Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Apakah Ada Vaksin untuk Hantavirus?

Apakah Ada Vaksin untuk Hantavirus?
ilustrasi pasien dirawat di rumah sakit akibat infeksi hantavirus (magnific.com/freepik)
Intinya Sih
Sisi Positif
  • Hantavirus ditularkan dari tikus liar dan dapat menyebabkan penyakit berat dengan tingkat kematian tinggi, meski kasusnya jarang.

  • Sampai kini belum ada vaksin hantavirus yang diakui secara global; China dan Korea Selatan memiliki vaksin lokal, namun efektivitas jangka panjangnya masih diperdebatkan.

  • Penelitian vaksin DNA dan mRNA menunjukkan hasil awal menjanjikan, tetapi pencegahan utama tetap menghindari paparan hewan pengerat melalui kebersihan lingkungan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Hantavirus tidak "sepopuler" influenza, COVID-19, atau dengue. Namun, saat kasusnya muncul apalagi sampai menyebabkan kematian, para ahli langsung meresponsnya dengan serius. Alasannya karena hantavirus dapat menyebabkan penyakit berat dengan tingkat fatalitas yang tidak kecil, terutama jika terlambat didiagnosis.

Dalam beberapa dekade terakhir, vaksin adalah salah satu senjata paling efektif untuk mencegah penyakit infeksi. Namun, tidak semua virus memiliki jalur pengembangan vaksin yang sama cepat atau mudah. Hantavirus adalah salah satu contohnya.

Jadi, apakah ada vaksin hantavirus? Jawabannya ada kandidat vaksin dan beberapa vaksin terbatas yang sudah digunakan di negara tertentu, tetapi sampai sekarang belum ada vaksin hantavirus yang tersedia secara global dan direkomendasikan secara luas oleh otoritas kesehatan internasional seperti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Untuk memahami alasannya, penting memahami dulu apa itu hantavirus dan mengapa pengembangan vaksinnya tidak sesederhana yang kamu bayangkan.

Table of Content

Sekilas tentang hantavirus dan kenapa virus ini dianggap berbahaya

Sekilas tentang hantavirus dan kenapa virus ini dianggap berbahaya

Hantavirus adalah kelompok virus dari keluarga Hantaviridae yang ditularkan terutama melalui hewan pengerat, terutama tikus liar. Manusia biasanya tertular ketika menghirup partikel udara yang terkontaminasi urine, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi. Dalam kasus lebih jarang, penularan juga bisa terjadi melalui gigitan atau kontak langsung dengan ekskresi hewan terinfeksi.

Begitu masuk ke dalam tubuh, beberapa strain hantavirus dapat menyebabkan dua penyakit berat, yaitu hemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS) yang banyak ditemukan di Asia dan Eropa, serta hantavirus pulmonary syndrome (HPS) yang lebih sering ditemukan di benua Amerika. Keduanya dapat berkembang cepat dan berujung fatal.

Yang membuat hantavirus mengkhawatirkan adalah tingkat keparahannya. Beberapa tipe HPS memiliki angka kematian sekitar 30–40 persen, meski kasusnya relatif jarang. Infeksi dapat dimulai seperti flu biasa, seperti demam, nyeri otot, lemas, tetapi pada sebagian pasien bisa berkembang cepat menjadi gangguan pernapasan berat atau gagal ginjal.

Apakah sudah ada vaksin untuk hantavirus?

Ilustrasi penularan hantavirus dari tikus ke manusia melalui udara, menampilkan partikel virus dan organ paru-paru manusia.
ilustrasi penyebaran hantavirus (commons.wikimedia.org/Manu5)

Jawaban singkatnya, belum ada yang tersedia secara global.

Sampai sekarang, belum ada vaksin hantavirus yang disetujui secara luas oleh badan regulator besar. Artinya, kalau kamu mendatangani klinik atau rumah sakit dan menanyakan ketersediaan vaksin hantavirus, jawabannya hampir pasti tidak.

Namun, bukan berarti ilmuwan belum berhasil membuat vaksin. Di beberapa negara sudah ada vaksin lokal, walaupun efektivitas dan cakupan perlindungannya masih menjadi bahan evaluasi ilmiah.

China telah menggunakan vaksin hantavirus inaktif sejak awal 1990-an, terutama untuk mencegah HFRS yang disebabkan strain Hantaan virus dan Seoul virus. Vaksin ini diberikan pada populasi berisiko tinggi, seperti pekerja pertanian atau militer.

Korea Selatan juga mengembangkan vaksin bernama Hantavax, salah satu vaksin hantavirus komersial pertama di dunia. Vaksin ini ditujukan terutama untuk pencegahan HFRS.

Meski demikian, efektivitas jangka panjang kedua vaksin ini masih diperdebatkan. Beberapa studi menunjukkan antibodi protektif memang terbentuk, tetapi durasi perlindungannya tidak selalu optimal, dan data efektivitas populasi masih bervariasi. Karena itu, vaksin-vaksin ini belum menjadi standar global.

Kenapa belum ada haksin vantavirus yang universal?

Beberapa alasan belum ada haksin vantavirus yang universal di antaranya:

  • Hantavirus bukan satu virus tunggal

Salah satu tantangan utama adalah hantavirus terdiri dari banyak strain.

Hantaan virus, Seoul virus, Puumala virus, Andes virus, dan Sin Nombre virus adalah beberapa contohnya, masing-masing memiliki distribusi geografis dan karakteristik penyakit yang berbeda.

Membuat satu vaksin yang mampu melindungi terhadap semua strain ini jauh lebih kompleks dibanding membuat vaksin untuk virus yang relatif stabil.

  • Kasus relatif jarang, tetapi berat

Beda dengan influenza atau COVID-19, hantavirus tergolong langka. Dari perspektif pengembangan farmasi, ini membuat investasi vaksin menjadi lebih sulit. Uji klinis skala besar perlu biaya tinggi, sementara jumlah populasi target terbatas.

Paradoksnya, meski kasusnya sedikit, tetapi tingkat keparahannya membuat kebutuhan vaksin tetap penting, terutama bagi kelompok berisiko tinggi.

  • Respons imun yang belum benar-benar dipahami

Para ilmuwan masih mempelajari jenis respons imun apa yang paling efektif melindungi manusia dari hantavirus. Apakah antibodi netralisasi saja cukup? Apakah perlu respons sel T yang kuat? Berapa lama proteksi harus bertahan?

Pertanyaan-pertanyaan ini sangat penting karena akan menentukan desain vaksin yang optimal.

Bagaimana perkembangan penelitian vaksin hantavirus?

Seorang peneliti mengenakan jas laboratorium, masker, dan sarung tangan biru sedang meneliti sampel di laboratorium modern.
ilustrasi penelitian vaksin di laboratorium (pexels.com/Edward Jenner)

Salah satu pendekatan yang banyak diteliti adalah vaksin DNA, yaitu vaksin yang membawa materi genetik untuk memicu tubuh memproduksi protein virus dan membangun respons imun.

Beberapa uji klinis fase awal menunjukkan hasil menjanjikan untuk kandidat vaksin DNA terhadap Hantaan virus dan Puumala virus. Respons antibodi terdeteksi, dan profil keamanannya cukup baik. Namun, penelitian masih berlanjut untuk memastikan efektivitas nyata dalam mencegah infeksi.

Setelah keberhasilan vaksin mRNA pada pandemi COVID-19, banyak peneliti mulai mengeksplorasi teknologi serupa untuk penyakit lain, termasuk hantavirus.

Secara teori, mRNA memungkinkan pengembangan vaksin lebih cepat dan fleksibel terhadap berbagai strain. Meski masih berada pada tahap praklinis atau penelitian awal, platform ini dianggap sebagai salah satu harapan vaksin hantavirus di masa depan.

Cara mencegah hantavirus

Saat ini, pencegahan utama tetap menghindari paparan hewan pengerat. Langkah yang direkomendasikan meliputi:

  • Menutup celah masuk tikus di rumah.
  • Menyimpan makanan dalam wadah tertutup.
  • Membersihkan area yang mungkin terkontaminasi dengan disinfektan, bukan disapu kering.
  • Menggunakan sarung tangan dan masker saat membersihkan gudang, loteng, atau area tertutup lama.

Langkah-langkah di atas penting karena banyak kasus terjadi bukan karena kontak langsung dengan tikus, melainkan karena seseorang menghirup partikel virus yang beterbangan saat membersihkan area terkontaminasi.

Sampai detik ini belum ada vaksin hantavirus yang tersedia secara global. Beberapa vaksin lokal memang sudah digunakan di China dan Korea Selatan, tetapi belum menjadi standar internasional. Penelitian vaksin generasi baru memberi harapan, tetapi masih butuh waktu sebelum bisa digunakan secara luas.

Sementara itu, perlindungan terbaik tetap dengan mengenali risiko, mencegah paparan hewan pengerat, dan memahami bahwa penyakit langka bukan berarti bisa diabaikan.

Referensi

CDC. "About Hantavirus." Diakses Mei 2026.

WHO. "Hantavirus Overview." Diakses Mei 2026.

NIH/NIAID. "Hantavirus Pulmonary Syndrome." Diakses Mei 2026.

Rongrong Liu et al., “Vaccines and Therapeutics Against Hantaviruses,” Frontiers in Microbiology 10 (January 30, 2020): 2989, https://doi.org/10.3389/fmicb.2019.02989.

Tong Chen et al., “Advances and Perspectives in the Development of Vaccines Against Highly Pathogenic Bunyaviruses,” Frontiers in Cellular and Infection Microbiology 13 (May 18, 2023): 1174030, https://doi.org/10.3389/fcimb.2023.1174030.

Adnan Khan et al., “A Systems Vaccinology Approach Reveals the Mechanisms of Immunogenic Responses to Hantavax Vaccination in Humans,” Scientific Reports 9, no. 1 (March 18, 2019): 4760, https://doi.org/10.1038/s41598-019-41205-1.

CDC. "Yellow Book – Hantavirus." Diakses Mei 2026.

Grant C Paulsen et al., “Safety and Immunogenicity of an Andes Virus DNA Vaccine by Needle-Free Injection: A Randomized, Controlled Phase 1 Study,” The Journal of Infectious Diseases 229, no. 1 (June 27, 2023): 30–38, https://doi.org/10.1093/infdis/jiad235.

Norbert Pardi and Florian Krammer, “mRNA Vaccines for Infectious Diseases — Advances, Challenges and Opportunities,” Nature Reviews Drug Discovery 23, no. 11 (October 4, 2024): 838–61, https://doi.org/10.1038/s41573-024-01042-y.

Evans Ifebuche Nnamani et al., “Vaccines Against Hantavirus Disease: Strategies, Outcomes, and Future Directions,” in Global Virology V: 21st Century Vaccines and Viruses (Springer Nature Switzerland AG, 2025), 781–810, https://doi.org/10.1007/978-3-031-77911-4_32.

Muhammad Tahir Ul Qamar et al., “Editorial: Immunotherapeutics Development Against Hantaviruses,” Frontiers in Immunology 15 (February 7, 2024): 1377137, https://doi.org/10.3389/fimmu.2024.1377137.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Related Articles

See More