Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Apa yang Terjadi Jika Kamu Sering Menghabiskan Kuah Mi Instan?
ilustrasi mi instan rebus (unsplash.com/Mufid Majnun)
  • Kuah mi instan biasanya mengandung natrium sangat tinggi, yang dapat meningkatkan tekanan darah dan menyebabkan retensi cairan.

  • Konsumsi natrium berlebihan secara rutin dapat meningkatkan risiko hipertensi, penyakit jantung, dan gangguan ginjal.

  • Mi instan masih dapat dinikmati dengan cara lebih sehat, seperti mengurangi bumbu, menambahkan sayuran, dan membatasi konsumsi kuahnya.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Tentu kamu sudah kenal dengan praktis dan gurihnya mi instan. Jika kamu senang mi instan rebus, rasanya belum lengkap ya jika belum menghabiskan kuahnya hingga tetes terakhir?

Faktanya, kuah mi instan sebenarnya merupakan bagian yang paling kaya natrium dari hidangan tersebut. Bumbu yang larut dalam kuah mengandung garam, penyedap rasa, serta berbagai senyawa lain yang memberi rasa gurih kuat.

Ketika kebiasaan menghabiskan kuah ini dilakukan terlalu sering, tubuh bisa menerima beban natrium (sodium load) yang cukup besar. Beban ini memicu serangkaian respons biologis yang dapat memengaruhi tekanan darah, keseimbangan cairan, dan kesehatan jantung dalam jangka panjang.

Mi instan kuah tinggi natrium

Sebagian besar mi instan mengandung natrium dalam jumlah tinggi karena garam dan penyedap digunakan untuk meningkatkan rasa.

Rekomendasi Kemenkes RI, batas konsumsi garam per orang per hari adalah 2.000 miligram natrium, yang setara dengan 1 sendok teh (sdt) atau 5 gram garam.

Satu porsi mi instan dapat mengandung 1.500–2.000 mg natrium, terutama dalam bumbunya. Ketika kamu menghabiskan kuah mi rebus sampai tetesan terahir, hampir semua natrium tersebut masuk ke dalam tubuh.

Konsumsi natrium yang tinggi berkaitan erat dengan peningkatan tekanan darah dan risiko penyakit kardiovaskular.

1. Sodium load: tubuh mendapat asupan garam berlebihan

ilustrasi makan mi instan rebus (vecteezy.com/Piti Petdum)

Ketika natrium dalam jumlah besar masuk ke dalam tubuh, keseimbangan elektrolit dalam darah berubah.

Tubuh membutuhkan natrium untuk berbagai fungsi, termasuk transmisi saraf dan keseimbangan cairan. Namun, kelebihan natrium memaksa tubuh bekerja lebih keras untuk menjaga keseimbangan tersebut.

Ginjal harus menyaring natrium tambahan dan mengeluarkannya melalui urine. Jika asupan natrium terus-menerus tinggi, kemampuan tubuh untuk mengatur keseimbangan ini bisa terganggu.

2. Tekanan darah bisa naik

Natrium berhubungan erat dengan tekanan darah.

Ketika kadar natrium dalam darah meningkat, tubuh cenderung menahan lebih banyak air untuk menjaga keseimbangan konsentrasi garam. Volume darah yang meningkat dapat menyebabkan tekanan darah naik.

Penelitian menunjukkan bahwa konsumsi natrium yang tinggi berkaitan dengan peningkatan risiko hipertensi dan penyakit jantung.

Hipertensi yang tidak terkontrol dalam jangka panjang dapat merusak pembuluh darah dan meningkatkan risiko stroke serta penyakit jantung.

3. Retensi cairan dan rasa kembung

ilustrasi bumbu mi instan (commons.wikimedia.org/AUMOON menkee DAVISHOr LOK)

Mengonsumsi makanan tinggi natrium juga dapat menyebabkan retensi cairan, yaitu kondisi ketika tubuh menahan lebih banyak air dari biasanya.

Gejalanya bisa meliputi:

  • Rasa kembung.

  • Wajah atau tangan tampak sedikit bengkak.

  • Rasa haus berlebihan.

Retensi cairan merupakan respons tubuh untuk menyeimbangkan kadar natrium dalam darah.

4. Beban tambahan bagi ginjal

Tugas utama ginjal adalah menyaring limbah dan menjaga keseimbangan cairan serta elektrolit dalam tubuh.

Asupan natrium yang terus-terusan tinggi dapat meningkatkan beban kerja ginjal. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat berkontribusi terhadap risiko penyakit ginjal.

Pola makan tinggi garam dapat memperburuk tekanan darah dan kesehatan ginjal.

5. Risiko kesehatan jangka panjang

ilustrasi mie instan (vecteezy.com/Tomy Ardiansyah)

Jika kebiasaan mengonsumsi natrium tinggi berlangsung terus-menerus, risiko kesehatan yang mungkin meningkat antara lain:

  • Hipertensi.

  • Penyakit jantung.

  • Stroke.

  • Penyakit ginjal kronis.

Penelitian epidemiologis menunjukkan bahwa konsumsi natrium berlebih merupakan salah satu faktor risiko penting penyakit kardiovaskular.

Cara makan mi Instan secara lebih sehat

Mi instan tidak harus sepenuhnya dihindari. Dengan beberapa penyesuaian sederhana, hidangan ini bisa menjadi lebih seimbang.

  • Kurangi bumbu atau kuah

Gunakan hanya setengah bumbu atau tidak menghabiskan kuah dapat secara signifikan mengurangi asupan natrium.

  • Tambahkan sayuran

Menambahkan sayuran seperti bayam, sawi, brokoli, kangkung, atau jamur dapat meningkatkan kandungan serat dan vitamin.

  • Tambahkan sumber protein

Telur, tahu, atau daging ayam lemak dapat membantu membuat hidangan lebih seimbang dan mengenyangkan.

  • Batasi frekuensi konsumsinya

Mi instan sebaiknya tidak menjadi makanan utama sehari-hari, melainkan dikonsumsi sesekali.

Cara menurunkan kolesterol

ilustrasi seated dumbbell shoulder press (pexels.com/Furkan Elveren)

Karena mi instan juga dapat mengandung lemak dan karbohidrat olahan, penting untuk menjaga kesehatan metabolik secara keseluruhan.

Beberapa langkah yang dapat membantu menurunkan kolesterol antara lain:

  • Konsumsi makanan tinggi serat

Serat larut dari makanan seperti oatmeal, kacang-kacangan, dan buah dapat membantu menurunkan LDL. Penelitian menunjukkan bahwa serat larut dapat mengurangi penyerapan kolesterol.

  • Pilih lemak sehat

Mengganti lemak jenuh dengan lemak tak jenuh dari ikan, kacang, dan minyak zaitun dapat memperbaiki profil lipid.

  • Rutin beraktivitas fisik

Olahraga membantu meningkatkan kolesterol HDL dan menurunkan trigliserida.

  • Menjaga berat badan sehat

Penurunan berat badan pada individu yang kelebihan berat badan dapat menurunkan kadar LDL secara signifikan.

Kapan perlu menemui dokter?

Konsultasi dengan dokter dianjurkan jika:

  • Tekanan darah sering tinggi.

  • Kadar kolesterol total ≥240 mg/dL.

  • Memiliki riwayat penyakit jantung dalam keluarga.

  • Mengalami pembengkakan atau gejala terkait retensi cairan.

Pemeriksaan darah secara berkala dapat membantu mendeteksi masalah kesehatan sejak dini.

Kebiasaan menghabiskan kuah mi instan dapat meningkatkan asupan natrium secara signifikan. Natrium berlebih dapat memicu peningkatan tekanan darah, retensi cairan, serta memberikan beban tambahan bagi jantung dan ginjal.

Nikmatilah mi instan sesekali dan perhatian cara penyajiannya. Jangan menghabiskan kuah, batasi penggunaan bumbu, serta tambahkan sayuran dan protein dapat membantu membuat hidangan ini lebih seimbang.

Referensi

Dariush Mozaffarian et al., “Global Sodium Consumption and Death From Cardiovascular Causes,” New England Journal of Medicine 371, no. 7 (August 13, 2014): 624–34, https://doi.org/10.1056/nejmoa1304127.

Feng J. He et al., “Salt Reduction to Prevent Hypertension and Cardiovascular Disease,” Journal of the American College of Cardiology 75, no. 6 (February 1, 2020): 632–47, https://doi.org/10.1016/j.jacc.2019.11.055.

Lisa Brown et al., “Cholesterol-lowering Effects of Dietary Fiber: A Meta-analysis,” American Journal of Clinical Nutrition 69, no. 1 (January 1, 1999): 30–42, https://doi.org/10.1093/ajcn/69.1.30.

World Health Organization. “Salt Reduction.” Diakses Maret 2026.

National Kidney Foundation. “Sodium and Your Health.” Diakses Maret 2026.

Editorial Team