerika Selatan yang pernah dilaporkan dapat menular antarmanusia dalam kondisi khusus.

Karena itu, fokus utama pencegahan HFRS tetap pada pengendalian paparan tikus dan kebersihan lingkungan.

3. Gejala HFRS yang harus diketahui

ilustrasi demam (pexels.com/cottonbro studio)

Demam tinggi dan nyeri hebat

Gejala awal HFRS sering muncul mendadak:

  • Demam tinggi.

  • Menggigil.

  • Sakit kepala.

  • Nyeri otot.

  • Rasa lemas berat.

Sebagian pasien juga mengalami nyeri punggung atau perut yang cukup intens. Pada tahap awal, penyakit ini sering sulit dibedakan dari infeksi virus lain.

Menurut penelitian, fase awal HFRS sering menyerupai influenza berat atau infeksi sistemik lainnya.

Gangguan pembuluh darah dan perdarahan

Hantavirus dapat memengaruhi permeabilitas pembuluh darah kecil sehingga cairan lebih mudah bocor ke jaringan tubuh.

Akibatnya, tekanan darah bisa turun dan muncul tanda perdarahan seperti:

  • Bintik merah.

  • Mimisan.

  • Perdarahan lain pada sebagian kasus berat.

Gangguan pembuluh darah inilah yang membuat HFRS termasuk kelompok viral hemorrhagic fever.

Ginjal mulai terganggu

Salah satu ciri paling khas HFRS adalah keterlibatan ginjal. Pasien dapat mengalami:

Pada beberapa kasus, pasien justru mengalami fase produksi urine berlebihan setelah fase akut berlalu. Ini terjadi karena ginjal sedang mencoba memulihkan fungsi regulasi cairan tubuh.

4. Fase penyakit

Secara klasik, HFRS dibagi menjadi beberapa fase:

  • Fase demam.

  • Fase hipotensi.

  • Fase oligurik (urine sedikit).

  • Fase diuretik.

  • Fase pemulihan.

Namun, tidak semua pasien mengalami seluruh fase secara jelas. Tingkat keparahan juga sangat bervariasi tergantung jenis virus dan kondisi pasien.

Pada kasus ringan, gejala dapat membaik dalam beberapa minggu. Pada kasus berat, komplikasi organ bisa mengancam nyawa.

5. Siapa yang lebih berisiko?

Risiko lebih tinggi ditemukan pada:

  • Pekerja pertanian.

  • Petugas gudang.

  • Pekerja kebersihan.

  • Tentara.

  • Orang yang sering terpapar area dengan populasi hewan pengerat tinggi.

Orang yang membersihkan area tertutup lama tanpa ventilasi juga memiliki risiko lebih tinggi jika terdapat kontaminasi tikus.

6. Diagnosis HFRS

ilustrasi pasien dirawat di rumah sakit (freepik.com/freepik)

Diagnosis biasanya mempertimbangkan:

  • Gejala klinis.

  • Riwayat paparan hewan pengerat.

  • Pemeriksaan darah.

  • Tes laboratorium spesifik hantavirus.

Pemeriksaan darah dapat menunjukkan:

  • Trombosit rendah.

  • Gangguan fungsi ginjal.

  • Tanda inflamasi sistemik.

Karena gejalanya bisa menyerupai penyakit lain, diagnosis sering membutuhkan evaluasi laboratorium lebih lanjut.

7. Apakah ada obat untuk HFRS?

Hingga kini belum ada terapi antivirus yang benar-benar menjadi standar definitif untuk semua kasus HFRS.

Beberapa penelitian mengevaluasi penggunaan ribavirin, tetapi efektivitasnya bervariasi tergantung jenis virus dan waktu pemberian. Karena itu, penanganan utama tetap berupa perawatan suportif.

Fokus penanganannya adalah menjaga fungsi organ. Pasien mungkin membutuhkan:

  • Cairan intravena.

  • Pemantauan tekanan darah.

  • Koreksi elektrolit.

  • Dialisis jika ginjal gagal bekerja optimal.

Deteksi dini sangat penting karena komplikasi bisa berkembang cepat.

8. Cara mencegah HFRS

1. Kendalikan paparan tikus

Langkah paling penting adalah mengurangi kontak dengan tikus dan lingkungan yang terkontaminasi.

Beberapa langkah yang direkomendasikan:

  • Simpan makanan dalam wadah tertutup.

  • Tutup celah masuk tikus.

  • Buang sampah dengan benar.

  • Jaga kebersihan area penyimpanan.

2. Jangan menyapu debu kotoran tikus kering

Jangan langsung menyapu area yang terkontaminasi atau membersihkannya dengan vakum secara kering karena membuat partikel virus beterbangan.

Yang disarankan adalah menggunakan sarung tangan, semprot disinfektan, diamkan selama beberapa menit, lalu bersihkan dengan hati-hati dengan alat pelindung diri.

3. Gunakan alat pelindung diri saat membersihkan area berisiko

Pada area dengan kemungkinan kontaminasi tinggi, penggunaan masker dan ventilasi baik sangat membantu mengurangi risiko inhalasi partikel.

HFRS adalah penyakit akibat hantavirus yang dapat menyebabkan demam berat, gangguan pembuluh darah, hingga kerusakan ginjal serius. Penularannya paling sering terjadi melalui paparan urine, kotoran, atau air liur tikus yang terkontaminasi virus.

Yang membuat HFRS menantang adalah gejalanya sering menyerupai infeksi lain pada tahap awal, sehingga mudah terlewat. Padahal, komplikasi pada ginjal dan sistem sirkulasi dapat berkembang cepat bila tidak dikenali sejak dini.

Meski belum ada terapi spesifik yang benar-benar menyembuhkan HFRS, tetapi banyak kasus dapat ditangani lebih baik dengan diagnosis cepat, perawatan suportif yang tepat, dan menerapkan langkah-langkah pencegahan yang konsisten.

Referensi

Patel, A., Patel, N. and Patel, J.K. (2024). "Hantavirus Disease." In Rising Contagious Diseases (eds S.K. Amponsah, R. Shegokar and Y.V. Pathak). https://doi.org/10.1002/9781394188741.ch10.

Sima Singh et al., “Epidemiology, Virology and Clinical Aspects of Hantavirus Infections: An Overview,” International Journal of Environmental Health Research 32, no. 8 (April 22, 2021): 1815–26, https://doi.org/10.1080/09603123.2021.1917527.

Colleen B. Jonsson, Luiz Tadeu Moraes Figueiredo, and Olli Vapalahti, “A Global Perspective on Hantavirus Ecology, Epidemiology, and Disease,” Clinical Microbiology Reviews 23, no. 2 (April 1, 2010): 412–41, https://doi.org/10.1128/cmr.00062-09.

Detlev H. Kruger et al., “Hantaviruses—Globally Emerging Pathogens,” Journal of Clinical Virology 64 (October 20, 2014): 128–36, https://doi.org/10.1016/j.jcv.2014.08.033.

Centers for Disease Control and Prevention. "About Hantaviruses." Diakses Mei 2026.

Centers for Disease Control and Prevention. "Cleaning Up After Rodents." Diakses Mei 2026.

Antti Vaheri et al., “Uncovering the Mysteries of Hantavirus Infections,” Nature Reviews Microbiology 11, no. 8 (July 16, 2013): 539–50, https://doi.org/10.1038/nrmicro3066.

World Health Organization. "Hantavirus Fact Sheet." Diakses Mei 2026.

T. Avšič-Županc, A. Saksida, and M. Korva, “Hantavirus Infections,” Clinical Microbiology and Infection 21 (June 24, 2013): e6–16, https://doi.org/10.1111/1469-0691.12291.

Editorial Team

Related Article