- Oksigen tambahan diberikan segera untuk mengatasi hipoksia.
- Ventilator mekanis atau intubasi dipakai bila paru‑paru terisi cairan dan pasien tidak bisa bernapas sendiri.
- Terapi cairan intravena dilakukan hati‑hati: cukup untuk menjaga tekanan darah, tetapi tidak berlebihan agar tidak menambah cairan di paru.
- Obat suportif seperti vasopresor mungkin bisa digunakan untuk menjaga tekanan darah bila terjadi syok.
Apa Itu Hantavirus Pulmonary Syndrome?

- Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) adalah infeksi langka yang berkembang cepat, diawali gejala mirip flu lalu dapat menyebabkan kerusakan paru dan jantung akibat kebocoran pembuluh darah kecil.
- Penularan terjadi saat seseorang menghirup partikel virus dari urine, kotoran, atau air liur tikus yang terkontaminasi di udara; pencegahan utama adalah menghindari kontak dengan hewan pengerat.
- Tidak ada obat spesifik untuk HPS; perawatan fokus pada dukungan pernapasan intensif, dengan tingkat kematian global sekitar 35–50 persen tergantung jenis virus dan wilayah.
Hantavirus pulmonary syndrome (HPS) merupakan penyakit infeksi langka yang bisa berkembang sangat cepat dan berbahaya.
Pada tahap awal penyakit biasanya gejalanya mirip flu, seperti demam, nyeri otot, dan tubuh terasa lemas. Namun dalam waktu singkat, kondisi pasien bisa memburuk hingga menyebabkan gangguan serius pada paru-paru dan jantung.
Penyakit ini disebabkan oleh beberapa strain hantavirus yang dibawa oleh hewan pengerat, terutama tikus. Penularan umumnya terjadi ketika seseorang menghirup partikel virus yang berasal dari urine, kotoran, atau air liur tikus yang mengering dan bercampur di udara.
Karena pilihan pengobatan untuk HPS masih terbatas, pencegahan menjadi langkah paling penting. Menghindari kontak dengan tikus serta membersihkan area yang terkontaminasi dengan cara aman menjadi kunci untuk menurunkan risiko infeksi.
Table of Content
Gejala awalnya mirip flu
Gejala HPS biasanya muncul sekitar 2–3 minggu setelah seseorang terpapar virus. Pada tahap awal, penyakit ini sering sulit dikenali karena keluhannya mirip flu.
Beberapa gejala yang paling sering dilaporkan antara lain demam, menggigil, nyeri otot, dan sakit kepala. Sebagian pasien juga dapat mengalami mual, sakit perut, muntah, hingga diare.
Namun, seiring perkembangan penyakit, kondisi bisa memburuk dengan cepat. Virus bisa merusak jaringan paru-paru dan menyebabkan penumpukan cairan di paru, sehingga mengganggu fungsi pernapasan dan jantung.
Pada tahap lanjut, pasien dapat mengalami batuk, sesak napas, tekanan darah rendah, hingga detak jantung tidak teratur. Karena itu, gejala yang tampak seperti flu tetapi memburuk secara cepat perlu diwaspadai, terutama jika ada riwayat paparan tikus atau lingkungan yang terkontaminasi.
Virus penyebab dibawa oleh tikus

HPS muncul akibat infeksi hantavirus yang hidup secara alami pada berbagai spesies tikus dan hewan pengerat di seluruh dunia. Virus ini keluar bersama urine, kotoran, atau air liur hewan, lalu dapat terhirup sebagai partikel mikroskopis ketika lingkungan yang terkontaminasi dibersihkan atau terganggu.
Begitu masuk ke tubuh manusia, hantavirus menyerang sel endotel pembuluh darah kecil di paru‑paru, membuat dindingnya bocor sehingga cairan merembes ke alveoli. Akibatnya, paru‑paru terisi cairan, penderita mengalami sesak napas berat, batuk kering, hipoksia, hingga gagal napas yang bisa berujung fatal.
Di Amerika Utara, Sin Nombre virus dari tikus rusa adalah penyebab utama HPS, sementara di Amerika Selatan Andes virus menimbulkan kasus dengan potensi penularan antar manusia.
Di Asia, hantavirus seperti Hantaan dan Seoul virus lebih sering dikaitkan dengan hemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS), tetapi beberapa laporan menunjukkan gejala paru yang mirip HPS.
Di Eropa, Puumala dan Dobrava virus juga menimbulkan infeksi hantavirus dengan spektrum klinis yang bisa melibatkan paru maupun ginjal. Bahkan di Afrika, hantavirus telah diidentifikasi pada hewan pengerat lokal meski kasus manusia jarang dilaporkan.
Pengobatan
Tidak ada obat spesifik untuk HPS. Penanganan berfokus pada perawatan suportif intensif di rumah sakit agar pasien bisa bertahan sampai tubuh melawan infeksi. Begitu gejala berat muncul, terutama sesak napas, pasien biasanya membutuhkan perawatan secara intensif dengan dukungan oksigen atau bahkan ventilator mekanis.
Setelah seseorang terinfeksi, hantavirus menyerang pembuluh darah kecil di paru‑paru dan menyebabkan kebocoran cairan. Karena itu, terapi utama adalah menjaga fungsi pernapasan dan sirkulasi:
Tingkat keberhasilan bertahan hidup pasien

Tingkat HPS cukup tinggi, rata‑rata sekitar 35–40 persen, sementara tingkat keberhasilan bertahan hidup berkisar 60–65 persen jika pasien mendapat perawatan intensif. Angka ini bervariasi menurut jenis virus dan lokasi.
Misalnya, kasus Sin Nombre virus menunjukkan mortalitas 25–35 persen, sedangkan pada kasus Andes virus bisa mencapai 40–50 persen.
Menurut laporan CDC, HPS fatal pada hampir 4 dari 10 orang yang terinfeksi.
Menurut IFRC Epidemic Control Toolkit (2025), case fatality ratio (CFR) HPS diperkirakan 35–50 persen, dengan variasi antarnegara di Amerika (Argentina, Bolivia, Brasil, Cile, Paraguay, Panama, Uruguay, Venezuela, dan AS).
Sebuah studi pada pasien di Panama dan AS menunjukkan mortalitas 25–35 persen untuk sebagian besar hantavirus, tetapi hanya 10–16 persen pada kasus Panama yang disebabkan oleh Choclo virus, menandakan variasi strain memengaruhi outcome.
Literatur lain menyebut tingkat mortalitas HPS bisa mencapai 40 persen, terutama pada kasus Andes virus di Amerika Selatan.
Ringkasan global:
- Amerika Utara (Sin Nombre virus): Mortalitas 25–35 persen.
- Amerika Selatan (Andes virus): Mortalitas 35–50 persen, dengan risiko penularan antarmanusia.
- Panama (Choclo virus): Mortalitas lebih rendah, sekitar 10–16 persen, meski insidensinya tinggi.
- Asia/Eropa (Hantaan, Puumala, Dobrava): Lebih sering menyebabkan HFRS, dengan mortalitas lebih rendah (1–15 persen), tetapi beberapa kasus paru mirip HPS juga dilaporkan.
Karena HPS dapat berkembang cepat dan berisiko fatal, penting untuk mengenali gejalanya sejak dini serta menghindari paparan tikus dan lingkungannya. Menjaga kebersihan rumah dan menggunakan perlindungan saat membersihkan area yang terkontaminasi menjadi langkah penting untuk mencegah infeksi.
Referensi
Ryan ET, et al., eds. Viral hemorrhagic fevers. In: Hunter's Tropical Medicine and Emerging Infectious Diseases. 10th ed. Elsevier; 2020.
Bauerfeind R, et al., eds. Zoonoses caused by bunyaviruses. In: Zoonoses: Infectious Diseases Transmissible from Animals to Humans. 4th ed. ASM Press; 2016.
Bennett JE, et al. California encephalitis, hantavirus pulmonary syndrome, hantavirus hemorrhagic fever with renal syndrome, and bunyavirus hemorrhagic fevers. In: Mandell, Douglas, and Bennett's Principles and Practice of Infectious Diseases. 9th ed. Elsevier; 2020.
"Hantavirus pulmonary syndrome". Mayo Clinic. Diakses pada Mei 2026.
"Clinician Brief: Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS)." CDC. Diakses pada Mei 2026.
"Hantavirus Pulmonary Syndrome." IFRC Epidemic Control Toolkit. Diakses pada Mei 2026.
Fernando Gracia et al., “Convalescent Pulmonary Dysfunction Following Hantavirus Pulmonary Syndrome in Panama and the United States,” Lung 188, no. 5 (June 3, 2010): 387–91, https://doi.org/10.1007/s00408-010-9245-4.
Ross A. Moore and David Griffen, “Hantavirus Pulmonary Syndrome,” StatPearls - NCBI Bookshelf, April 20, 2024, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK513243/.


![[QUIZ] Cara Kamu Marah Bisa Menentukan Jenis Journaling yang Pas](https://image.idntimes.com/post/20251122/22670_c18ffed2-c73c-472f-bdf1-6996137fefdf.jpg)


![[QUIZ] Dari Karakter Upin & Ipin, Kami Tahu Kamu Sekadar Capek atau Mulai Stres](https://image.idntimes.com/post/20250602/img-20250602-232248-a4e4cddefdae713cd1a3efe97f21f1d1-10d0d970fe707292815711bf6b95b641.jpg)





![[QUIZ] Kamu Lebih Cocok Lari Sendiri atau Bareng?](https://image.idntimes.com/post/20241023/1000144639-3159a2704e4b6062c72c7e3be406df32-50153375959c0484954342b8f037de34.jpg)







![[QUIZ] Dari Racikan Kopi Favoritmu, Ini Bahasa Self-Care Kamu](https://image.idntimes.com/post/20260301/14261_c52d3435-ca1f-41bf-b64f-c05fdd79b7d4.jpg)