Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Apakah Gangguan Bipolar Cuma Dialami Orang Dewasa?
Ilustrasi orang dengan gangguan mental bipolar (freepik.com/freepik)
  • Gangguan bipolar tidak hanya dialami orang dewasa; anak-anak dan remaja juga bisa mengalaminya, meski gejalanya sering disalahartikan sebagai perubahan emosi biasa atau stres masa pubertas.
  • Tanda awal bipolar pada anak meliputi perubahan energi, pola tidur, suasana hati, bicara, dan konsentrasi yang signifikan sehingga perlu perhatian khusus dari orang tua dan tenaga kesehatan.
  • Deteksi dini serta dukungan keluarga melalui rutinitas stabil, terapi konsisten, dan komunikasi dengan sekolah dapat membantu mencegah episode berat serta memperkuat ketahanan emosional anak.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Artikel ini menunjukkan kemajuan penting dalam pemahaman tentang gangguan bipolar pada anak dan remaja. Dengan penjelasan rinci mengenai gejala, faktor risiko, serta strategi penanganan dini, artikel ini menyoroti peluang bagi keluarga dan tenaga kesehatan untuk memberikan dukungan yang lebih tepat. Pendekatan ini memperkuat kesadaran, empati, dan ketahanan emosional sejak usia muda.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Ketika mendengar istilah gangguan bipolar, banyak orang langsung membayangkan orang dewasa yang mengalami perubahan suasana hati yang ekstrem. Pandangan ini cukup umum karena pembahasan tentang bipolar memang lebih sering dikaitkan dengan orang yang sudah dewasa.

Padahal, gangguan bipolar tidak hanya terjadi pada orang dewasa. Anak-anak dan remaja juga bisa mengalami kondisi ini, meskipun gejalanya sering kali terlihat berbeda dan lebih sulit dikenali. Karena itulah, bipolar pada usia muda kerap tidak terdeteksi sejak dini atau bahkan disalahartikan sebagai perubahan emosi yang dianggap wajar.

1. Apakah gangguan bipolar hanya terjadi pada orang dewasa?

Tidak, gangguan bipolar tidak hanya terjadi pada orang dewasa; gangguan ini dapat memengaruhi anak-anak dan remaja, meskipun lebih jarang dan lebih sulit didiagnosis pada orang yang lebih muda.

Kesalahpahaman ini muncul karena gejala seringkali pertama kali muncul di akhir masa remaja atau awal masa dewasa (rata-rata onset sekitar usia 25 tahun), tetapi penelitian menunjukkan hingga dua pertiga orang dewasa dengan gangguan bipolar mengingat tanda-tanda awal di masa kanak-kanak, seperti iritabilitas ekstrem, perubahan suasana hati yang cepat, atau hiperaktivitas berkepanjangan yang disalahartikan sebagai ADHD.

Pada anak-anak, gangguan bipolar bermanifestasi berbeda—ledakan emosi yang sering dan intens, keadaan suasana hati campuran (mania dan depresi bersamaan), dan agresi daripada euforia klasik yang terlihat pada orang dewasa. Prevalensi pada anak muda sekitar 1-3 persen, meningkat seiring dengan riwayat keluarga. Intervensi dini dengan terapi dan pengobatan meningkatkan hasil, tetapi tumpang tindih dengan kondisi lain menunda pengenalan.

2. Tanda-tanda awal apa yang harus diperhatikan oleh orang tua

Gejala bipolar pada anak cenderung samar dan mudah dianggap sebagai perubahan suasana hati atau stres khas remaja. Berikut beberapa tanda yang paling umum:

  • Perubahan energi: Lebih hiperaktif dari biasanya atau tiba-tiba kekurangan energi.

  • Masalah tidur: Kesulitan tidur atau membutuhkan lebih sedikit tidur tanpa merasa lelah.

  • Perubahan suasana hati: Periode kegembiraan atau iritabilitas yang tinggi yang tidak sampai ke mania.

  • Perubahan bicara: Berbicara lebih banyak atau lebih cepat dari biasanya.

  • Perubahan konsentrasi: Mudah teralihkan atau memiliki pikiran yang berpacu.

3. Mengapa tanda-tanda awal sulit dideteksi

ilustrasi peran keluarga dalam mendampingi anak dengan gangguan bipolar (pexels.com/cottonbro)

Banyak gejala awal gangguan bipolar terlihat seperti hanya naik turunnya suasana hati remaja yang normal. Pubertas juga memainkan peran besar dalam mempersulit diagnosis. Perubahan hormonal dapat meniru gejala suasana hati yang membuat semakin sulit membedakan gejala klinis dari gejala perkembangan.

Riwayat keluarga dapat menjadi petunjuk besar. Jika orang tua atau saudara kandung memiliki gangguan bipolar, ini meningkatkan kemungkinan anak mengalami hal yang sama pula.

4. Mengapa deteksi dini penting?

Mengenali tanda-tanda gangguan bipolar sejak dini bukan berarti buru-buru memberi label pada anak. Tujuan utamanya adalah agar orang tua dan tenaga kesehatan bisa bertindak lebih cepat sebelum kondisi anak berkembang menjadi krisis.

Dengan penanganan lebih awal, beberapa langkah sederhana, seperti mengurangi stres, menjaga pola makan yang sehat, dan memastikan anak memiliki pola tidur yang teratur dapat membantu menunda munculnya gejala yang lebih serius. Kurang tidur dalam jangka waktu tertentu bahkan diketahui bisa memicu episode mania pada sebagian orang.

Para ahli juga menjelaskan bahwa keluarga dapat belajar cara membantu anak mengelola stres, menjaga kebiasaan tidur yang sehat, serta mengenali tanda-tanda ketika kondisi emosional anak mulai memburuk. Pendekatan ini sangat penting karena penelitian menunjukkan adanya teori yang disebut “kindling”, yaitu makin sering seseorang mengalami episode perubahan suasana hati, makin besar kemungkinan episode tersebut akan terus berulang di kemudian hari.

Karena itu, jika seorang anak bisa dibantu untuk menunda atau bahkan menghindari episode bipolar pertama, perjalanan penyakitnya di masa depan bisa menjadi lebih ringan.

Selain itu, membangun ketahanan emosional (resilience) juga penting, yaitu dengan membantu anak memiliki keterampilan mengelola emosi sebelum mereka menghadapi situasi krisis. Pendekatan ini tidak hanya bersifat pencegahan, tetapi juga memberdayakan anak agar lebih siap menghadapi tantangan emosional dalam hidupnya.

5. Bagaimana orang tua dapat membantu anak dengan bipolar?

  • Pastikan anak mengikuti pengobatan secara konsisten. Bantulah anak minum obat sesuai resep dan menghadiri sesi terapi secara teratur, karena pengobatan yang tepat sangat penting untuk mengelola gejala bipolar.

  • Pantau kemungkinan efek samping obat. Beberapa obat bipolar dapat menyebabkan penambahan berat badan atau perubahan kadar gula darah dan kolesterol, jadi orang tua harus memperhatikan perubahan fisik atau perilaku dan memberi tahu dokter jika ada sesuatu yang tampak tidak biasa.

  • Buat rutinitas harian yang stabil. Menjaga jadwal teratur untuk tidur, makan, pekerjaan sekolah, dan aktivitas dapat membantu menstabilkan suasana hati dan mengurangi risiko perubahan suasana hati yang ekstrem.

  • Bekerja sama erat dengan sekolah anak. Berkomunikasilah dengan guru dan staf sekolah agar mereka memahami kondisi anak dan dapat memberikan dukungan yang sesuai, seperti istirahat tambahan atau penyesuaian sementara dalam pekerjaan sekolah.

  • Berikan dukungan emosional di rumah. Bersabarlah, dengarkan perasaan anak, dan cobalah untuk menciptakan lingkungan yang tenang dan pengertian di mana mereka merasa aman untuk membicarakan pengalaman mereka.

  • Pertimbangkan terapi keluarga. Konseling yang melibatkan seluruh keluarga dapat membantu semua orang lebih memahami gangguan bipolar dan meningkatkan komunikasi serta strategi mengatasi masalah.

Tanggapi tanda-tanda peringatan dengan serius. Jika anak menunjukkan tanda-tanda perubahan suasana hati yang parah, segera cari bantuan profesional dan pastikan keselamatan mereka.

Dengan memahami gangguan bipolar tidak hanya terjadi pada orang dewasa, orang tua dan masyarakat dapat lebih peka terhadap perubahan perilaku pada anak dan remaja. Deteksi dan penanganan yang tepat sejak dini sangat penting agar penderita bisa mendapatkan dukungan dan perawatan yang mereka butuhkan.

Referensi

Child Mind Institute. Diakses pada April 2026. "Early Signs of Bipolar Disorder in Teens."

Choosing Therapy. Diakses pada April 2026. "Bipolar Disorder Age of Onset & Why it Matters."

Palms Behavioral Health. Diakses pada April 2026. "10 Common Myth About Bipolar Disorder."

WebMD. Diakses pada April 2026. "Children and Teens With Bipolar Disorder."

Editorial Team